Home Artikel Saat Masalah Menyapa, Hati Jangan Sampai Buta
Saat Masalah Menyapa, Hati Jangan Sampai Buta

Saat Masalah Menyapa, Hati Jangan Sampai Buta

by Imam Nawawi

Manusia mana yang setiap tarikan nafasnya selalu kegembiraan? Manusia yang sungguh bahagia sejatinya yang mampu menyambut masalah kala menyapa. Selamat datang masalah, mari kusambut dengan api keimanan. Hanya itu jalan untuk menjadikan hati tidak pernah buta saat berjumpa perkara.

“Ahad, Ahad, Ahad,” begitu Bilal berkata pada masalah yang datang karena hatinya telah bermandikan cahaya iman.

Iman ibarat intan dalam kehidupan. Tak cukup hanya jadi indahnya ucapan lisan seseorang, tapi memang harus benar-benar lulus ujian.

Baca Juga: Jangan Salah dalam Memandang Masalah

Seperti hati manusia, suka pada kemurnian, bukan kepalsuan.

Kepalsuan bisa mengecoh
Namun perjalan pasti menyelampai bukti
Hawa nafsu jadikan insan bodoh
Kecuali dalam iman sudi berteguh hati

Abdurrahman bin Auf

Kiranya kita perlu “berwisata” pada kehidupan Abdurrahman bin Auf ra. Sahabat Nabi ﷺ yang begitu kaya, namun selalu khawatir gagal menghadapi ujian iman. Bahkan kekayaan itu ia takut jadi masalah dalam kehidupan akhirat.

Abdurrahman bin Auf setiap makan kurma agak besar atau enak sedikit beliau menangis.

“Apa yang membuat engkau menangis wahai Abdurrahman bin Auf?”

Pertama, beliau ingat bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah makan kurma yang sebesar dan seenak itu, padahal beliau orang paling mulia dan berhak untuk itu.

Rasulullah ﷺ biasa makan kurma rodi yang kecil dan mulai makan kurma besar sejak memenangkan perang khaibar karena di sana tanah suburnya dan banyak kurma bagus.

Kedua, beliau ketika makan kurma yang enak dan besar khawatir itu menjadi pahala atau balasan di dunia atas kebaikan amal ibadah yang telah dilakukan. Beliau takut di akhirat sudah tidak ada lagi bagiannya karena sudah diberikan di dunia.

Namun tak banyak orang sampai pada level kesadaran seperti itu. Sebagaimana makanan yang lezat, kenyamanan selalu manusia anggap sebagai karunia. Tanpa pernah menimbang-nimbang dengan iman lagi.

Tidak heran orang sekarang sangat ingin memiliki uang banyak, aset sana-sini, dan bisa nyaman dalam kehidupan dunia ini.

Akhirat? Entahlah, hati sebagian orang kadang merasa dunia ini segalanya. Karena itu segala upaya mereka halalkan untuk merengkuhnya.

Teguhkan Iman

Dengan demikian kita harus kembali, memandang apapun dengan kacamata iman, bukan keinginan yang melenakan.

Baca Lagi: Berpikir Sekaligus Bertindak

Mungkin saatnya jiwa ini membaca dengan hati, bukan lagi data dalam ruang kognisi.

Membaca yang membuat kita memahami bahwa iman itulah yang utama. Tanpa iman orang akan ogah beramal shaleh. Tiada iman hati akan menolak kebenaran.

Dan, hanya dengan iman, masalah akan membuat kita optimis. Karena Allah memberikan petunjuk, bersama masalah (kesulitan) ada kemudahan (solusi).

Jadi, apa yang perlu kita khawatirkan saat masalah menyapa?

Masalah itu memang tidak enak, tapi itu kesempatan bagi iman kian tegak. Mendorong hati dan akal mau berlatih dan bertindak bijak.

Jangan takut, jangan pula sedih, Allah menyebut kita hamba. Artinya Allah selalu sayang dan memberi pertolongan. Sejauh kita memang hanya kepada-Nya menghamba.*

Dengar
Pahami
Nalar
Jalani

Begitulah seharusnya sikap hati kita dalam memahami Islam. Karena mengarungi bahtera kehidupan setiap insan harus lulus ujian dengan sukses menghadapi masalah.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment