Mas Imam Nawawi

- Artikel

Menjadi Pemimpin yang Berani

Tema menjadi pemimpin yang berani ini saya hadirkan karena satu pengalaman singkat namun mendalam. Yakni ketika saya bertemu Ust. Zainuddin Musaddad di ruang kerja beliau di Pusat Dakwah Hidayatullah (13/11/25). Pria murah senyum yang akrab orang sapa dengan Abah menjelaskan tentang satu hal yang penting ada dalam jiwa seorang pemimpin, yaitu keberanian. Dalam tinjauan umum […]

Menjadi Pemimpin yang Berani

Tema menjadi pemimpin yang berani ini saya hadirkan karena satu pengalaman singkat namun mendalam. Yakni ketika saya bertemu Ust. Zainuddin Musaddad di ruang kerja beliau di Pusat Dakwah Hidayatullah (13/11/25).

Pria murah senyum yang akrab orang sapa dengan Abah menjelaskan tentang satu hal yang penting ada dalam jiwa seorang pemimpin, yaitu keberanian.

Dalam tinjauan umum memang benar. Seorang pemimpin mesti berani, utamanya dalam mengambil keputusan dan siap dengan kemungkinan resiko. “Tanpa keberanian, pemimpin akan terus bermusyawarah tanpa ada kesiapan melangkah secara pasti,” tegas Ust. Zain.

Tingkat Keberhasilan

Mengapa pemimpin yang berani itu penting? Tidak lain karena setiap manusia punya mental. Orang yang berani artinya memiliki mental yang kuat. Jika seseorang memiliki mental yang kuat maka persentase tingkat keberhasilannya juga akan besar. Sebab mental punya pengaruh besar dalam seseorang berpikir, mengambil keputusan dan bertindak.

Kita tentu ingat keberanian Nabi Muhammad SAW saat mengambil keputusan penting menjelang hijrah ke Madinah. Pada malam itu, beliau meminta Ali untuk tidur di ranjang beliau. Keputusan ini penuh resiko, tetapi Nabi SAW telah mempertimbangkannya dengan matang dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika para pengepung datang, mereka ingin memastikan bahwa orang yang tidur di ranjang itu benar-benar Muhammad. Mereka menyingkap selimut itu, lalu terkejut. Orang yang tidur di sana ternyata Ali, bukan Nabi.

Syaja’ah

Keberanian itu seperti apa? Tentu yang mengarah pada kebaikan dan kemajuan. Oleh karena itu kita perlu melihat makna keberanian dari kata “Syaja’ah”.

Secara bahasa syaja’ah bermakna keberanian atau keperwiraan, sikap keberanian dan ketangguhan dalam membela kebenaran.

Kemudian secara istilah, syaja’ah adalah keteguhan hati, kekuatan pendirian dalam membela dan mempertahankan kebenaran secara bijaksana dan terpuji.

Nah, kita berangkat dari makna syaja’ah itu secara istilah, sehingga berani yang kita pahami bukan nekat, bukan pula yang tiba masa tiba akal.

Dua Jenis Syaja’ah

Syaja’ah itu sendiri terbagi dua: syaja’ah harbiyah dan syaja’ah nafsiyah. Syaja’ah harbiyah adalah keberanian yang muncul secara default dalam jiwa seseorang. Berani maju ke medan perang demi membela agama dan negara. Seperti Umar bin Khattab ra ia adalah pemimpin yang sangat pemberani.

Sedangkan syaja’ah nafsiyah adalah keberanian yang secara mental ada dalam jiwa seseorang. Orang seperti ini berani menghadapi mara bahaya bahkan penderitaan sekalipun, jika memang perkara tersebut untuk menegakkan keadilan.

Penerus Tugas Kenabian

Meski menjadi pemimpin tidak mudah, tapi jangan tidak berlatih menjadi pemimpin. Perkara ini sangat penting. Sebab sebuah bangsa atau kaum kalau kehilangan pemimpin yang berkarakter, kehancuran sudah dekat.

Oleh karena itu Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa pemimpin (al-khilafah wa al-imamah) adalah penerus tugas-tugas kenabian dalam rangka menjaga agama dan politik dunia (Zulkifli Mohd Yusoff dan Abdul Hafiz Abdullah “Pemimpin Menurut Pandangan Hamka: Satu Tinjauan Dalam Tafsir Al-Azhar”).

Dengan demikian, kuatkanlah karakter kepemimpinan dalam jiwa kita semua. Kata Hamka orang itu bisa menjadi pemimpin karena beberapa faktor. Mulai dari keturunan, kekuatan, kepandaian.

Kita mungkin bukan keturunan pemimpin. Tetapi dengan kekuatan seperti ekonomi kita bisa ikut membangun kemajuan dan kesejahteraan umat. Pun bagi yang memiliki kepandaian kita bisa menjadi pemimpin.

Penjelasan Hamka sederhana, orang mengakui seseorang pemimpin karena mereka melihat ada kelebihan dalam jiwa orang itu. Kelebihan itu meliputi kekuatan, kepandaian dan berani.

Jadi kalau begitu, siapapun kita, kalau dapat amanah memimpin, jadilah pemberani. Pemberani yang berangkat dari konsep syaja’ah. Sebab cepat atau lambat kepemimpinan kita akan memberi dampak. Apakah baik dampaknya, itu tergantung pada kesadaran kita untuk bertindak: berani atau tidak.*

Mas Imam Nawawi