Home Kajian Utama Moral atau Modal?
Moral atau Modal?

Moral atau Modal?

by Imam Nawawi

Dalam politik, sedikit atau banyak orang sepertinya terbagi dalam dua titik. Mau berpolitik dengan orientasi moral atau masuk politik untuk mempertebal modal (baca kekayaan).

Keduanya tentu memilih sikap, tindakan, bahkan diksi-diksi yang tidak sama.

Namun, di tengah era digital seperti sekarang, tak banyak orang bisa dengan mudah melainkan, mana yang berpolitik dengan moral, mana yang jadikan poltik sebagai sarana mengeruk modal.

Ketidaktahuan sebagian masyarakat tentu menjadi porsi empuk bagi politisi berorientasi modal. Dan, menjadi lahan paling “tandus” bagi politisi bermoral.

Saya katakan tandus, karena siapa mau menang ia harus bisa menyiram “lahan” itu dengan kucuran dana yang tidak sembarangan. Minimal ia punya popularitas luar biasa.

Oleh karena itu belakangan sebagian pihak mulai grahita, bahwa orang yang menang pemilu tak lantas ujug-ujug bisa memimpin. Karena memang seseorang tidak bisa secara kejut jadi pemimpin.

Baca Juga: Moral Sangat Menentukan Kemajuan Bangsa

Menjabat adalah bagian dari proses memimpin. Tetapi tidak setiap pejabat otomatis cakap dalam hal memandu.

Moral

Pemimpin yang bermoral memiliki kejelasan dalam banyak aspek.

Mulai dari rekam jejak, karakter kepribadian, kejujuran, kredibilitas dan keberanian dalam bertindak.

Selain itu pemimpin bermoral juga memegang komitmen yang tinggi terhadap tujuan besar mensejahterakan rakyat.

Pemimpin bermoral bahkan siap melayani publik tanpa pamrih.

Mampu memberi inspirasi kepada masyarakat. Dan, pemimpin bermoral itu mempertuan keteladanan dalam kebaikan.

Sekaligus mempunyai ketangguhan mental dalam menghadapi kritik kala melakukan kekeliruan.

Modal

Pemimpin yang haus modal biasanya lawan dari berbagai karakter, sikap dan komitmen dari pemimpin bermoral.

Para pemimpin modal tak punya komitmen atas apa yang jadi janji-janjinya.

Ia hanya peduli terhadap nasib dirinya. Oleh karena itu, mau moral, kritik, atau apapun yang berbau nilai kemuliaan jika menghambat hasratnya mendapat modal, dengan mudah ia akan mengabaikan semua itu.

Bukan karena ia tidak tahu. Bahkan ia sangat memahami. Tetapi yang jadi tujuannya dalam berpolitik memang modal, bukan moral.

Maka lahirlah sosok-sosok pemimpin yang ucapannya tidak pernah bisa publik pegang. Sikapnya berubah-ubah, layaknya kapas tertiup angin.

Lalu mengapa tipe orang seperti itu bisa terpilih dalam jabatan-jabatan politik?

Jika terpilih karena suara rakyat, maka itu karena rakyat tidak mengerti, bahwa politik tak sebatas mencoblos.

Jika ia terpilih karena kehendak sosok yang punya kekuasaan, maka itu demi membesarkan hasrat amoral dalam kinerja kepemimpinannya.

Maka tidak heran jika kemudian muncul berbagai kebijakan yang menyiksa rakyat. Karena yang tampil sebagai pemimpin hanya tahu soal modal, buta dan membutakan hati soal moral.

Pada akhirnya saya ingin menutup bahasan kali ini dengan ungkapan Sun Zi.

“Bila seorang jenderal memperlakukan pasukannya seperti anak kesayangannya, mereka bersedia mendukung dan mati bersamanya.”

Baca Lagi: Moral yang Tertinggal dan Ditinggal

Mari kita garis bawahi kata-kata ini, “memperlakukan pasukannya seperti anak kesayangannya.” Yang bisa melakukan itu hanya orang tua (baca pemimpin) yang mengerti tanggung jawab.

Artinya ia adalah pemimpin bermoral. Dan, moral adalah sebaik-baik bekal dalam mengarungi kehidupan. Bukankah itu keteladanan dari manusia terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad SAW?*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment