Home Kajian Utama “Rahasia” Mengapa Senyum dan Wajah Ceria Begitu Indah
“Rahasia” Mengapa Senyum dan Wajah Ceria Begitu Indah

“Rahasia” Mengapa Senyum dan Wajah Ceria Begitu Indah

by Imam Nawawi

Nabi mengajarkan kita untuk tersenyum. Bahkan siapa suka tersenyum kepada saudara atau sesama, ia telah dinilai melakukan amal bersedekah. Lebih-lebih senyum kemudian berwajah ceria. Mengapa bisa begitu, ada rahasia apa?

Secara teori kita tahu senyum itu energi yang menular, cepat bertransformasi kepada orang lain.

Secata umum mengapa senyum bernilai sedekah bisa jadi karena alasan berikut.

Pertama, senyum membawa kebahagiaan: Senyum tulus dapat membuat orang lain merasa lebih baik dan menciptakan suasana positif.

Kedua, mempererat hubungan: Senyum dapat mencairkan suasana, membangun keakraban, dan mempererat hubungan antar manusia.

Ketiga, enghilangkan rasa sedih: Senyum dapat menghibur orang yang sedang sedih atau kesulitan, memberikan mereka harapan dan semangat.

Keempat, amalan ringan namun bermakna: Senyum adalah tindakan sederhana yang mudah dilakukan, namun memiliki dampak besar bagi orang lain dan diri sendiri.

Baca Juga: Serakah vs Sedekah

Dalam Islam, senyum dianggap sebagai sedekah karena memiliki nilai kebaikan dan manfaat bagi sesama. Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi).

Tahu dan Yakin

Sekalipun kita tahu senyum baik, masih sulit bagi sebagian orang mengamalkan. Orang pada umumnya masih senang memilih yang tidak melakukan. Kenapa?

Bukan berarti pengetahuan tidak penting. Tetap pengetahuan memang tahap awal dan karena itu sangat penting. Namun pengetahuan harus meningkat ke tahap selanjutnya, yakni yakin. Karena hanya keyakinan yang membuat orang bisa merasakan manfaat dari semua pengetahuannya.

Inilah hikmah perintah Allah pertama “Iqra Bismirabbik.” Jadi membaca memang harus dengan nama Allah, bukan asal mau, asal membaca, tanpa alasan sekaligus tujuan.

Kita bisa menelusuri bahwa membaca, mengetahui memang tahap awal. Setelahnya orang harus masuk ke ruang-ruang keyakinan. Karena keyakinan itulah yang menjadikan hati seseorang ringan beramal.

Baca Lagi: Menyala: Energi Positif dalam Kehidupan

Kalau sekadar tahu, boleh jadi ia tidak mau tahu. Apalagi kalau pengetahuan ia jadikan alasan untuk dapat keuntungan-keuntungan pribadi. Bukankah begitu kira-kira koruptor bernalar?

Kebaikan-Kebaikan

Gus Baha memberi satu nasehat penting. Kalau sedang tak enak hati (bukan sekadar tak enak badan) lebih baik jangan keluar rumah. Karena sunnahnya bergaul, bertemu orang itu memang harus senyum.

Masalah sekarang, apakah rumah telah menjadi surga, baiti jannati, atau neraka?

Dalam kata yang lain untuk bisa tersenyum kepada sesama di dalam rumah harus bahagia.

Jadi, perintah senyum dari Nabi SAW sejatinya adalah dorongan agar setiap Muslim bahagia, bersyukur, bersemangat, sejak dari dalam rumah.

Oleh karena itu sayangilah isi rumah. Bicaralah dari hati ke hati. Saling melembutkan hati, saling mengasihi.

Insha Allah itu akan jadi energi yang memancarkan kebahagiaan sekaligus keteladanan kepada sesama.

Kalau ada masalah di luar rumah, masuk ke wisma pribadi insha Allah akan tuntas. Kenapa? Karena rumah telah dan tengah serta terus menjadi surga. Sehingga kemanapun wajah kita menghadap, senyum dan wajah ceria bisa kita tampakkan dengan keikhlasan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment