Home Kajian Utama Nepotisme Kian Telanjang, Penguasa Bisa Tumbang
Nepotisme Kian Telanjang, Penguasa Bisa Tumbang

Nepotisme Kian Telanjang, Penguasa Bisa Tumbang

by Imam Nawawi

Suara hati nurani masih ada, sebagian pihak rela bersuara. Dan, sebabnya, mungkin kita semua sadar, yakni nepotisme yang kian telanjang, satu kondisi yang biasanya akan jadi sebab penguasa akan tumbang.

Hal ini bisa kita raba saat membaca berita sejumlah tokoh bangsa yang tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Rembang mendatangi Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Rembang, Jawa Tengah, Ahad (12/11/23).

Memang bukan berita baru, tapi narasinya tak lepas dari fakta-fakta gres kaitan dengan Pilpres 2024.

Sebagaimana ditulis CNN Indonesia, istri cendekiawan Nurcholish Madjid (Cak Nur), Omi Komariah Madjid sangat gusar menyikapi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang semakin merajalela.

Baca Juga: Makna Kekuasaan

“Sangat memprihatinkan sekali. Bahkan, nepotisme kekuasaan Anda lihat sendiri dipertontonkan kepada kita semua secara terbuka tanpa rasa malu dan salah sama sekali. Itu tadi yang saya menangis ke Gus Mus,” ujar Omi melalui tayangan di kanal YouTube, Minggu (12/11/23).

Buruk

Secara bahasa, nepotisme adalah perilaku yang memperlihatkan kesukaan secara berlebihan kepada kerabat dekat; kecenderungan mengutamakan sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat, di lingkungan pemerintah.

Dari definisi itu, kita sudah bisa meraba, nepotisme itu baik atau buruk.

Standar pilihannya bukan apa yang jadi kebutuhan negara, apa yang rakyat perlukan. Tetapi, siapa sanak saudara yang bisa mengisi.

Secara yuridis, definisi nepotisme kita bisa lihat dalam Pasal 1 angka 5 UU 28/1999.

Nepotisme adalah setiap perbuatan penyelenggara negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya yang merugikan orang lain, masyarakat, dan atau negara.

Penyelenggara negara itu bisa eksekutif, legislatif, atau yudikatif dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Keadilan

Dengan begitu kita bisa memandang bahwa nepotisme telah menghilangkan keadilan dalam pemilihan orang yang tepat untuk sebuah urusan.

Orang duduk pada sebuah jabatan tidak lagi karena pertimbangan kapasitas dan integritas. Akan tetapi semata karena faktor kedekatan, baik kerabat ataupun kepentingan.

Hal-hal seperti itulah yang mengundang galabah banyak pihak, termasuk para guru besar belakangan ini.

Kini tidak ada cara lain, kecuali kembali mengasah kepekaan hati, untuk bersikap sebagaimana manusia yang sejati. Mau jujur, terbuka dan adil.

Kenapa kita perlu melakukan itu, tidak lain karena dunia tak mungkin manusia kendalikan untuk selalu sama dengan seruan hawa nafsu diri. Penguasa bahkan raja yang tampak tak akan goyah pun, bisa sirna seketika.

Baca Lagi: Persahabatan karena Iman

Yakni ketika mereka telah gagal mendengar, memandang, semua seruan untuk berbuat baik, adil, dan jujur. Sementara rakyat yang tampak tak punya apa-apa, telah lama berpendirian.

Belajarlah pada sejarah, bagaimana penguasa-penguasa luar biasa larat dari kebenaran dan tumbang serta hilang. Tidakkah kisah orang terdahulu bisa jadi ibrah bagi kita semua?*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment