Home Artikel Menghasilkan Cepat dan Nikmat
Menghasilkan Cepat dan Nikmat

Menghasilkan Cepat dan Nikmat

by Imam Nawawi

Beberapa waktu lalu, teman yang senang membeli buku menyodorkan buku barunya. Buku ini tidak benar-benar baru, tapi dia baru membeli dan memilikinya. “Blink” itulah judulnya karya Malcolm Gladwell. Usai membaca cepat saya menarik kesimpulan bahwa orang bisa menghasilkan karya dengan cepat dan harus nikmat.

Beberapa teman keheranan melihat Kang Maman dalam tayangan Q&A Metro TV, bagaimana dalam momen terbatas, pria periang itu bisa menulis kesimpulan yang tidak saja indah tetapi juga sangat menggugah. Keahliannya dalam notulensi benar-benar teruji.

Kang Maman pernah bertutur kepadaku, semua itu adalah karena kebiasaan, ketekunan dan kesungguhan dalam membaca (Iqra) sekaligus menulis.

Jadi, sekiranya Kang Maman merem saja untuk menyusun kalimat yang bagus, itu akan sangat mudah baginya.

Baca Juga: Menghidupkan Spirit Pelaku Sejarah

Kondisi Kang Maman itu membuatku senang menghubungkannya dengan teori Gladwell tentang “thin-slicing.”

Cepat

Thin-Slicing merupakan proses memberikan penilaian secara cepat terhadap dunia dengan menggunakan bukti yang terbatas. Itu dalam bahasa sehari-hari orang dahulu kita kenal dengan istilah firasat.

Dan, firasat dalam kasus-kasus tertentu memang efektif, sehingga kita tak perlu capek apalagi lambat dan membayar dengan biaya mahal untuk membuat satu keputusan.

Berbagai contoh kasus Gladwell hadirkan dalam buku itu. Walaupun tak semua contoh bagiku menarik. Tetapi itulah pengalaman Gladwell.

Pikiran

Gladwell membagi pikiran manusia dalam dua kategori. Pertama, pikiran sadar, pikiran rasional. Kedua ia sebut dengan “ketidaksadaran adaptif.”

Umumnya orang menggunakan pikiran sadar, sehingga ia pandai mempelajari berbagai hal berdasarkan bukti.

Sedangkan ketidaksadaran adaptif menempuh cara berbeda dalam bernalar. Pikiran kedua ini mahir menilai sejumlah kecil bukti tentang dunia luar (irisan tipis) dan kemudian membuat keputusan naluriah tentang bagaimana merespon bukti tersebut.

Baca Lagi: Serakah vs Sedekah

Gladwell menulis, “Bawah sadar adaptif mempunyai kemampuan sangat istimewa dalam hal mengukur situasi, memberi peringatan tentang bahaya, menetapkan sasaran dan memulai aksi secara efisien dan canggih” (edisi Indonesia halaman 12).

Indah

Lalu apa korelasinya dengan judul yang saya cantumkan?

Orang yang mampu menggerakkan bawah sadar adaptif artinya telah melakukan hal-hal penting secara konsisten dalam waktu yang tidak sebentar.

Oleh karena itu, bicara bagaimana menghasilkan suatu kebaikan dengan cepat dan nikmat, seseorang harus benar-benar memulai itu sejak dini.

Kalau kita tarik dengan fakta sejarah, bagaimana Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, seperti itulah kira-kira cara paling baik untuk kita menjadi orang yang firasatnya tajam. Cepat dalam pikiran, gerak dan kemenangan.

Tapi cepat tetap butuh media ruang dan waktu, tak sama dengan seketika jadi. Jika ingin segera mewujud, itu hanya kehendak Tuhan: “kun fayakun.”

Jadi, kita bisa ambil kesimpulan, kecepatan seseorang dalam kebaikan bukan hanya karena pengetahuan teori dan pengalaman empirik, tetapi juga teguhnya iman kepada Allah Ta’ala.*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment