Istilah ini “Kecerdasan Ekstra” tampak luar biasa. Namun, kalau melihat situasi dan kondisi terakhir yang mana pandemi masih menyihir, istilah kecerdasan ekstra tampak benar-benar kita butuhkan.
Arti kata ekstra artinya luar biasa. Jika kita hubungkan dengan kata kecerdasan, maka dalam hal ini yang hadir adalah kecerdasan tidak biasa alias kecerdasan luar biasa.
Baca Juga: Masa Muda Harus Berprestasi
Sekarang kita perlu lihat, apa dimensi biasa dalam hidup manusia?
Tiga Bentuk Kecerdasan Esktra
Pertama, biasa berpikir rasional. Kalau mau ekstra, berarti sudah mesti beranjak dari rasional menjadi supra rasional.
Kalau coba kita urai secara akademik, tentu kata supra rasional tidak begitu menawarkan energi. Namun, kalau merujuk pada sejarah Nabi dan Rasul, kata ini terang berenergi luar biasa.
Supra rasional Nabi Musa Alayhissalam misalnya adalah bergerak dengan keyakinan total kepada Allah, bahwa Allah akan memberikan pertolongan. Maka se-irasional apapun keadaan yang ia hadapi, keyakinan harus semakin kuat bahkan semakin kokoh. Dalam kondisi itu pertolongan Allah akan datang.
Jika cara-cara medis dan akademik serta empiris tidak lagi mampu membendung wabah pandemi ini, maka bangsa ini harus berlari kepada iman. Perbaiki hati, sucikan jiwa, hentikan sikap mau menang sendiri, akhiri budaya senang korupsi, insha Allah, kebaikan akan segera datang.

Sebab jika tidak, seperti orang yang tangannya terluka, obat ia oles, namun istirahat tidak ia lakukan, maka penyembuhan yang jadi upaya akan berjalan lambat bahkan mungkin sia-sia.
Kedua, biasa mengandalkan akal, ubah menjadi tawakkal. Berpikir itu harus dalam Islam, terlebih kala ingin mengenal Tuhan. Namun menjadikan akal sebagai sarana mendapat keuntungan pribadi walau merusak alam, jelas ini yang harus dihentikan.
Eksploitasi alam akan bisa diakhiri jika manusia tidak sepenuhnya bersandar pada akal. Tetapi juga menghidupkan ketajaman batin untuk tawakkal. Asal halal, kerja harus diperjuangkan.
Ada ungkapan indah, berpikir wilayah akal. Tawakkal wilayah hati. Artinya, silakan peras kecerdasan yang kita miliki, tapi jangan pernah melegitimasi kerusakan yang sejatinya akal pun menyadari.
Ketiga, biasa berharap kepada manusia, ubah menjadi berharap kepada Allah Ta’ala. Sayyidina Ali mengatakan, akan kecewa dan pasti merana orang yang dalam hidupnya mengandalkan manusia.
Insaf diri Lemah
Ini karena manusia lemah, tidak tahu, dan terbatas. Tetapi jika bersandar kepada Allah, keselamatan insya Allah akan datang.
Baca Juga: Sukses Menikmati Perjalanan
Pada akhirnya, kecerdasan ekstra yang bisa kita tangkap adalah bagaimana kembali menghdiupkan nilai-nilai iman dalam membangun kecerdasan, pembangunan, bahkan kemajuan bangsa dan negara. Jika tidak, maka sungguh kecerdasan model itu telah lumpuh seiring datangnya wabah.
Dan, sebagai insan beriman, tentu kita ingin situasi berat ini segera berakhir. Siapa yang dapat mengakhiri, jika bukan Allah Ta’ala?*
Mas Imam Nawawi_Perenung Kejadian
Semarang, 17 Jumadil Akhir 1442 H


