Selasa (8/7/25) pukul 19:30 hingga 21:30 WIB, Pengurus Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PP LIDMI) menyelenggarakan sebuah webinar nasional bertajuk “Jurnalisme di Era Disinformasi: Saatnya Pemuda Mengambil Peran!” melalui platform Zoom Meeting.
Acara ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembekalan bagi mahasiswa dan pemuda dalam membangun sikap kritis, produktivitas menulis, serta tanggung jawab sosial di dunia digital.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PP LIDMI, Andi Muhammad Sholihin, menyampaikan bahwa saat ini internet tidak hanya sarana informasi, tetapi juga medan pertarungan narasi.
“Kami ingin pemuda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tapi juga produsen kebenaran,” ujarnya.
Sholihin menegaskan pentingnya mengisi ruang digital dengan tulisan-tulisan bermutu, baik berupa berita maupun opini.
“Kita harus menjadi agent of truth — agen kebenaran,” katanya.
Tiga Senjata Hidup di Era Disinformasi
Pembicara utama, Mas Imam Nawawi atau akrab dikenal sebagai penulis di www.masimamnawawi.com, menekankan tiga hal penting yang harus dimiliki oleh setiap pemuda di era disinformasi.
Pertama, nalar kritis. Nalar kritis untuk menganalisis informasi yang datang. Ini penting sekali agar tak terjebak kebohongan dan ketidakbenaran. Kedua, produktivitas. Produktivitas informasi, seperti menulis berita atau artikel. Ketiga, kepedulian pada fakta dan kebenaran. Lebih jauh juga terhadap keberanian bersuara secara cerdas, santun, dan efektif.
“Ketiga hal ini adalah bekal kita agar tidak terbawa arus hoaks, fitnah, atau bahkan propaganda. Yang mana itu semua bisa merusak persatuan,” tutur Mas Imam.
Aktiflah Menulis
Senada, Haidir Fitra Siagian, kontributor Majalah Suara Muhammadiyah dan dosen jurnalistik di Fakultas Dakwah UIN Alauddin Makassar, mengajak peserta untuk aktif menulis. Lebih jauh juga sadar dan mau melaporkan kegiatan-kegiatan positif, bahkan khutbah Jumat sekalipun.
“Jangan ragu untuk menulis. Apa pun yang kita lihat, selama bernilai informasi dan bisa memberi manfaat, layak dituangkan,” ajak Haidir.
Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip jurnalistik dalam menyebarluaskan informasi. Konsep seperti tabayyun, verifikasi fakta, dan penggunaan data menjadi kunci agar tidak ikut menyebarkan disinformasi.
“Hindari clickbait, sensasi, atau judul provokatif. Itu justru merusak kredibilitas dan menyesatkan publik,” tandasnya.
Acara yang menjadi tempat belajar puluhan peserta itu juga menghadirkan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab langsung.*/Nu’man


