Mas Imam Nawawi

- Kisah

Pahami Prinsip Kembangkan Praktik

Kemarin seorang teman – Bang Fu’ad – menemuiku. Ia membawa dua buah buku. Salah satunya yang covernya putih dan lumayan tebal memikat perhatianku. Saya pun membaca dengan cepat. Dan, saya pun tiba pada satu ungkapan yang menarik dan penting. Bahwa dalam hidup ini kita harus paham apa itu prinsip. Dengan begitu kita akan mudah memahami […]

Pahami Prinsip Kembangkan Praktik

Kemarin seorang teman – Bang Fu’ad – menemuiku. Ia membawa dua buah buku. Salah satunya yang covernya putih dan lumayan tebal memikat perhatianku. Saya pun membaca dengan cepat. Dan, saya pun tiba pada satu ungkapan yang menarik dan penting. Bahwa dalam hidup ini kita harus paham apa itu prinsip. Dengan begitu kita akan mudah memahami apa itu praktik.

Mengapa hal itu penting? Saya memiliki satu analogi untuk memudahkan kita memahaminya dengan sederhana.

Ada ungkapan: “Membangun rumah tanpa pondasi kuat, meski desainnya indah, itu akan segera runtuh saat badai datang.”

Nah, begitu pula dalam hidup kita. Praktik tanpa prinsip mudah goyah.”
Dalam konteks kekinian, ketika musibah banjir akibat ulah tangan manusia terjadi begitu hebat, kita bisa melakukan perenungan yang sama. Bahwa kita tidak mungkin hidup aman kalau prinsip pemeliharaan alam tidak kita lakukan.

Mengapa Urgen

Dari pendahuluan itu kita bisa memahami dengan mudah, bahwa prinsip adalah nilai inti yang tak berubah—kejujuran, keadilan, tanggung jawab, atau akhlak mulia.

Sedangkan praktik adalah cara kita mewujudkannya dalam konteks yang terus berubah—teknologi, budaya, tantangan sosial.

Prinsip seorang sekretaris dalam bekerja adalah piawai dalam segala urusan administrasi.

Dahulu sekretaris harus bermain banyak berkas dan dokumen cetak. Namun praktiknya sekarang dunia mengarah pada digital. Jadi, praktiknya berubah tapi prinsipnya tidak pernah.

Sama dengan prinsip pengetahuan. Bagaimanapun teknologi melaju, manusia butuh untuk membaca.

Oleh karena itu orang yang akan maju adalah yang memang pandai membaca, bukan yang HP-nya tipis, ringan dan kuota internetnya unlimited. Apalagi kalau HP itu ternyata lebih banyak berfungsi sebagai alat hiburan yang melalaikan hati.

Keduanya Penting

Namun demikian jangan bersikap dikotomik. Bagaimanapun kita butuh keduanya hadir dalam kehidupan ini. Sebab praktik tanpa prinsip akan membuat akal kita cenderung pragmatis, oportunis atau disorientasi. Kemudian, prinsip tanpa praktik juga hanya akan melahirkan slogan kosong.

Dalam konteks Indonesia, jika para elit politik lupa akan ruh yang menjadi prinsip UUD 45 maka mereka akan bermanuver untuk hal yang kecil dan tidak berguna panjang bagi negeri ini. Sebaliknya kalau mereka mengerti esensi UUD 45 tapi tidak bisa mewujudkannya dalam praktik politik yang relevan, negeri ini juga akan sangat kaya dengan slogan.

Apalagi kalau berbicara aspek hukum. Banyak ahli hukum di negeri ini, tapi apakah keadilan mudah orang temukan. Mungkin ada yang kecewa dan mengatakan: “Negara ini negara hukum, tapi kapan hukum itu tegak dengan keadilan?”

Dalam konteks lebih kecil, orang mungkin rajin ibadah, tapi dalam hal menuntut ilmu etosnya rendah, apalagi dalam hal kerja dan kinerja. Mengapa ini terjadi, tidak lain karena praktik kadang lepas dari prinsip.

Jadi, dengan memahami makna prinsip dan praktik ini dengan mendalam, semoga kita bisa menjadi lebih adil dalam segala sisi kehidupan ini. Kita bisa memberi nasihat, tapi kita tak lupa menjadi teladan. Kita ingin memberi kritik, tapi kita tak tertarik untuk membenci dan seterusnya.*

Mas Imam Nawawi