Mas Imam Nawawi

- Kisah

Patriarki yang Melindungi: Ketika Bapak Jadi Benteng dari KDRT

Judul artikel “Patriarki yang Melindungi: Ketika Bapak Jadi Benteng dari KDRT” ini terinspirasi oleh teman Kang Maman di Facebook. Ia menceritakan pengalaman sekaligus wawasannya tentang KDRT. Dan, saya menilai ini berharga untuk kita. “Bapakku penganut patriarki, garis keras!” Itulah kalimat pembukanya. Tentu ini mungkin membuat kita mengernyitkan dahi, membayangkan sosok ayah yang otoriter dan mengekang. […]

Patriarki yang Melindungi: Ketika Bapak Kuno Jadi Benteng dari KDRT

Judul artikel “Patriarki yang Melindungi: Ketika Bapak Jadi Benteng dari KDRT” ini terinspirasi oleh teman Kang Maman di Facebook. Ia menceritakan pengalaman sekaligus wawasannya tentang KDRT. Dan, saya menilai ini berharga untuk kita.

“Bapakku penganut patriarki, garis keras!” Itulah kalimat pembukanya. Tentu ini mungkin membuat kita mengernyitkan dahi, membayangkan sosok ayah yang otoriter dan mengekang.

Namun, cerita yang dibagikan selanjutnya memberi perspektif berbeda, menyentuh hati, dan menginspirasi.

Meski berpegang teguh pada nilai-nilai patriarki tradisional, sang bapak ternyata memiliki cara unik untuk melindungi anak-anak perempuannya dari potensi KDRT.

Nasihat Pernikahan

Sang bapak yang patriarkis itu ternyata selalu memberi nasihat kepada 5 anak perempuannya saat menikah.

Nasihat pernikahannya yang sederhana namun tegas menjadi bukti bahwa ia menghargai martabat dan keselamatan anak-anaknya, bahkan di tengah budaya yang mungkin masih menempatkan perempuan di posisi subordinat.

Pesan “Pulanglah jika suamimu melakukannya 3 hal: berkhianat, memukul, atau tidak menafkahi” adalah bentuk perlindungan yang tak ternilai.

Sang bapak memberi tiga kriteria. Pulanglah jika suamimu melakukannya 3 hal. Pertama, mungkur turune (berkhianat/berselingkuh). Kedua, munggah tangane (memukul/menyakiti fisik). Dan, ketiga, kosong pedaringane (tidak menafkahi).

Pesan tersebut memberikan perlindungan bagi anak perempuan dengan memberikan mereka “jalan keluar” yang jelas dan dapat diterima secara sosial jika mereka menghadapi situasi KDRT dalam pernikahan mereka.

Ini menunjukkan bahwa meskipun sang ayah menganut nilai-nilai patriarki, ia tetap memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan anak-anaknya di atas segalanya.

Sang bapak, meski patriarkis, menciptakan ruang aman bagi anak-anaknya untuk kembali jika mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Tapi saya menilai, tidak terlalu masalah seseorang itu patriarkis atau egaliter, prinsipnya satu, bisa bertanggung jawab, melindungi dan menjadikan anak-anaknya selamat. Tentu saja selamat dunia dan akhirat. Tugas seorang ayah memang tidak ringan, meski secara fisik dan emosi, tugas seorang ibu juga sangat luar biasa.

Pentingnya Mengenal dan Menghindari KDRT

Kisah ini mengingatkan kita bahwa KDRT bisa terjadi di mana saja, bahkan dalam keluarga yang terlihat harmonis.

Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kasus KDRT di Indonesia masih sangat tinggi. Pada tahun 2022 saja, tercatat lebih dari 19 ribu kasus KDRT yang dilaporkan. Angka ini tentu saja hanya puncak gunung es, karena banyak korban yang memilih diam karena takut atau malu.

KDRT memiliki dampak yang sangat merusak, baik secara fisik maupun psikologis.

Korban KDRT seringkali mengalami trauma berkepanjangan, depresi, bahkan hingga bunuh diri. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mengenal tanda-tanda KDRT dan berani melawannya.

Menciptakan Lingkungan yang Aman

Kisah sang bapak juga memberikan inspirasi tentang bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.

Baca Lagi: Kuatkan Sifat Kasih dan Sayang

Kita perlu mengubah pola pikir yang masih menganggap KDRT sebagai masalah pribadi atau aib keluarga. KDRT adalah kejahatan yang harus dilawan bersama.

Kita juga perlu memperkuat sistem perlindungan bagi korban KDRT, baik melalui jalur hukum maupun dukungan sosial.

Korban KDRT harus merasa aman untuk berbicara dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Pada akhirnya dari cerita tentang bapak patriarkis yang melindungi anak-anaknya dari KDRT adalah pengingat bahwa cinta dan perlindungan bisa datang dari berbagai bentuk.

Mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan, di mana setiap individu merasa aman dan dihargai.

Ingatlah, KDRT bukanlah takdir. Kita semua memiliki peran untuk mencegah dan melawannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami KDRT, jangan ragu untuk mencari bantuan. Ada banyak lembaga dan organisasi yang siap membantu Anda.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *