Menjelang adzan Dhuhur pada hari ini (Rabu, 7/1/26) Bang Fu’ad kembali mengirimkan satu artikel menarik. Isinya tentang pentingnya berpikir korelasional. Teman-teman sudah memahami dan mempraktikkan apa itu berpikir korelasional? Sepenting apakah itu?
Menurut pria asal Kebumen itu, tantangan setiap manusia adalah mampu atau tidak berpikir korelasional, utamanya terhadap hal-hal yang tampaknya atau benar-benar bertentangan. Apalagi kalau bicara politik, setiap hari ada saja pertentangan, bahkan ramai orang mengulasnya.
Nah, pada konteks itulah berpikir korelasional menjadi sangat penting, sehingga orang bisa memiliki kemampuan menghubungkan dengan tepat. Kemudian ia mampu memiliki gambaran utuh tentang semua sisi yang tampak atau benar-benar bertentangan secara tepat dan relevan. Kalau itu berupa perseteruan antar manusia, maka semua pihak bisa menerima dan merasa nyaman.
Melihat dengan Jernih
Dalam pendekatan filsafat, berpikir korelasional (correlative thinking) menekankan pada kemampuan seseorang memahami perihal keterkaitan, pola, korespondensi, dan resonansi antar berbagai hal, terutama dalam konteks pergaulan sosial.
Sebagai contoh, dalam sebuah organisasi ada kelompok senior dan kelompok junior. Cara berpikir dua pihak itu pasti berbeda.
Kelompok senior mungkin cenderung merasa paham dengan basis pengalaman. Kelompok junior merasa perlu ada yang diubah berdasarkan konteks yang berlangsung. Jika kedua kelompok itu tidak mampu berpikir korelasional, benturan tidak akan terhindarkan.
Kemampuan berpikir seperti ini juga penting bagi suami dan istri. Seringkali suami punya pandangan tertentu terhadap sesuatu, istri pun juga memiliki pandangan tertentu yang berbeda, terhadap sesuatu yang sama.
Jika kedua belah pihak memaksakan pandangannya tanpa mau mencoba menemukan keterkaitan yang memungkinkan perbedaan pandangan itu didudukkan secara bijak, benturan juga akan terjadi.
Korelasi dalam Diri Manusia
Secara sederhana berpikir korelasional sebenarnya mendorong kita punya skill untuk mampu berpikir secara sistemik.
Mari perhatikan tubuh kita sendiri, antara mata, telinga dan otak. Semua punya fungsi masing-masing dengan kekuatan yang sangat menentukan. Akan tetapi kalau semua itu berjalan masing-masing, maka tangan dan kaki yang akan mengalami kendala untuk bergerak.
Oleh karena itu dalam konteks organisasi, berpikir korelasional sangat penting ada dalam kapasitas pemimpin. Dengan demikian ia mampu menggerakkan segenap sumber daya pada pencapaian visi secara tepat.
Tanpa kemampuan berpikir korelasional, seseorang mudah terjebak pada cara berpikir parsial, yang ujungnya akan memberi warna negatif terhadap perasaan. Dan, kalau itu terus terjadi lama-lama bisa mengguncang jiwa seorang pemimpin. Ketika jiwa pemimpin terguncang maka ia akan kehilangan kemampuan berpikir dengan jernih. Dan, itu sangat tidak baik bagi kelangsungan sebuah tim atau bahkan organisasi dan lebih tinggi lagi, sampai pada level negara.*


