Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Sekaranglah Kesempatan Terbaik itu Datang

Ketika manusia memandangi fakta-fakta akibat pandemi, dunia seakan tak lagi memberi celah harapan. Namun, kala kita sadar akan cara Allah memberikan peluang kepada manusia, maka hari inilah, sekaranglah, di hari Arafah kesempatan terbaik itu hadir. Ada dua sebab mengapa sekarang menjadi kesempatan terbaik. Pertama, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Araah.” (HR. […]

Sekaranglah kesempatan terbaik itu datang

Ketika manusia memandangi fakta-fakta akibat pandemi, dunia seakan tak lagi memberi celah harapan. Namun, kala kita sadar akan cara Allah memberikan peluang kepada manusia, maka hari inilah, sekaranglah, di hari Arafah kesempatan terbaik itu hadir.

Ada dua sebab mengapa sekarang menjadi kesempatan terbaik. Pertama, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Araah.” (HR. Tirmidzi).

Baca Lagi: Hidup Hanyalah Perjalanan

Kedua, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada hari yang paling banyak Allah bebaskan hamba-Nya dari api neraka kecuali hari Arafah.” (HR. Muslim).

Bahkan, ketika nama hari ini adalah Arafah yang berarti bagian tak terpisahkan dari ibadah Haji. Allah tetap membuka kesempatan terbaik itu bagi kaum Muslimin yang belum mampu atau tidak berkesempatan haji.

“Berpuasa pada hari Arafah (untuk) melebur dosa-dosa setahun sebeum dan sesudahnya.” (HR. Muslim).

Jelas Fokus

Berdasarkan keterangan tersebut, maka jelas fokus yang harus umat Islam lakukan pada hari Arafah ini.

Pertama ialah berdoa. Berdoa terkadang identik sebagai amalan biasa.

Padahal tidaklah orang akan berdoa, melainkan dia sadar bahwa eksistensinya adalah hamba dan karena itu ia butuh akan pertolongan Allah Ta’ala.

Doa juga bentuk dzikir kepada Allah. Orang yang tidak ingat kepada Allah tidak akan mungkin memohonkan doa-doa kepada-Nya.

Jadi, perbanyak doa itu artinya sama dengan pertajam keyakinan dan perkuat permohonan untuk mendapat pertolongan Allah.

Dalam kata yang lain, kita harus sadar bahwa kita sebagai manusia tidak punya daya apa-apa, maka mintalah kepada Allah.

Kedua, berpuasa. Berpuasa berarti menahan, maka pada hari ini tahanlah diri dari melakukan hal-hal yang dapat merusak iman, pikiran, bahkan kehidupan kita.

Berpuasa juga harus menghadirkan semangat hidup berbagi dan peduli. Karena dalam puasa kita merasakan bagaimana lapar dalam perut, haus di tenggorokan dan lemas dalam badan

Namun, karena ada kesadaran bahwa puasa ini adalah sebagai wujud ketaatan, maka dalam kondisi berpuasa, harapan, optimisme, bahkan keyakinan kepada Allah justru terus ditingkatkan dan dipertajam.

Meraih Kekayaan

Satu kesempatan emas pula dalam bulan Dzulhijjah ini ialah menjalankan sunnah berqurban. Hendaknya kaum Muslimin yang memiliki kelapangan harta menunaikan ibadah qurban

Namun, ini jelas bukan perkara ringan. Ada prasyarat yang harus ada di dalam diri seseorang. DI antaranya ialah shalatnya benar, mengerti apa itu sabar dan ingin mengamalkannya, dan sangat ingin meraih kekayaan dalam arti kebaikan di dunia sekaligus di akhirat.

Ruang itu bisa kita wujudkan dengan berqurban. Qurban berasal dari kata “qaruba-yaqrubu” yang artinya dekat. Kemudian ditambah tasydid sehingga menjadi “qarraba-yuqarribu‘ yang artinya mendekatkan.

Jadi ada kesempatan untuk mendekatkan eksistensi kita pada kekayaan yang hakiki yakni kebaikan berupa pahala dan ridha Allah pada hari Arafah ini yang Allah sempurnakan dengan esok, 10 Dzulhijjah dengan melaksanakan ibadah qurban.

Namun, menjalankan ibadah qurban bukan berarti setelah itu selesai upaya melakukan kebaikan. Karena hakikat qurban ialah memastikan iman dan taqwa kian tajam.

Baca Juga: Jadilah Top Skor Kebaikan

Karena itu, setelah Idul Adha dalam hidup ia akan mudah untuk berkorban bagi kemajuan umat, entah melalui korban kekayaan, pikiran, tenaga, waktu dan perasaan. Insha Allah orang yang banyak berkorban akan banyak meraih kebahagiaan.

Karena berkorban itu adalah makanan bagi jiwa manusia. Semakin banyak, semakin sering seseorang berkorban, maka jiwanya akan semakin tercukupi nutrisinya, sehinggga pandangannya dalam kehidupan ini bukan saja harta yang dinilai sebagai kekayaan, tetapi juga ketaatan atas dasar iman dan ketaqwaan.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *