Beberapa saat yang lalu saya membaca artikel dan jurnal tentang pentingnya budaya, apalagi dalam sebuah organisasi. Tapi saya kemudian berpikir, bagaimana membangun budaya pribadi. Kesimpulannya sederhana, kita harus mempersiapkan semuanya sekarang.
Sekarang, karena kita telah memiliki tugas dan tanggung jawab. Tidak kita tunda karena urusan akan terus datang. Semakin mengulur waktu tidak akan ada keberhasilan apapun.
Sebuah ungkapan indah bisa jadi pelajaran. “Gagal mempersiapkan diri berarti mempersiapkan diri untuk gagal.” Jadi lebih baik siapkan semuanya dari sekarang.
Kuatkan
Salah satu langkah penting untuk mempersiapkan masa depan setiap orang adalah menguatkan karakter positif. Seperti disiplin.
Disiplin ini penting karena menyangkut hal yang akan menjadi kebiasaan kita, karakter dan tentu saja sikap dan kinerja. Orang yang disiplin artinya ia tidak saja sadar makna waktu, tapi juga pentingnya meraih progresifitas dalam hidup.
Kemudian tanggung jawab. Ini adalah tentang kesadaran untuk menyelesaikan tugas atau amanah sekecil apapun. Orang yang terbiasa bertanggung jawab akan mudah untuk mendapat kepercayaan. Kemudian seiring perjalanan waktu ia menjadi pribadi yang bisa mengatasi soal-soal yang menghadang.
Jika semua itu ada dalam diri seseorang, apalagi anak muda, ia pasti akan tumbuh menjadi pemimpin. Ia paham apa itu waktu, karena itu ia disiplin. Bahkan ia mengerti nilai dirinya ada pada tanggung jawab, karena itu ia selalu tuntas dan bagus dalam menjalankan amanah.
Teguhkan
Islam mendorong kita melakukan persiapan dalam banyak hal, terutama dalam kompetisi haq dan batil. Dahulu orang berperang dengan senjata, Islam memerintahkan kita menyiapkan kekuatan dari pasukan berkuda (QS. Al-Anfal: 60). Sekarang perang itu pada opini, maka kita harus mempersiapkan kecerdasan.
Dalam kata yang lain, siapa yang tekun membaca dan menulis lalu bergerak untuk mencerdaskan bangsa, maka ia telah melakukan persiapan yang sangat penting.
Langkah-langkah seperti itu harus kita perkuat, kita teguhkan bersama.
Lebih dalam Allah juga mendorong kita mempersiapkan pribadi untuk kehdiupan akhirat (QS. Al-Hasyir: 18). Hal ini mengindikasikan bahwa kita harus selalu siap dan mempersiapkan bekal. Sebab setelah dunia ada akhirat.
Jangan larut dalam duka karena ujian. Pun, tak perlu tenggelam dalam suka karena harta kekayaan yang semu dan sementara.*


