• Home  
  • Merawat Kemauan Berpikir di Era AI
- Artikel

Merawat Kemauan Berpikir di Era AI

Tema merawat kemauan berpikir, utamanya di era AI, menjadi penting saat tidak sedikit orang mulai sering menggunakan AI untuk berbagai keperluan. Okki Sutanto dalam opini di Kompas.id “AI, Kemalasan Berpikir, dan Kesepian” menegaskan kita mesti bijak dalam menggunakan AI. “Sebagaimana penemuan-penemuan teknologi lain, AI tidaklah bebas dari masalah. Kemajuan internet memunculkan masalah-masalah baru di bidang […]

Merawat Kemauan Berpikir

Tema merawat kemauan berpikir, utamanya di era AI, menjadi penting saat tidak sedikit orang mulai sering menggunakan AI untuk berbagai keperluan.

Okki Sutanto dalam opini di Kompas.id “AI, Kemalasan Berpikir, dan Kesepian” menegaskan kita mesti bijak dalam menggunakan AI.

“Sebagaimana penemuan-penemuan teknologi lain, AI tidaklah bebas dari masalah. Kemajuan internet memunculkan masalah-masalah baru di bidang keamanan siber,” tulisnya.

Buat AI Menambah Wawasan

Saya punya pengalaman sendiri dalam hal menggunakan AI. AI harus kita jadikan sebagai “mitra” penambah wawasan.

Misalnya dalam konteks menulis, kita meminta AI untuk bisa melakukan koreksi terhadap tata bahasa.

Saat saya menerima kiriman data tentang sebuah kegiatan, di sana termaktub kata “masyarakat”. Begitu saya meminta AI memeriksa diksi yang perlu diganti secara lebih relevan, AI merekomendasikan kata “masyarakat” diubah menjadi “warga”.

Tak semata memberikan rekomendasi, AI memberikan alasan. Mengapa “warga” lebih tepat daripada masyarakat. Tidak lain agar sisi personal lokasi lebih terasa. Masyarakat spektrumnya begitu luas. Sedangkan warga adalah mereka, penduduk suatu tempat. Jauh lebih spesifik.

Interaksi dengan AI yang seperti ini, memberikan kita tambahan wawasan. Ke depan kita pun menjadi semakin peka dalam pemilihan diksi.

Jauhi Kemalasan Berpikir

Lalu mengapa kita penting menggunakan AI untuk lebih berwawasan?

Sebuah riset dari Carnegie Mellon University dan Microsoft Research Cambridge berjudul ”The Impact of Generative AI on Critical Thinking” memberikan informasi penting.

“Hasil riset menunjukkan bahwa ketergantungan berlebih terhadap AI bisa berdampak buruk terhadap kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah penggunanya,” tulis Okki Sutanto dalam opininya itu.

Dalam kata yang lain, jangan semua hal kita minta AI mengerjakannya. Apalagi kalau hasil AI kita percaya 100%.

Hal ini karena sifat otak mirip dengan otot manusia. Semakin sering kita gunakan dan latih, kinerja otak akan semakin optimal. Sebaliknya, semakin kita buat “pengangguran” otak, maka ia semakin lemah. Inilah yang memicu orang sangat tergantung pada AI.

Semangat Berpikir dengan Al-Qur’an

Meskipun demikian, kita masih punya peluang atau jalan emas untuk merawat kemampuan berpikir di era AI. Yaitu dengan tekun membaca Al-Qur’an.

Aktivitas membaca Al-Qur’an memberi sensasi lengkap. Tidak saja bagi otak, tapi juga rasa, jiwa dan hati.

Semakin sering orang berusaha memahami Al-Qur’an, semakin akan terbuka pemikirannya.

Misalnya, mengapa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasik. Tidak lain karena karakter orang fasik itu. Mereka suka melanggar perjanjian. Kemudian mencampakkan ajaran Islam. Amal saleh yang harusnya terus disusun, malah dirobohkan, bahkan mereka hancurkan. Bahkan tidak itu saja, mereka suka berbuat kerusakan di bumi.

Dalam kata yang lain, kalau ingin selamat, menikmati indahnya ajaran Islam, berhenti jadi orang fasik. Setidak-tidaknya itulah kesadaran berpikir yang bisa kita tumbuhkan. Wallahu a’lam.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *