• Home  
  • Muda Memimpin Indonesia Emas, Strateginya?
- Artikel

Muda Memimpin Indonesia Emas, Strateginya?

Indonesia menatap tahun 2045, sebuah era emas yang diimpikan, di mana generasi muda hari ini akan menjadi tulang punggung kepemimpinan. Namun, menjadi pemimpin sejati bukan hanya tentang posisi atau jabatan. Dua kutipan inspiratif dari pakar terkemuka menggarisbawahi esensi kepemimpinan yang relevan bagi anak muda Indonesia. Glenn Llopis, seorang eksekutif, pengusaha, dan penasihat senior berdarah Kuba-Amerika […]

Muda Memimpin

Indonesia menatap tahun 2045, sebuah era emas yang diimpikan, di mana generasi muda hari ini akan menjadi tulang punggung kepemimpinan.

Namun, menjadi pemimpin sejati bukan hanya tentang posisi atau jabatan. Dua kutipan inspiratif dari pakar terkemuka menggarisbawahi esensi kepemimpinan yang relevan bagi anak muda Indonesia.

Glenn Llopis, seorang eksekutif, pengusaha, dan penasihat senior berdarah Kuba-Amerika untuk perusahaan Fortune 500, serta penulis buku laris seperti Earning Serendipity dan Leadership in the Age of Personalization.

Ia pernah menyatakan, “Orang tidak mengikuti Anda karena Anda punya jabatan. Mereka mengikuti Anda karena mereka mempercayai Anda.”

Llopis, yang juga kontributor Forbes dan Harvard Business Review, menekankan bahwa kepercayaan adalah fondasi utama kepemimpinan.

Bagi anak muda Indonesia, ini berarti membangun integritas dan rekam jejak yang dapat diandalkan sejak dini.

Kepercayaan publik tidak datang dari gelar, melainkan dari konsistensi tindakan dan kejujuran.

Oleh karena itu Fahri Hamzah dalam karyanya “Trilogi Kesejahteraan” memandang bahwa pemimpin harus hadir sebagai sosok yang genuine, bukan simbolik.

“Pemimpin seharusnya dekat dalam pengertian jujur dan terbuka. Pemimpin harus hadir dan mendengar,” tegasnya.

Memimpin Artinya Melihat Lebih Jauh dan Lebih Banyak

Senada dengan itu, Leroy Eimes, seorang penulis produktif dengan 14 buku, termasuk The Lost Art of Disciple Making, yang mengabdi lebih dari 50 tahun dengan The Navigators, mengatakan, “Pemimpin adalah orang yang melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan melihat lebih banyak daripada yang terlihat oleh orang lain.”

Kutipan Eimes ini menyoroti pentingnya visi dan ketajaman dalam melihat peluang serta tantangan yang mungkin terlewatkan oleh orang lain.

Untuk mencapai era emas 2045, anak muda Indonesia harus tekun dan sungguh-sungguh mempersiapkan diri.

Ini bukan hanya tentang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga tentang menumbuhkan karakter.

Sama seperti Fahri tekankan dalam “Trilogi Kesejahteraan”. Pemimpin itu mesti bisa menjelaskan sampai dimana langkah anak bangsa atau bahkan rakyat sekarang. Kemana arah dari langkah berikutnya.

Dari situlah kepercayaan dan komunikasi saling menguatkan bisa terjalin kuat.

Dalam kata yang lain membangun kepercayaan, seperti yang ditekankan Llopis, berarti menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan konsisten.

Sementara itu, mengembangkan visi ala Eimes menuntut kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan berani melihat melampaui batas-batas yang ada.

Dengan memadukan integritas yang kuat dan visi yang jauh ke depan, generasi muda akan mampu memimpin Indonesia menuju masa depan yang gemilang.

Bangun dari Sekarang

Berdasarkan uraian tersebut, kita dapat memahami bahwa anak muda harus mulai fokus membangun diri. Bangun kemampuan terbaik. Entah dalam hal kedisiplinan, konsistensi dan produktivitas. Semua itu modal awal untuk orang percaya kepada Anda.

Selanjutnya, jangan tenggelam dalam arus hari ini. Tapi siapkan diri untuk membuat arus pada masa depan dengan ketekunan melihat lebih jauh dan memandang lebih banyak.

Maka dari itu, sejarah Nabi Muhammad SAW yang menjadi gembala dan berdagang pada masa anak-anak bisa menjadi contoh konkret. Bahwa orang yang layak memimpin adalah yang siap sejak dini.

Jangan sampai seperti seorang pejabat tinggi yang tak mampu memberikan argumentasi atas kebijakannya sendiri. Cukup itu jadi pelajaran, jangan puas menijadikannya candaan belaka, tapi kita tetap lalai menyiapkan diri.

Bukan isu yang membuat kita siap. Tapi kesiapan diri yang akan mengubah isu dan bahkan pembangunan masa depan.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *