Home Artikel Menghadirkan Pemimpin Adil
Menghadirkan Pemimpin Adil

Menghadirkan Pemimpin Adil

by Mas Imam

Berbicara pemimpin dan kepemimpinan kita tidak bisa lepas dari realitas terkini dan idealitas historis. Umat Islam penting sekali menemukan jalan “terbaik” untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin besar.

Besar di sini bukan semata jabatannya, tetapi juga karakter dan sifatnya. Dalam sejarah ada seorang raja bernama Ap Arselan Muhammad dari Bani Saljuk yang sangat cinta bersedekah.

“Setiap Ramadhan bersedekah 10. ooo dinar, tidak dikenal perbuatan meukai orang lain dan pencekalan pada zamannya, ia merasa cukup dengan pajak Qishthain dari rakyat, karena kasihan terhadap mereka (rakyat yang dipimpinnya).

Baca Juga: Dirimu adalah Pemimpin

Pemimpin besar sangat cermat memilih orang kepercayaan. Ia selalu ingin amanah besar yang ada berada dalam genggaman orang-orang yang tepat dan penuh tanggung jawab.

Dalam hal urusan pemerintahan Alp Arselan memercayakan urusan strategis itu kepada Nizham Al-Mulk, sehingga segala urusan pembangunan berjalan dengan baik.

Indonesia ke depan, sangat butuh sosok pemimpin besar, tepatnya jiwanya. Karena dengan jiwa besar ia mampu membangun bukan sekedar lihai kampanye.

Orang yang membelanya pun bukan dengan kata-kata kotor dan kasar karena mendapat bayaran. Tetapi dengan bukti dan karya nyata dalam segala kebaikan yang rakyat sangat membutuhkan.

Dengan begitu pemimpin itu memang benar-benar pantas mendapat cinta dari rakyat.

Demokrasi yang Kerdil

Kita tidak ingin hidup bernegara dengan wajah selalu bertengkar dan berdebat, tetapi kita harus jujur. Bahwa sejak era reformasi bergulir, demokrasi di Indonesia belum menghasilkan pemimpin yang berjiwa besar seutuhnya.

Sebagian besar orang memandang demokrasi cenderung secara kerdil, utamanya para politisi. Akibatnya setiap pemilu berlangsung isu selanjutnya adalah hal-hal yang tidak membangun.

Alih-aih bisa membahagiakan rakyat. Rakyat justru semakin sibuk dengan ulah pejabat terpilih yang seringkai melupakan janji-janjinya yang manis.

Bahkan, kalau mau ambil perbandingan keberhasilan, menengok Malaysia saja, Indonesia tertinggal.

“Dengan Malaysia saja kita kalah baik dalam menunjukkan corak nasionalisme maupun gaya kepemimpinan bangsa yang dapat melindungi rakyat dan negaranya. Padahal Malaysia hampir sepenuhnya belajar tentang nasionalisme dari Indonesia,” jelas Ketua Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, saat berbicara pada seminar “Mencari Format Ideal Kepemimpinan Bangsa Berwawasan Kebangsaan,” yang diadakan Universitas Krisnadwipayana (Unkris) di Jakarta, Rabu (9/5/2012).

Kemudian maraknya politik dinasti di banyak daerah, menjadikan demokrasi kian tidak memiliki wajah idealnya. Demokrasi lebih sekedar dekorasi daripada substansi.

“Politik dinasti memungkinkan kesinambungan kekuasaan satu keluarga atau kerabat, sehingga membuka peluang untuk korupsi,” kata Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, dalam diskusi Polemik Politik Dinasti di Indonesia di Jakarta seperti dilansir rm.id.

Sementara itu Pengamat Ilm Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Ternate, Maluku Utara, DR. Herman Oesman menilai bahwa demokrasi di Indonesia masih melahirkan pemimpin korup.

“Kita lihat berapa banyak kepala daerah, pejabat di pusat bahkan pemimpin partai yang terlibat kasus hukum,” jelasnya dalam dialog Pemilu yang digelar atas kerjasama Bawaslu Maluku Utara dan PWI Maluku Utara seperti dilansir Antara (21/3/2019).

Jadi, kita perlu meninjau ulang praktik demokrasi Indonesia. Tentu saja ini tidak cukup melalui jalur formal regulasi. Amat perlu juga jalur kultur masyarakat itu sendiri.

Semakin rakyat mengerti bagaimana demokrasi yang sebenarnya, maka kemungkinan lahirnya kepemimpinan yang lebih baik akan semakin dekat.

Tetapi selama rakyat hanya menjadi objek dagangan setiap kali gelaran pemilu, maka sebenarnya demokrasi yang ada bukan lagi sekedar kerdil tapi sudah sangat memalukan.

Pemimpin Adil

Berdasarkan hal di atas maka, kita butuh pemimpin yang konkret sifat dan karakternya, mau dan mampu berbuat adil. Tetapi hadirnya pemimpin seperti ini tidak bisa semata-mata dari sosok tokoh yang ada.

Rakyat harus terlibat secara aktif dan sadar bahwa demokrasi, tepatnya pemilu di 2024, sebagai momentum penentu lahirnya pemimpin yang besar jiwanya dan adil di dalam kepemimpinannya.

Baca Lagi: Peran Pemimpin Negara yang Terus Merosot

Kita tidak bisa melangkah terlalu jauh pada romantisme sejarah dan idealisme kepemimpinan. Tetapi yang paling nyata harus kita wujudkan bersama ialah bagaimana melahirkan pemimpin yang adil.

Seorang pemimpin bisa adil mana kala ia tahu apa itu kebenaran sekaligus kebathilan. Kemudian ia kokoh dalam menegakkan kebenaran. Itulah pemimpin dengan pandangan mendalam dan tanggung jawab yang kuat.

Syaik M. Ali Ash-Shabuni dalam karyanya, “Shafwatut Tafasir” menerangkan ayat ke 33 dari Surah Az-Zumar. Sesungguhnya orang yang adil adalah orang yang bertaqwa.

Keadilan adalah bila kebaikan dan keburukan mendapatkan timbangan perhitungannya dengan pasti. Kemmudian berlakulah pembalasan kepada masing-masing.”

Menghasilkan pemimpin seperti itu tentu tidak mudah, tetapi kita tidak harus berputus asa hanya karena perkara ini tidak ringan.

Langkah penting kita dari sekarang ialah memahami bahwa sosok pemimpin itu penting, menentukan dan strategis. Kalau dari sekarang kita paham itu dan tahu kemana suara mestinya mengarah.

Dengan demikian, insha Allah, Allah akan menghargai ikhtiar kita semua. Insha Allah.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment