Home Kajian Utama Serakah Vs Sedekah
Serakah Vs Sedekah

Serakah Vs Sedekah

by Imam Nawawi

Serakah adalah sifat buruk dalam diri seseorang. Orang seperti itu memandang semakin banyak harta yang dimiliki akan semakin bahagia kehidupannya. Sebaliknya, sedekah adalah amal manusia yang lahir dari keimanan akan janji Allah dan hari akhir, sehingga ia tidak melihat kelebihan melainkan sebagian ia bagikan kepada yang memerlukan. Selama ini bangsa Indonesia kesulitan keluar dari soal korupsi. Padahal mungkin sekali itu diatasi dengan budaya gemar sedekah.

Menurut Jack Bologne Gone Theory faktor pendorong terjadinya korupsi adalah keserakahan. Baru kemudian karena kesempatan, kebutuhan dan pengungkapan.

Hal itu jug orang kenal dengan teori GONE: Greedy (keserakahan), Opportunity (kesempatan, Need (kebutuhan) dan Exposure (pengungkapan).

Ketika seseorang memandang serakah itu jalan hidup, maka ia akan kehilangan akal untuk mempertimbangkan baik buruk, halal haram dalam soal rezeki. Ini membuat orang yang serakah tidak memandang korupsi sebagai kejahatan.

Kekuatan Sedekah

Berbeda jauh kondisinya dengan sedekah. Sedekah hanya akan jadi amalan orang yang memandang iman penting dalam hidupnya.

Baca Juga: Menghidupkan Spirit Pelaku Sejarah

Ia bukan tidak mencari harta, bahkan ia giat mengumpulkan harta. Hanya saja ia tidak memandang bahagia hanya kalau hasil kerjanya mendatangkan uang dalam jumlah besar sekali. Seberapapun ia hasilkan, hatinya ikhlas, menerima dengan syukur dan karena itu ia (tetap) bersedekah.

Lebih jauh soal kebahagiaan ia tidak memandang sumbernya dari benda-benda, termasuk yang orang sebut harta. Kebahagiaan itu wilayah hati, hati itu akan tenang, tenteram dan bahagia kalau tunduk pada sang pencipta semesta, yakni Ilahi Rabbi.

Karena itu pandangan ahli sedekah, harta itu sarana. Bahagia atau tidaknya hidup seseorang sangat bergantung pada kemampuan dirinya meletakkan sarana sebagai sarana. Tidak boleh sarana bergeser menjadi tujuan.

Begitu seseorang menempatkan harta yang sarana sebagai tujuan, maka ia akan memeluk harta lebih kuat daripada merengkuh iman. Akibatnya ia tidak saja bergeser dalam memandang harta dari sarana ke tujuan, ia juga akan berubah menjadi manusia yang bakhil, enggan atau bahkan tidak mau bersedekah.

“…Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” (QS. Al-Hasyr: 9).

Artinya orang yang sedekah hatinya Allah lapangkan, dadanya Allah tenteramkan. Ia selamat dari sifat kikir, bakhil dan tentu saja selamat dari keserakahan.

Teladan

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menuliskan kisah para sahabat. Mereka (sahabat Nabi SAW) dan para salafus shalih tidak melewati suatu hari tanpa sedekah, sekalipun dengan sebiji kurma atau sepotong roti.

Mereka sangat termotivasi dengan sabda Nabi SAW, “Manusia itu berada dalam naungan sedekahnya sampai ia menghadapi Hari Hisab.” (HR. Bukhari).

Jadi, sedekah itulah yang memang memberikan jaminan kebahagiaan. Allah langsung yang menjaminnya. Sedangkan serakah, tak ada jaminan dari Allah. Bahkan secara empirik, sikap serakah hanya mengundang kerugian bagi diri sendiri.

Sedekah Apa Saja

Dan, menariknya, masih dalam lanjutan keterangan Imam Ghazali, Rasulullah SAW tidak memandang sedekah hanya soal harta.

Baca Lagi: Bunda Aisah Tak Pernah Ragu Sedekah

“Apabila seseorang bangun dari tidurnya pada waktu Subuh, maka ada tugas dan kewajiban yang dibebankan atas setiap pembuluh nadi (darah) di tubuhnya.

Menyuruh kepada yang baik itu sedekah, melarang dari tindak kejahatan itu sedekah, menolong orang yang lemah dalam menanggung bebannya itu sedekah, menunjuki kepada jalan orang yang benar itu sedekah, dan membuang sesuatu yang menyakiti atau mencelakakan orang lain itu sedekah.

Dan bahkan mengingatkan orang untuk bertasbih dan bertahlil pun sedekah.”

Jadi, jika sudut pandang terhadap sedekah ini kuat di dalam diri seseorang, apalagi orang itu pejabat, punya power dalam kebijakan dan lain sebagainya, atau ia seorang pengusaha yang punya kekuatan harta, maka akan banyak kebaikan tercipta melalui sedekah.

Hal itu akan mendorong banyak kebaikan hadir: mulai dari keadilan tercipta, pemerataan ekonomi berjalan dan kesenjangan ekonomi bisa diatasi. Bahkan korupsi dapat segera teratasi.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment