Mas Imam Nawawi

- Opini

Selamat Datang Semangat Baru Ini Hari Pertama 2026

Manusia yang berbahagia hari ini bukan yang semalam pesta pora. Tapi manusia yang detik ini dan seterusnya selalu punya semangat baru. Mengapa? Sebab yang pesta semalam suntuk, sangat mungkin kehilangan makna, arah bahkan tujuan hidup. Sedangkan manusia yang punya semangat baru adalah jiwa yang memiliki harapan, komitmen dan kesiapan melangkah secara lebih terukur dan terarah. […]

Selamat Datang Semangat Baru Ini Hari Pertama 2026

Manusia yang berbahagia hari ini bukan yang semalam pesta pora. Tapi manusia yang detik ini dan seterusnya selalu punya semangat baru. Mengapa?

Sebab yang pesta semalam suntuk, sangat mungkin kehilangan makna, arah bahkan tujuan hidup. Sedangkan manusia yang punya semangat baru adalah jiwa yang memiliki harapan, komitmen dan kesiapan melangkah secara lebih terukur dan terarah.

Orang itu bukan tak punya kekurangan dan kesalahan. Tapi ia sadar bahwa inilah momentum terbaik untuk memulai kebaikan dari sekarang. Ia tak mungkin kembali ke masa lalu, tapi ia bisa mengukir masa depan mulai hari ini.

Jebakan Masa Lalu

Salah satu faktor yang menghambat siapapun untuk menjadi lebih baik adalah masa lalu. Lebih tepatnya salah dalam membingkai masa lalu.

Faktanya sebagian orang mudah lupa bahwa setiap detik dunia berubah, dinamis dan progresif. Mereka terpaku pada trauma masa lalu. Kondisi itu ibarat mencoba mengemudikan mobil di jalan tol yang melaju kencang, namun mata kita terus-menerus terpaku pada kaca spion.

Kita terlalu sibuk melihat apa yang sudah tertinggal di belakang, hingga tidak menyadari bahwa di depan ada tikungan tajam yang menuntut kendali penuh. Masa lalu seharusnya menjadi peta untuk belajar, bukan menjadi jangkar yang menahan kapal kita untuk berlayar.

Membentuk Jalan Berpikir

Nah, teman-teman sekalian. Belakangan ini saya kadang duduk dengan seorang kolega. Setiap saya melontarkan gagasan, ia cenderung tidak sependapat. Argumentasinya tampak seperti pesimis. Tapi belakangan saya paham, mengapa itu yang selalu ia sampaikan. Yakni trauma akan masa lalu.

Artinya, ia terus menjadikan pengalaman masa lalunya sebagai kaca mata memandang masa depan. Ia lupa bahwa setiap detik dunia berubah, dinamis dan progresif.

Oleh karena itu menarik ungkapan Confucius jadi pemantik kita dalam berpikir.

“Jika kita memikirkan hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan melihat hari esok tanpa rasa takut, berarti kita telah berada di jalan yang benar untuk menuju kesuksesan.”

Dalam bahasa Cynthia Barton Rabe dalam “The Innovation Killer” kita akan bisa melakukan perubahan, bahkan menciptakan inovasi jika mampu menjadi pemikir yang bebas dari gravitasi masa lalu maupun gravitasi lingkungan sekitar.

Semangat yang Berakar dari Kesadaran

Semangat dalam jiwa seseorang bisa hadir karena beberapa faktor. Seperti bacaan, pergaulan atau pun lingkungan. Namun faktor paling menentukan adalah kesadaran.

Kesadaran ibarat saklar lampu di ruang gelap. Tanpa menyalakan saklar itu, ribuan buku di perpustakaan atau peluang emas di depan mata tetap tidak akan terlihat. Kita mungkin meraba-raba dalam ketidakpastian, namun begitu “saklar” kesadaran itu ditekan, segalanya menjadi terang benderang. Perjalanan yang berat pun terasa ringan karena kita tahu persis ke arah mana kaki harus melangkah.

Nah, selanjutnya, ketika orang sadar bahwa dasar kemajuan adalah membaca, maka ia akan melahap buku, artikel atau jurnal dengan sangat tekun atau bahkan ekstra tekun.

Kesadaran apa yang ada dalam jiwa orang itu? Tidak lain adalah karena membaca adalah bukti ketundukan seorang Muslim kepada Allah SWT. (Baca Surah Al-Alaq ayat pertama).

Kemudian secara empiris dan historis, kita tahu bangsa yang maju adalah yang sungguh-sungguh dalam membaca. Jepang, China, Korea, bukan negara yang maju secara tiba-tiba. Mereka mendesain anggaran dan kebijakan publik secara tepat, sehingga warga negaranya punya budaya membaca yang tinggi.

Apakah Kesadaran Sudah Hadir?

Nah, sekarang tugas kita tinggal menengok ke dalam. Apakah kesadaran untuk tekun membaca itu telah hadir? Jika kesadaran itu belum lahir, maka 1000 forum ilmu kita datangi, 1000 waktu kita jalani tanpa ada energi berarti. Sebab hal yang paling mendasar: kesadaran, justru tak pernah kita hadirkan.

Jadi, mulailah langkah baru kita hari ini dengan satu tindakan sederhana: ambil satu buku atau artikel bermakna, lalu bacalah dengan kesadaran penuh selama lima belas menit saja.

Jangan biarkan hari pertama ini lewat hanya dengan tumpukan rencana di atas kertas. Hadirkan kesadaran itu dalam setiap lembar yang kita buka, karena kemajuan besar tidak lahir dari ledakan semangat sesaat, melainkan dari konsistensi kecil yang dilakukan dengan jiwa yang terjaga. Rayakan hari ini bukan dengan pesta, melainkan dengan memperkaya cahaya di dalam kepala dan hati.*

Mas Imam Nawawi