Mas Imam Nawawi

- Artikel

Pikiran Positif atau Negatif, Mana yang Jadi Milikmu?

Meski pada umumnya orang tahu ada dua jenis cara berpikir: negatif dan positif, namun tak berarti setiap orang otomatis tahu. Apakah pikirannya positif atau negatif. Pikiran seseorang positif kalau ia punya keyakinan 100% terhadap upayanya dalam bekerja benar-benar memberi nilai tambah, bahkan manfaat. Oleh karena itu ia tidak segan menyerahkan seluruh energinya untuk berbuat yang […]

Pikiran Positif atau Negatif, Mana yang Jadi Milikmu?

Meski pada umumnya orang tahu ada dua jenis cara berpikir: negatif dan positif, namun tak berarti setiap orang otomatis tahu. Apakah pikirannya positif atau negatif.

Pikiran seseorang positif kalau ia punya keyakinan 100% terhadap upayanya dalam bekerja benar-benar memberi nilai tambah, bahkan manfaat. Oleh karena itu ia tidak segan menyerahkan seluruh energinya untuk berbuat yang terbaik.

Rahardian Sukma dalam buku “Move On dari Pikiran Negatif” menerangkan bahwa orang yang seperti itu akan mampu mengembangkan akal, perasaan dan perilakunya menjadi lebih baik. Lebih jauh juga dapat menyingkap kekuatan tersembunyi dalam dirinya, sehingga ia terus bergera progresif dalam banyak sisi.

Setiap orang bisa memiliki cara berpikir positif itu. Syaratnya tinggal pada kesadaran dan kemauan serta kesungguhan setiap individu. Stephen R. Covey menulis bahwa setiap orang punya 4 anugerah: kesadaran diri, hati nurani, keinginan pribadi dan pemikiran kreatif. Nah, mau ia gunakan atau tidak. Kemudian akan ia terapkan secara positif atau negatif.

Menimbang Orang Lain

Nah, dengan uraian itu, sekarang apakah kita bisa menimbang orang lain dengan jelas.

Satu nasihat orang terdahulu, kalau ingin hati kita sembuh dari penyakit, kita harus berteman dengan orang yang saleh.

Dalam pengertian yang lain, kalau kita bertemu orang, kemudian orang itu membuat kita lebih cenderung pada cemas berlebihan, takut berlebihan atau semangat berlebihan, maka kita harus waspada, bahwa orang itu bisa jadi sangat negatif cara berpikirnya.

Seorang guru berkata kepadaku, orang yang seperti itu punya energi negatif. Kalau energi positif kita lebih lemah, kita akan tertular negatif. Tapi kalau energi positif kita lebih unggul, maka itu tidak berpengaruh pada kehidupan kita.

Tapi cara paling baik adalah kita mencari orang yang saleh, yang bisa membuat kita semakin baik dalam iman, amal dan cara berpikir.

Ulul Albab

Sisi yang sangat menarik soal berpikir adalah apa yang Allah ungkap dari ungkapan insan ulul albab. Begitu “inginnya” Allah kita berpikir pada level itu, Allah menegaskan hal ini hingga 16 kali dalam Alquran.

Ulul Albab adalah sosok yang menjadikan akal, wahyu, dan pengalaman hidup sebagai satu kesatuan berpikir. Ia tak terlalu silau dengan cara berpikir akademik pun juga dengan cara berpikir empirik. Ia menjadikan keduanya sebagai bahan berpikir yang lebih utuh.

Dalam keseharian, mereka tidak memisahkan antara dzikir dan fikir. Ketika melihat fenomena alam, mereka tidak berhenti pada kekaguman intelektual, tetapi menembus makna spiritual di baliknya—menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Lebih dalam orang yang ulul albab mampu berpikir reflektif dan kritis, selalu menimbang setiap peristiwa dengan kesadaran tauhid. Dalam menghadapi masalah, Ulul Albab tidak reaktif; mereka merenung, menimbang hikmah, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai Ilahiah.

Nah, sampai saat ini, apakah teman-teman sudah bisa menimbang, bagaimana cara berpikir yang selama ini kalian jalankan?*

Mas Imam Nawawi