Home Berita Pilunya Warga Biasa, Stres Menghantui Karena Kesulitan Bayar Sekolah
Pilunya Warga Biasa, Stres Menghantui Karena Kesulitan Bayar Sekolah

Pilunya Warga Biasa, Stres Menghantui Karena Kesulitan Bayar Sekolah

by Imam Nawawi

Seorang pria nekat menusuk perutnya sendiri dengan dua pisau dapur yang baru diasahnya (24/7). Menurut laporan media penyebabnya adalah karena stres, bingung bagaimana membayar biaya sekolah anak-anaknya.

Pria itu memiliki empat anak. Tiga anak masih dalam masa sekolah dan belajar di sekolah swasta.

Sang pria itu ingin anak nomor dua melanjutkan sekolah sampai ke SMA. Namun semangat itu harus bertemu hambatan, ekonomi.

Baca Juga: Bantulah Selalu Orang Lain

Sebenarnya anak dari pria itu telah menerima Kartu Jakarta Pintar. Namun itu belum mencukupi kebutuhan sekolahnya.

Sang pria itu juga mengeluhkan sakit pada lambungnya.

Menurut adik ipar sang pria itu, boleh jadi ada rasa kesal. Kesal sama penyakit, tambah biaya sekolah anak yang semuanya swasta. Bertambahlah beban yang ia pikul dalam batinnya.

Fakta

Sebenarnya kisah seperti ini mudah orang temui, bahkan mungkin dari lingkungan tidak jauh dari kediamannya. Bagaimana ada keluarga yang anak-anaknya ingin sekolah, tetapi harus berhenti karena faktor ketiadaan biaya.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan Nisa Felica anak yang tinggal bersama keluarga kurang mampu akan sulit mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Berbeda dengan anak yang tinggal di keluarga berkecukupan.

Artinya fakta-fakta seperti ini bisa mendapat perhatian mendalam dari pihak-pihak berkepentingan, mulai dari pemerintah, lingkungan sekitar, hingga lembaga-lembaga yang bergiat di medan amal dan kepedulian.

Lebih jauh edukasi dan penguatan untuk keluarga biasa (tidak kita sebut miskin) terutama yang memiliki anak harus mulai menjadi program utama.

Boleh jadi mereka ingin sekali bisa sekolah. Namun karena tidak ada biaya, kemudian malu meminta-minta, dan tidak tahu harus mengadu kemana, akhirnya stres.

Puncaknya merasa hidup tidak lagi ada artinya, putus asa dan bunuh diri.

Secara umum, ketika kehidupan terasa berat dan penuh tekanan, semua orang perlu bahu untuk bersandar, telinga yang mendengar, dan tangan yang memberikan pertolongan.

Faktanya, banyak keluarga biasa sering kali merasa putus asa dan stres karena beban yang mereka pikul. Kemana mereka bisa mengadu dan mendapat pertolongan?

Jalan Sinergi

Pemerintah harus mulai mendorong struktur yang ada, sampai ke tingkat RT untuk benar-benar mendeteksi warga yang memerlukan bantuan psikologi seperti itu.

Selanjutnya program untuk pendidikan bisa pemerintah tekan, termasuk untuk anak-anak yang sekolah di swasta.

Baca Lagi: Berbagi Kebaikan dengan Ide dan Gagasan

Masyarakat juga bisa berinisiatif bagaimana caranya ada gerakan dukungan moral kepada keluarga biasa, sehingga mereka merasa tidak sendiri menjalani kehidupan.

Lembaga-lembaga amal seperti Laznas di Indonesia juga mesti melakukan terobosan lebih giat lagi untuk ikut menjawab masalah-masalah seperti ini.

Sisi lain, organisasi kepemudaan juga harus ikut memikirkan bagaimana solusi dari masalah seperti ini. Berorganisasi itu supaya bermanfaat, bukan supaya mudah dapat pangkat atau menjabat.

Prinsipnya ini butuh jalan sinergi. Sangat tidak wajar Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan akan jadi kekuatan ekonomi besar dunia, tapi realitanya, masyarakat hidup biasa, bahkan putus asa lalu bunuh diri.

Mungkin ini hanya satu orang. Tetapi seperti api, apakah kita menunggu besar, baru sibuk memadamkan?*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment