Sore itu (Jum’at, 1/10) saya mendapat permintaan sahabat se-almamater dari STAIL Surabaya, Ustadz Mahbub sharing dengan santri putri SMP dan SMK Hidayatullah Kudus. Ustadz Mahbub mengenalkan saya sebagai orang yang sukanya menulis. Alhasil sesi diskusi pun ada yang bertanya, apakah boleh menulis dengan tema cinta.
Saya pun berusaha menjawab dengan nilai dasar yang bersumber dari Alquran, dimana kata cinta juga tertera di dalam kitab suci umat Islam itu.
Bahwa orang yang beriman amatlah kuat cintanya kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam kehidupan manusia, ada ruang dan dimensi cinta.
Semakin tinggi tingkat pemahaman seseorang terhadap Tuhan dan segala kekuasaan-Nya, maka imannya sudah tidak lagi teguh dan kokoh semata karena pemahaman, tetapi juga cinta, cinta yang sejati.
“Orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).
Menulis Novel
Menulis yang memberi ruang luas bagi manusia menorehkan apa pun dalam bingkai kebaikan ialah yang sifatnya fiksi, novel di antaranya.
Kita lihat, di Indonesia banyak sekali orang yang suka membaca novel. Buya Hamka termasuk ulama yang sukses menulis novel. Bahkan, belakangan tidak sedikit film ditayangkan berangkat dari cerita yang diangkat dalam sebuah novel.
Di dalam novel memang ada ruang untuk berbahasa yang indah, mendayu, dan tentu saja imajinatif. Terlebih kala menguraikan perihal rasa tentang cinta.
Dan, memang penulis muda Muslim masih jarang yang menekuni dunia tulis-menulis ini, termasuk dalam hal karya tulis fiksi.
Sekalipun telah ada sosok-sosok populer di Tanah Air yang besar dengan karya novel yang bertemakan cinta.
Seperti Kang Abik alias Habiburrahman Al-Shirazi dengan Ayat-Ayat Cinta-nya yang mampu menyedot perhatian banyak orang. Termasuk novel Ketika Cinta Bertasbih yang dalam film menampilkan Cholidi Asadil Alam sebagai aktor.
Cinta Ada Masanya
Namun demikian dalam kesempatan itu saya tegaskan bahwa bagi santriwati, menulis dan mengulas tentang cinta, itu ada masanya.
Sekarang, ketika energi badan sedang maksimal, pikiran juga potensial tajam, sebaiknya pikiran, perbincangan dan ulasan mengedepankan ilmu, iman dan amal. Usah tergesah-gesah membahas cinta.
Sebab, cinta yang tumbuh tidak pada waktunya dapat menyebabkan ketidakseimbangan hati, sehingga walau pun masih berstatus pelajar, santri dan mahasiswa, tetapi yang jadi pikiran justru tentang cinta.
Kecuali secara mental dan sikap memang siap memanivestasikan cinta dengan baik dan benar menurut Islam, maka hal ini tidaklah mengapa.
Sebab tidak sedikit orang yang masih kuliah lalu menikah dan mereka berhasil menjadi keluarga yang sakinah.
Akan tetapi cinta yang paling utama dan ini butuh terus menerus orang perjuangkan ialah cinta kepada Allah. Alhasil hati ringan, ridha, dan rela untuk tunduk seutuhnya dan sepenuhnya hanya kepada Allah Ta’ala.
Dan, mewujudkan itu sebenarnya tidak sulit, karena memang ada teladan dari hamba Allah yang terbaik, yakni Nabi Muhammad SAW.
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31).*


