Home Kajian Utama Seni Menerima Kenyataan
Seni Menerima Kenyataan

Seni Menerima Kenyataan

by Imam Nawawi

Sebagai insan beriman kita mendapati banyak pelajaran dari sejarah Nabi dan Rasul. Utamanya bagaimana menerima kenyataan. Langkah ini penting agar diri tidak kehilangan harapan.

Sebagai sosok ayah, Nabi Ya’qub as tahu betul watak dari anak-anaknya.

Ketika Nabi Yusuf dilaporkan hilang dan telah dimakan srigala oleh kakak-kakaknya, Nabi Ya’qub paham seratus persen anak-anaknya itu berbohong.

Amarah dalam hati tentu saja bergolak. Namun Nabi Ya’kub mampu menerima kenyataan itu dengan baik.

Baca Lagi: Inilah Kunci Sukses Setiap Anak

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18).

Memahami

Nabi Ya’kub bersikap demikian karena imannya bekerja dengan baik. Ia pernah berdialog dengan Yusuf perihal mimpinya.

Artinya, Nabi Ya’kub paham bahwa putranya Yusuf akan menjadi Nabi. Namun sebagai manusia, Nabi Ya’kub tak dapat membayangkan bagaimana keadaan hidup putranya yang masih kecil, hilang entah kemana.

Kalau kita mau konversi dalam kehidupan saat ini, maka kita harus memahami bahwa tidak ada satu keadaan pun, yang berat, terasa buruk, atau bahkan tidak menyenangkan, kecuali itu akan berakhir dengan kebaikan.

Cara berpikir seperti itu akan muncul seiring diri mau menggunakan iman dalam memandang kenyataan. Sekiranya Nabi Ya’kub hanya menggunakan akal, tidak akan ada diksi sabar yang indah yang beliau sampaikan kepada anak-anaknya itu.

Jadi, dalam situsi dan kenyataan yang kita tidak suka, pasti ada hikmah. Maka, pilihan bersabar adalah hasil dari iman yang bekerja.

Optimis

Buah dari iman yang bekerja dalam menyikapi kenyataan yang orang tidak suka adalah terpeliharanya optimisme dalam hati.

Baca Lagi: Menjadi Bahagia

Lihatlah Nabi Ya’qub, ia tak pernah putus asa. Bahkan ia selalu yakin akan datang masa dimana ia akan kembali bertemu dengan Nabi Yusuf, putra terkasihnya.

Hal itulah yang menjadikan Nabi Ya’qub mengisi masa penantian bertemu dengan Yusuf dengan penuh kesabaran, keikhlasan. Dan, Allah akhirnya membayar penantian panjang itu.

Dengan demikian, jika muncul dalam hidup seseorang kenyataan pahit, maka jangan marah, jangan berputus asa. Bersikap tenang, sebut nama Allah yang banyak dan jadikan sabar serta syukur sebagai pakaian. Insha Allah, bahagia itu berlipat-lipat menyeruak di dalam dada.

Karena sumber bahagia yang sejati adalah saat hati seorang beriman terus mengingat Allah Ta’ala.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment