Home Kisah Pemuda Kubu Nekat ke Balikpapan Demi Jodoh dan Dakwah
Pemuda Kubu Nekat ke Balikpapan Demi Jodoh dan Dakwah

Pemuda Kubu Nekat ke Balikpapan Demi Jodoh dan Dakwah

by Imam Nawawi

Pemuda asal Kabupaten Bungo, Jambi, sebut saja Arifin tegar tengkuk menjajaki takdir jodohnya hingga ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tak ada kenalan apalagi sanak saudara di kota penghasil minyak mentah tersebut. Namun, ungkal kuatnya mengikuti Pernikahan Mubarak yang diadakan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah di Balikpapan tak dapat dibendung.

Saat diwawancara, Arifin baru saja tiba dari Bangka Belitung, ujung timur dari Pulau Sumatera. Di sana, ia sedang mengemban amanah berdakwah usai tuntas menjalani masa pendidikan di Sekolah Dai Hidayatullah, Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Arifin berasal dari suku Kubu, salah satu suku asli di Jambi yang hidup secara nomaden. Masa kecilnya jauh dari lingkungan dan pergaulan yang Islami. Sejak remaja, ia sudah terbiasa bekerja keras dan banting tulang demi membantu ekonomi kedua orangtuanya.

“Kalau di kampung dulu, biasa kerja kelapa sawit atau ikut ke lokasi menambang logam mulia. Saya lakukan demi membantu ekonomi keluarga,” ucapnya. Sebagai buruh tambang tradisional, penghasilan pun juga naik turun dan kadang tidak menentu.

Baca Juga: Memulai Hidup Bahagia

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang menawarinya untuk belajar agama secara mendasar. Tak buang waktu, ia pun segera mendaftar dan menjadi peserta Sekolah Dai Hidayatullah.

Tekad Kuat

Tekad yang kuat mengantarnya bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu hingga dinyatakan lulus. Selanjutnya, ia bersegera berkemas usai mendengar langsung pembacaan SK Penugasan Dakwah ke Bangka Belitung.

Jika dulu setiap waktu bergulat menambang logam mulia atau emas di Muara Bungo, kini ia sibuk menambang generasi mutiara yang siap melanjutkan estafeta perjuangan dakwah Islam.

Menikah untuk Bermanfaat

“Motivasi saya mengikuti Pernikahan Mubarak ini adalah untuk menjaga semangat diri untuk terus bisa bermanfaat bagi umat,” ujar Arifin.

Ia sadar, sudah banyak waktu yang terbuang percuma di masa remajanya dahulu. Kini, pemuda yang telah dipanggil ustadz oleh santri-santrinya itu ingin menebusnya dengan berkontribusi dan berbagi manfaat seluas-luasnya kepada umat.

Baca Juga: Kita Tak Perlu Pongah

Perjalanan Arifin menyentuh hati karena menunjukkan perjuangannya untuk memenikahmperbaiki diri dan meraih cita-citanya. Ia berasal dari keluarga yang sederhana dan memiliki masa kecil yang sulit. Namun, ia tidak menyerah dan terus berusaha untuk meraih kesuksesan. Luar biasa.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment