Home Kisah Ngobrol di Atas Terpal itu Luar Biasa
Ngobrol di Atas Terpal itu Luar Biasa

Ngobrol di Atas Terpal itu Luar Biasa

by Imam Nawawi

Judul “Ngobrol di Atas Terpal itu Luar Biasa” berangkat dari pengalaman weekend kemarin (Sabtu, 24/2/24).

Saya dan empat orang sahabat duduk melingkar, tapi tidak bulat penuh di teras rumah Bu Lek dari teman saya yang tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.

Suasana bincang-bincang kami terasa hangat, asik dan memantik pemikiran.

Baca Juga: Deru Amal untuk Milenial

Meskipun masing-masing kami harus mengencangkan volume suara, karena harus bisa tetap terdengar di balik nyaringnya sound system yang menggetarkan sekaligus jadi penanda ada hajatan bagi seluruh warga desa.

Bahagia Bisa Dimana Saja

Pengalaman kami kala itu menjadi bukti, bahwa bahagia bisa dimana saja. Untuk bisa tertawa, menajamkan pemikiran dan juga berpikir kritis, duduk bersama, gelar diskusi dengan alas terpal pun bisa.

Ada snacknya? Tentu ada, karena kami sedang dalam arena hajatan seorang teman atas pernikahannya.

Snack berupa jenang, pisang kepok, rengginang dan kerupuk singkong, plus kopi hitam, kadang jadi teh, kadang juga muncul jahe, semakin menyemarakkan obrolan kami.

Kami bisa bicara perihal apa itu materialisme, bagaimana merancang cara berpikir yang progresif, plus belajar dari bagaimana negara-negara maju menguasai banyak negara lain.

Tidak kalah penting, orbolan kita juga tentang bagaimana membangun manusia, melalui pendidikan dan perkaderan. Tema ini sudah pasti terangkat, karena salah satu peserta diskusi adalah seorang kepala sekolah, ada juga guru Quran dan seorang pendidik yang memang lulus ilmu pendidikan.

Baca Juga: Chat GPT Semua?

Saya sendiri tak lebih sebagai moderator, yang banyak meminta masing-masing kaum muda itu berbicara apa adanya. Mereka ternyata berani dan benar-benar mengemukakan pendapat semaksimal mungkin. Keren!

Kearifan

Sisi lain kami juga kembali belajar dari kearifan masyarakat desa.

Belajar kearifan dari masyarakat desa membawa pelajaran penting tentang hidup apa adanya.

Masyarakat desa seringkali memiliki sikap yang sederhana dan rendah hati, menerima apa yang mereka miliki tanpa terlalu banyak menginginkan hal-hal yang berlebihan.

Mereka memahami nilai-nilai akhlak yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti keramahan, kejujuran, dan tolong-menolong.

Fokus pada nilai akhlak juga menjadi pondasi utama dalam kehidupan masyarakat desa.

Mereka memprioritaskan hubungan yang baik dengan sesama dan memperhatikan kebutuhan bersama daripada kepentingan pribadi. Kehidupan sederhana mereka mengajarkan pentingnya kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur atas apa yang dimiliki.

Berani melawan arus materialisme adalah nilai yang diperjuangkan oleh masyarakat desa. Mereka tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang seringkali menghambur-hamburkan sumber daya untuk memenuhi keinginan materi.

Sebaliknya, mereka lebih memprioritaskan nilai-nilai yang bersifat abadi dan membangun hubungan yang kokoh dengan lingkungan dan sesama.

Dengan belajar dari kearifan masyarakat desa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya hidup sederhana, fokus pada nilai-nilai akhlak, dan berani menentang budaya materialisme yang seringkali mengaburkan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Jadi, obrolan kami luar biasa bukan semata karena tema yang kami bincangkan. Tetapi kearifan masyarakat desa yang menginspirasi kami untuk tidak lupa nilai dalam menjalani kehidupan fana ini.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment