Jumat, 30 Januari 2026, saya mendapat amanah berharga. Dalam momen itu saya berbagi gagasan bersama santri Pesantren Hidayatullah Depok. Acara berlangsung selepas Maghrib hingga Isya. Suasananya hangat. Para santri menyimak dengan mata berbinar. Dan, sungguh malam itu terasa istimewa karena kami berbincang tentang Ramadhan dan makna manusia.
Ramadhan dan Pertanyaan tentang Hakikat Manusia
Apakah Manusia Sekadar Hewan?
Saya mengajak santri memulai dari pertanyaan mendasar. Apa sebenarnya manusia itu?
Terlebih lagi sebagian filsuf Barat memandang manusia sebagai hewan. Alasannya sederhana dan empiris. Lagi pula ketika hewan makan, manusia juga makan. Sama halnya dengan hewan minum. Manusia pun minum. Pada akhirnya lahirlah istilah seperti hewan ekonomi, hewan politik, dan hewan yang berbicara.
Singkatnya, pandangan ini terlihat logis. Namun pandangan ini tidak utuh. Secara keseluruhan manusia bukan sekadar makhluk biologis. Justru esensi manusia ada pada kesadaran nilai. Kemudian manusia juga punya tanggung jawab moral. Oleh karena itu manusia mampu menahan diri, bukan hanya menuruti naluri.
Jadi, perlu saya tekankan bahwa pada titik ini, manusia bukan hewan. Dan, saat mata saya menyapu ke depan, pikiran saya melihat santri mulai berpikir. Mereka tidak sekadar menerima. Mereka merenung.
Ramadhan Membantah Anggapan Itu
Jadi, bulan Ramadhan datang sebagai bantahan paling nyata. Sungguh hadirnya bulan suci Ramadhan menunjukkan bahwa manusia bukan hewan. Berbekal kesadaran dan iman manusia sanggup menahan lapar. Bahkan dengan iman manusia mampu mengendalikan dahaga. Manusia yang beriman, mereka rela menunda kesenangan demi ketaatan.
Dengan demikian puasa tidak menekan manusia. Puasa justru mengangkat derajat manusia. Akhirnya santri memahami satu hal penting. Ramadhan tidak membatasi hidup. Justru Allah hadirkan Ramadhan guna memuliakan hidup orang-orang beriman.
Ramadhan Menegaskan Jati Diri Manusia
Saya menegaskan bahwa Islam memandang manusia sebagai hamba Allah. Lebih dari itu, manusia juga khalifah Allah di bumi. Tugas khalifah jelas. Manusia harus melakukan perbaikan. Pada saat yang sama manusia juga harus menebar maslahat. Allah menghadirkan manusia agar mereka sadar dan berjuang dalam menjaga adab dan nilai.
Ramadhan hadir untuk menegaskan fungsi ini. Iman tidak cukup berhenti di lisan. Iman harus tampak dalam sikap. Ramadhan melatih kepekaan sosial. Lebih dalam Ramadhan juga menumbuhkan empati. Ramadhan membentuk adab.
Ramadhan dan Pencerahan Jiwa
Saya menutup sharing dengan satu penekanan. Ramadhan sangat manusiawi. Bahkan Ramadhan menjaga manusia agar tidak larut dalam materialisme. Ramadhan menyelamatkan manusia dari hidup yang kering makna. Kemudian, Ramadhan juga mengembalikan jati diri yang sering hilang.
Bagi saya, cara ini efektif. Santri memahami kemuliaan Ramadhan secara rasional dan spiritual. Mereka melihat Ramadhan sebagai kebutuhan jiwa. Bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan.
Malam itu, saya pulang dengan rasa syukur. Saya yakin benih pemahaman telah tumbuh. Ramadhan tinggal menyiraminya. Senyum dari wajah-wajah santri usai paparan memberikan kebahagiaan ke dalam jiwa. Bahagia yang tak mungkin bisa kuutarakan.*


