Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Pelajaran dari Bukti Kasih Sayang Allah, Termasuk kepada Firaun

Sebagai manusia, apalagi telah berumur lebih dari 40 tahun, kita merasakan hidup ini penuh warna, lika-liku dan tentu saja pelajaran dan bukti. Terutama bukti bahwa Allah sangat mengasihi setiap hamba-Nya. Kecuali manusia yang memang telah lama lupa dan tidak mau kembali pada kesadaran iman. Selama ini mungkin sebagian orang Islam beranggapan Allah menyayangi orang-orang beriman. […]

Pelajaran dari Bukti Kasih Sayang Allah

Sebagai manusia, apalagi telah berumur lebih dari 40 tahun, kita merasakan hidup ini penuh warna, lika-liku dan tentu saja pelajaran dan bukti. Terutama bukti bahwa Allah sangat mengasihi setiap hamba-Nya. Kecuali manusia yang memang telah lama lupa dan tidak mau kembali pada kesadaran iman.

Selama ini mungkin sebagian orang Islam beranggapan Allah menyayangi orang-orang beriman. Itu sudah pasti. Namun kalau kita perhatikan ayat ke-39 dari Surah Al-Ankabut, kita juga menemukan bukti betapa Allah juga mengasihi orang-orang kafir, bahkan yang paling beringas dan menantang kebenaran.

“Dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).”

Nabi Sebagai Bukti

Dari ayat itu kita dapat menarik pelajaran bahwa Nabi-Nabi Allah adalah bukti betapa Allah mengasihi siapapun, termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Walakin kesombongan membuat orang-orang itu gagal memahami siapa sebenarnya Nabi yang Allah utus itu. Alhasil kehancuran dan kebinasaan menerpa hidup mereka: Qarun, Firaun dan Haman.

Lebih jauh, kalau kita tarik dalam konteks mengapa ayat itu menyebut nama-nama orang yang zalim itu, menandakan bahwa semua terpantau oleh Allah SWT.

Sekarang kita bayangkan dalam hati, apakah Allah tidak tahu kita? Tidak mungkin. Sekelas Qarun, Firaun dan Haman terekam langsung oleh Allah, sampai Allah utus hamba-Nya bernama Musa as.

Nah, jangan-jangan Allah telah mengirim berbagai bukti kepada kita untuk tetap dalam iman, tekun dalam ibadah dan amal shaleh. Tapi karena pikiran atau tauhid kita lemah, kita memandang selain Allah sebagai jalan untuk keluar dari tekanan hidup. Ini yang patut menjadi renungan kita dengan sedalam mungkin.

Mari Berpikir

Kalau kita telusuri lebih dalam, mengapa Qarun, Firaun dan Haman gagal memahami bukti kasih sayang Allah, tidak lain karena kesombongan.

Kita tahu kesombongan adalah penghambat ilmu masuk ke dalam hati dan akal manusia. Kesombongan juga cenderung memandang orang lain buruk kalau tak sesuai dengan keinginannya. Hal itulah yang menjadikan akal dari ketiga nama itu tidak berfungsi dengan semestinya.

Tapi mengapa mereka sombong? Pertama, mereka merasa punya kekuasaan, ilmu dan kekuatan. Kedua, mereka merasa selama ini aman-aman saja. Ketiga, mereka memandang semua orang rendah. Alhasil mereka binasa.

Oleh karena itu mari terus membuka hati dan pikiran agar dapat melihat bukti-bukti kasih sayang Allah SWT.

Ayat ke-43 Surah Al-Ankabut menegaskan hal itu. “Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia. Namun, tidak ada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu.”

Dengan demikian Alquran mendorong kita untuk berpikir mendalam, bukan tentang seberapa mulia hidup saya, apalagi dalam pandangan manusia. Walakin tentang hal yang lebih dalam, apakah saya bisa melihat dan memikirkan kasih sayang Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika ini kita lakukan, insya Allah ketenangan hidup pasti akan Allah datangkan.*

Mas Imam Nawawi