Membawa Indonesia lebih baik, memang cepat melalui kekuasaan. Tetapi kekuasaan yang tidak ada isi dari orang yang baik, justru mempercepat kerusakan. Akhirnya, rumus sederhana meski makan waktu mesti kita terapkan, yakni perbaiki profil pribadi dalam setiap hari, ke depan bangsa akan menjadi lebih punya arti.
Hal ini memang tidak mudah. Karena era sekarang umumnya orang mau instan. Tapi, sejarah telah menjelaskan bahwa tidak ada keberhasilan tanpa proses panjang yang penuh perjuangan dan pengorbanan.
Konstantinopel itu telah lama Nabi Muhammad SAW samapikan bahwa akan jadi milik umat Islam. Tetapi siapa yang berhasil Nabi SAW memberikan penjelasan umum akan kriteria pemimpin dan pasukannya.
Baca Juga: Pemuda Islam Menguasai Data
Ternyata, pemimpin penaklukkan itu adalah sosok yang sholat berjama’ah tidak pernah putus, sholat sunnah terus ia jalankan, bahkan sholat Tahajjud tidak pernah ia lewatkan. Artinya, pemimpin ini benar-benar bagus profil pribadinya sejak muda.
Menariknya, profil itu juga sama pada semua pasukannya. Tidak pernah tinggalkan sholat berjama’ah, tidak tertinggal sholat sunnah. Dan, sebagiannya melaksanakan sholat Tahajjud walau tidak setiap malam.
Dengan kata lain, kalau ingin meraih sebuah keberhasilan, apalagi kolektif, setingkat bangsa dan negara, perbaikan itu harus kita mulai dari sekarang dari hal kecil dan detil. Tidak boleh ada yang terlepas, terlewat apalagi tertinggal.. Inilah profil diri yang harus mulai diperbaiki dan dibangun dalam keseharian.
Tegakkan
Memperbaiki profil diri tidaklah susah. Tegakkan saja apa yang mesti dilakukan. Sholat misalnya, jalankan dengan baik. Kalau belum bisa merasakan nikmatnya, minimal tidak meninggalkan tiang agama ini.
Membaca Alquran misalnya, bacalah Alquran, bahkan sangat bagus kalau sampai membuka tafsir, apalagi sampai menuliskannya menjadi satu pemahaman, artikel atau apa pun yang dapat menguatkan daya ingat sekaligus mendorong diri lebih semangat.

Senyum, jangan lupa, ini sedekah. Latihlah diri tersenyum di hadapan sesama. Bukan hanya di depan kamera. Tersenyum, berikan kata-kata yang membangun dan tidak berkata kecuali kebaikan. Ini saja tidak mudah, maka perlu upaya terus memperbaikinya.
Berpikir, ini juga jangan salah. Alquran sangat menekankan umat Islam mendalam dalam berpikir.
Kalau merujuk pendapat Gus Baha, bagaimana kita akan sombong, wong sekedar lapar saja kita butuh kepada nasi.
Nasi itu apa, apakah barang mulia? Bukan. Tetapi untuk bisa kuat badan ini, kita perlu memakan nasi yang dari situ kita mestinya sadar, bahwa Allah menjadikan diri kita yang lemah ini bergantung pada makanan bernama nasi.
Artinya, kalau dalam hal makan saja diri mau berpikir, masha Allah, tidak ada yang patut dibanggakan dalam diri manusia ini. Yang ada semakin tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala.
Berproses
“Tetapi, saya benar-benar belum bisa untuk melakukan itu semua,” begitu biasanya sebagian punya alasan.
Jalani perlahan-lahan, berproses. Jangan berharap instan. Sekarang mulai besok rajin. Itu tidak mungkin dalam hukum kehidupan ini. Semua perlu proses dan pertumbuhan.
Sekedar untuk menjadi kritikus, kata Sujiwo Tejo di TV One belum lama ini, seorang petinju harus makan waktu bertahun-tahun untuk bisa tampil sebagai komentator tinju, termasuk komentator bola. Artinya, apa, semua butuh proses.
Nah, di sini orang tidak bisa lepas dengan yang namanya konsistensi. Oleh karena itu, kalau sudah ada tujuan, sadar apa yang harus dilakukan, seseorang baru akan punya energi bagaiman ahidup dengan menikmati proses. Tanpa itu orang akan seperti kutu loncat, loncat sana loncat sini.
Baca Juga: Kegilaan Ini Karena Panjang Angan-Angan
Maunya sih untung, tapi untung itu tidak semua memberikan nilai dan masa yang sejati. Kalau hidupnya memandang untung sebatas uang, begitu uang habis dia akan buntung. Termasuk kalau untung hanya tidak hanya kita lihat dari jabatan, jabatan ilang, malang kehidupannya.
Beruntunglah seperti Nabi Yusuf Alayhissalam berproses. Beruntunglah seperti Umar bin Khathab memperbaiki hidupnya terus menerus. Inilah upaya perubahan yang sesungguhnya. Yakni langkah nyata perbaiki profil dalam sehari, sehari, sehari, hingga akhir kehidupan dunia.
Bukan seperti Qarun atau Fir’aun, yang ditipu kehidupan dunia, keduanya mengira akan jaya, yang ada malah nestapa dan nanti (dalam kehidupan akhirat) hidupnya akan sengsara luar biasa. Na’udzubilah.*
Mas Imam Nawawi_Ketua Umum Pemuda HIdayatullah


