Home Kajian Utama Menjadi Pembaca yang Produktif, Ini Jalannya. Langsung Praktik Saja!
Menjadi Pembaca yang Produktif, Ini Jalannya. Langsung Praktik Saja!

Menjadi Pembaca yang Produktif, Ini Jalannya. Langsung Praktik Saja!

by Imam Nawawi

Banyak orang mengaku kepadaku, bahwa buku yang telah ia baca, tak banyak yang bisa ia ingat. Logikanya mengatakan, bukankah artinya lebih baik tidak usah membaca kalau kondisinya seperti itu? Begitu kebanyakan berpandangan. Tetapi, kenapa tidak berpikir bagaimana menjadi pembaca yang produktif, sehingga terus bersemangat membaca?

Membaca adalah proses belajar, mengeja, mencerna atau meraba. Ketika orang banyak membaca, tetapi kehilangan power ingatan dalam kepalanya, bukan berarti membaca tidak penting. Tetapi cara membacanya perlu penajaman dan peningkatan, mulai sisi motivasi hingga metodologi.

Person yang begitu sebenarnya seperti orang yang mengendarai motor keliling alun-alun. Jika ia memang tidak ada tujuan, selain berputar-putar, maka jangan tanyakan kepadanya ada tidaknya penjual es cendol di alun-alun. Ia tidak melihat apalagi menyadari.

Berbeda kalau orang itu keliling alun-alun dengan tujuan, ingin menemukan penjual sate misalnya. Maka selepas berkeliling, kembali ke rumah ia akan membawa informasi jelas, bahwa ada sate enak di alun-alun.

Begitu pun membaca, kalau hanya melihat rangkaian huruf, kata dan kalimat, maka ia tidak punya daya ingat apapun. Tetapi kalau membaca memang ada target, ia akan menemukan hal-hal penting dari apa yang dibacanya.

Baca Juga: Inilah Kunci Tegaknya Kebaikan – Kebaikan

Apalagi orang yang memang tidak punya pengalaman indah dengan membaca, melirik cover buku pun ia akan ogah.

Tindakan Lanjutan

Membaca itu bisa kita anggap sebagai belajar (learn). Ini adalah tahap input. Selanjutnya ada tindakan penting susulan yang harus kita siapkan berupa output, yaitu refleksi, implementasi, dan berbagi.

Tanpa output yang memadai, berapapun lembaran buku dibaca, berjam-jam podcast disimak, tidak akan ada yang bisa menjadi kekuatan memorinya. Karena semua hanya berhenti pada tahap input. Tidak ada output.

Sejak saya membaca buku “Aku Menulis Maka Aku Ada” karya Kang Maman, yang di dalamnya juga berbicara tidak ada teori tunggal dalam menulis, maka saya menulis dengan “sesuka hati.”

Ternyata hasilnya bagus, tetap terbit di Hikmah Republika dan semakin produktif menulis di website pribadi ini. Apalagi kala dorongan Kang Maman menyebutkan, baca dan kuatkan dengan tulisan dan perasaan.

Menulis menjadi aktivitas yang semakin indah, karena menggali hati untuk memberi bingkai terhadap apapun, sehingga tulisan benar-benar bahasa hati, bukan lagi sebatas keindahan bahasa dengan kaidah sastra maupun retorika.

Dahulu, saat Alquran turun bertahap, para sahabat Nabi SAW tidak buru-buru menghafal ayat Alquran. Mereka belajar membaca, memahami, lalu mengamalkan. Barulah setelah itu mereka menambah pelajaran Alquran. Kami belajar 10 ayat, 10 ayat. Tapi sekali belajar Alquran yang mereka baca, telah menjadi karakter diri.

Jadi, merefleksikan bacaan kita langkah strategis setelah membaca. Kemudian implementasikan. Jangan merasa telah tahu, apalagi sekadar banyak tahu, tapi tidak ada jejak langsung dari pengetahuan itu. Lalu, sharing, bagikan kepada siapapun.

Kita tahu, orang yang membagikan ilmu pasti semakin cerdas dan hidup penuh berkah.

Biasakan

Langkah berikutnya tentu kita tahu, biasakan. Kalau untuk urusan sepakbola saja Ronaldo harus terus berlatih keras dengan konsisten apalagi soal ilmu.

Baca Lagi: Inilah Seni Menerima Kenyataan

Tapi bagaimana orang mau belajar maksimal, sebentar-sebentar cek hape, sedikit-sedikit main hape. Itulah distraksi yang harus bisa kita atasi.

Tak ada tukang bangunan bisa menyusun batu bata dengan baik sedangkan ia rebahan sambil merokok.

Dalam arti yang lain, rumus ini akan jadi kekuatan kalau kita membiasakan. Mulai sehari ini, sepekan depan, sebulan lagi dan setahun berjalan, insha Allah akan datang kekuatan besar.

Prinsipnya jangan lupa output tadi. Dalam rumusnya, output harus kita lakukan 2 kali lebih lama dari pada input. Kalau kita membaca 1 jam, maka refleksi, implementasi dan sharing, harus 2 jam lebih banyak.

Saya kemudian teringat akan ayat, iman manusia itu Allah terima, jika ia tidak memisahkannya dari amal sholeh. Iman yang melahirkan tindakan, perbuatan, perilaku. Bukan retorika apalagi sekadar cerita dan utopia.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment