Dalam catatan sejarah – demikian yang saya lihat dalam film Kurulus Osman – nasihat Syaikh Edebali kepada menantunya, Osman Bey (putra Ertugrul), bukan sekadar petuah pernikahan. Ini adalah manifesto kepemimpinan yang jauh mendahului teori manajemen modern mana pun.
Jika kita membedahnya secara holistik, kita akan menemukan rahasia mengapa sebuah bangsa kecil bisa memimpin dunia selama berabad-abad.
Transformasi Ego: Pemimpin adalah Wadah
Edebali membuka nasihatnya dengan kontras yang tajam: “Wahai anakku, kini kau menjadi penguasa. Kami adalah yang marah, kau yang harus bersabar. Kami yang salah, kau yang harus memaafkan.”
Secara sistematis, Edebali sedang mengajarkan konsep “The Container”. Seorang pemimpin bukan lagi individu, melainkan “wadah” bagi emosi rakyatnya.
Aplikasi Modern: Misalnya dalam dunia kerja, pemimpin bukan orang yang paling berhak marah, melainkan orang yang paling mampu menyerap tekanan agar timnya tetap stabil.
Keadilan dalam Perselisihan
Edebali menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Namun, ia memberi peringatan keras: “Membagi adalah tugasmu, menyatukan adalah tugasmu.”
Seorang pemimpin yang holistik tidak melihat konflik sebagai gangguan, melainkan sebagai bahan baku persatuan. Ia tidak memihak pada satu golongan, tetapi berdiri di atas kepentingan visi besar yang telah dicanangkan Ertugrul sebelumnya.
Mengelola “Harta” Terbesar: Manusia
Edebali berpesan agar pemimpin tidak menganggap remeh siapa pun. “Jangan anggap enteng musuhmu, jangan pula anggap enteng temanmu.”
Dalam berpikir sistematis, setiap individu adalah elemen penting dalam sistem. Satu sekrup yang longgar bisa meruntuhkan seluruh bangunan. Kepedulian Ertugrul pada rakyat kini diterjemahkan Edebali menjadi kewaspadaan intelektual bagi Osman.
Visi Melampaui Zaman
Nasihat paling legendaris adalah tentang keberlangsungan: “Biarkan manusia hidup, maka negara akan hidup.”
Ini adalah puncak berpikir holistik. Fokus kepemimpinan bukanlah pada struktur organisasi atau kekuatan militer semata, melainkan pada kesejahteraan manusia. Ketika manusia di dalamnya merasa dihargai dan bertumbuh, maka organisasi (negara) secara otomatis akan kuat.
Seni memimpin dengan hati ini sangat relevan bagi siapapun dalam kehidupan digital. Jika dahulu manusia bisa memiliki pemikiran panjang dan visi hidup yang mulia, mengapa tidak dengan kita yang hidup saat ini!*


