Home Kisah Pemimpin yang Menulis Mudah untuk Ditulis
Pemimpin yang Menulis Mudah untuk Ditulis

Pemimpin yang Menulis Mudah untuk Ditulis

by Imam Nawawi

Saat baru masuk mobil dalam perjalanan Depok-Ciputat, kolega saya, Bung Ainuddin menyodorkan sebuah buku untuk kubaca. Judulnya “Jalan Baru Moderasi Beragama Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir.” Dan, ternyata Hilman Latief yang memulai rangkaian naskah dalam buku setebal xx dan 506 halaman itu bercerita tentang pemimpin-pemimpin Muhammadiyah yang nafasnya menulis. Dalam hati saya membatin, pantas pemimpin yang menulis mudah untuk ditulis.

Pertama, pemimpin yang menulis telah menjejakkan pemikiran-pemikirannya secara terbuka. Hal itu memudahkan orang lain dan generasi berikutnya terhubung secara pemikiran.

Kedua, pemimpin yang menulis mengerti apa realita yang sedang berkembang, tahu mana problem, tantangan dan kesempatan untuk melangkah lebih maju. Melalui tulisan ia menitipkan semangat, memberi tahu bahwa berada di jalan kebenaran tidak akan merugikan.

Ketiga, pemimpin yang menulis akan menginspirasi banyak pihak untuk terus berdiskusi, menulis dan kembali diskusi, sehingga sekiranya sang penulis tiada, diskusi-diskusi pemikiran sang pemimpin akan terus berlangsung, menggelinding dan memacu serta memicu kekuatan intelektual.

4 Tokoh Muhammadiyah

Hal itulah yang terekam dalam diri 4 tokoh Muhammadiyah. Mulai dari Amien Rais, Syafi’i Ma’arif, Din Syamsuddin hingga Haidar Nashir. Keempatnya adalah pemimpin yang aktif menulis.

Baca Juga: Bahagia dengan Berkarya

“Tokoh-tokoh Muhammadiyah, selain memiliki kemampuan pidato juga memiliki basis intelektualisme yang kuat yang menjadi modal besar dalam menjadikan Muhammadiyah tetap berperan sebagai organisasi pembaru Islam di Indonesia,” tulis Hilman (halaman: 4).

Wajar kalau kemudian Hilman menulis Haidar Nashir sebagai sosok yang mampu menata gerakan ideologi Muhammadiyah dengan jurnalisme intelektual. Muhammadiyah memang lekat dengan jurnalisme, bahkan sejak era pra kemerdekaan.

Hilman mencatat dari koleksi Universitas Leiden, bahwa Muhammadiyah telah menerbitkan berbagai media, skala nasional dan regional sejak 1920-an sampai 1940-an. Ada Soeara Moehammadijah, kemudian Soeara ‘Aisjijah dan beberapa majalah daerah, seperti Al Chair di Surakarta pada tahun 1920-an.

Pemoeda Moehammadijah juga menerbitkan majalah Al-Ichtijaar di Malang. Kemudian majalah Kentongan di Surabaya dan masih banyak lainnya.

Kalau kita mau tafsirkan, pemimpin Muhammadiyah dengan kepenulisan memang tidak pernah berpisah. Sejak era pra kemerdekaan, Muhammadiyah lekat dengan produk jurnalistik.

Jadi, kalau 4 tokoh belakangan yang berkibar namanya dengan jejak pemikiran yang tertulis begitu kokoh, itu bukan perjalanan kemarin sore.

Tulisan

Hilman menilai bahwa “Tradisi jurnalistik memiliki peran yang bisa saling memengaruhi dengan intelektualisme dan kepemimpinan. Seorang dipercaya menjadi pemimpin karena diyakini memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk membawa arah organisasi menjadi lebih baik. Salah satu cara untuk mobilisasi sosial, diseminasi gagasan, dan konsolidasi kebijakan yang cukup efektif melalui publikasi tulisan” (halaman: 7-8).

Hilman melanjutkan, “Apalagi dalam konteks kebutuhan berkomunikasi dengan konstituen yang lebih luas. Dalam situasi seperti inilah pentingnya kemampuan jurnalistik, dan secara khusus jurnalisme intelektual dimiliki oleh seorang pemimpin atau pimpinan organisasi.”

Amien Rais – Haedar Nashir

Kemampuan jurnalisme intelektual itu yang mengasah banyak tokoh Muhammadiyah dikenal pemikirannya.

Baca Lagi: 5 Hal Penting tentang Menulis

Muhammad Amien Rais yang belakangan membidani lahirnya Partai Ummat, adalah sosok pemimpin dengan kemampuan menulis hebat. Ia pemimpin yang jurnalis sekaligus kolumnis andal sejak masih muda.

Syafi’i Ma’arif pun demikian, ia pemimpin yang aktif menulis di kolom harian umum Republika, bahkan lama memimpin majalah Suara Muhammadiyah dan Jurnal Inovasi UMY.

Din Syamsuddin menulis sejak mahasiswa, mulai dari jadi pemimpin redaksi buletin Perkasa, IMM Ciputat (1978-1980) hingga menjadi penulis pidato berbagai tokoh di masa 1993-1998. Mulai pidato untuk Menteri Agama, Panglima ABRI, Ketum Golkar dan sesekali Presiden Soeharto.

Dan, dalam catatan Hilman, dari semua tokoh itu, Haedar Nashir adalah sosok yang paling rajin dan banyak terlibat dalam dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan dan penulis rutin untuk opini dan refleksi untuk Suara Muhammadiyah, Ar-Risalah Persatuan Islam, dan kerap menulis di harian umum Pelita, Kompas, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Suara Merdeka dan Republika.

Kita patut belajar dari perjalanan panjang Muhammadiyah sebagai organisasi Islam berkemajuan. Sisi lain, kita penting memahami bagaimana pemimpin-pemimpin di Muhammadiyah memiliki kematangan mental, kecerdasan membaca dan menulis, serta tidak tergagap-gagap dalam melihat dinamika keumatan dan kebangsaan.

Pemimpin yang menulis memang punya nafas lebih panjang dalam mencerahkan banyak orang daripada pemimpin yang tidak menuliskan gagasan-gagasannya.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment