Home Hikmah Saat Gelisah Tiba, Itu Karena Apa?
Saat Gelisah Tiba, Itu Karena Apa?

Saat Gelisah Tiba, Itu Karena Apa?

by Imam Nawawi

Gelisah kerap melanda sebagian orang. Rasa tak tenang ini bisa datang kapan saja, menyeruak tanpa aba-aba, membuat hati tidak nyaman dan pikiran seperti terkena gempa, guncang luar biasa. Namun, tidak sedikit yang kebingungan memahami asal muasal kegelisahan tersebut. Saya gelisah karena apa?

Apakah kegelisahan ini muncul dari keinginan untuk hidup lebih baik, baik secara lahir maupun batin, atau hanya sekadar akibat dari kebosanan yang mendera?

JC Maxwell dalam bukunya “Good Leaders Ask Great Questions” menulis bahwa kegelisahan yang buruk sering kali bersumber dari kebosanan atau perasaan tidak bahagia. Kebosanan dapat menjadi racun yang merayap perlahan dalam keseharian kita, membuat segala sesuatu terasa hambar dan tak berarti. Ketika seseorang merasa bosan, ia cenderung merasa gelisah karena tak tahu harus berbuat apa.

Perasaan Tidak Bahagia

Perasaan tidak bahagia juga menjadi pemicu utama kegelisahan. Ketika seseorang merasa bahwa hidupnya tidak berjalan seperti yang diinginkan, atau ketika harapan-harapan yang digantungkan tak kunjung terwujud, kegelisahan pun mengintai.

Baca Juga: Pemimpin yang Menulis Mudah untuk Ditulis

Rasa kecewa yang berkepanjangan membuat hati tidak tenang, memunculkan kegelisahan yang menyiksa. Ujungnya stres, depresi atau bahkan bunuh diri.

Kegelisahan semacam ini sering kali membuat seseorang ingin melarikan diri dari situasi yang dihadapi. Mereka menjadi tidak sabaran, ingin segera keluar dari ketidaknyamanan tanpa berpikir panjang. Akibatnya, kemampuan untuk berpikir positif pun menurun. Segala sesuatu terlihat suram dan tidak ada jalan keluar yang terlihat jelas.

Kegelisahan Baik

Namun, kegelisahan tidak selalu buruk. Ada kalanya kegelisahan muncul dari keinginan untuk mengubah diri dan memberi manfaat dalam kehidupan. Kegelisahan semacam ini dapat menjadi pendorong untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi diri, dan mencari cara untuk menjadi lebih baik.

Ketika kita merasa gelisah karena ingin hidup lebih baik, baik secara lahir maupun batin, kita terdorong untuk membuat perubahan yang positif dalam hidup.

Kegelisahan yang muncul karena keinginan untuk berubah dan memperbaiki diri dapat membawa dampak kebaikan. Ini adalah kegelisahan yang sehat, yang mendorong kita untuk bergerak maju dan berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Misalnya, seseorang yang merasa gelisah karena merasa kurang produktif mungkin akan mencari cara untuk meningkatkan efisiensinya, belajar hal-hal baru, atau memperbaiki pola hidupnya.

Imam Al-Ghazali pernah merasa gelisah luar biasa. Satu sisi ia punya kedudukan sebagai akademisi yang sangat tinggi. Sisi lain ia melihat banyak orang meninggalkan praktik hidup ber-Islam dengan baik.

Ia pun merenung panjang, hingga akhirnya meninggalkan jabatan “rektor” kala itu. Lalu memilih menunaikan ibadah haji dan kemudian “mengurung” diri dalam kontemplasi panjang, hingga lahirlah kitab Ihya’ Ulumuddin. Kitab itu pun jadi rujukan umat, hingga akhirnya lahir sosok Salahuddin Al-Ayyubi yang mampu memukul mundur kekuatan Salib di Palestina.

Memahami

Pada akhirnya, memahami sumber kegelisahan adalah kunci untuk mengatasinya. Itu artinya kita mesti Iqra terhadap apa yang jadi sumber kegelisahan hati.

Jika kegelisahan datang dari kebosanan atau perasaan tidak bahagia, kita perlu mencari cara untuk mengatasi kedua hal tersebut. Mencari kegiatan baru, menantang diri sendiri dengan hobi atau proyek baru, atau mencari cara untuk lebih bersyukur atas apa yang kita miliki, dapat membantu meredakan kegelisahan.

Menata kembali hidup dengan shalat, dzikir, tilawah, bisa menjadi solusi terbaik mengatasi kegelisahan karena tidak bahagia.

Di sisi lain, jika kegelisahan muncul karena keinginan untuk berubah dan memberi manfaat, kita harus menyambutnya dengan tangan terbuka. Gunakan kegelisahan ini sebagai pendorong untuk membuat perubahan positif dalam hidup. Belajar dari kegelisahan ini, jadikan sebagai bahan bakar untuk mencapai tujuan yang lebih baik dan lebih bermakna.

Jadi, saat gelisah tiba, tanyakan pada diri sendiri: dari mana datangnya rasa gelisah ini?

Apakah ini adalah tanda bahwa kita perlu mengubah sesuatu dalam hidup kita? Atau mungkin, ini adalah panggilan untuk berhenti sejenak, mengatur ulang pikiran, dan menemukan kembali kebahagiaan dan kedamaian dalam diri kita?

Baca Lagi: Syukur, Ukur dan Atur

Dengan memahami asal muasal kegelisahan, kita dapat menemukan cara untuk mengatasinya dan hidup dengan lebih tenang dan bahagia. Dalam konteks ini, mungkin ada yang berpikir, bagaimana kalau tidak punya kegelisahan? Boleh jadi sudah tidak ada keinginan atau hidup tanpa tujuan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment