Mas Imam Nawawi

- Artikel

Menggugat Rapuhnya ‘Mental’ Generasi Layar Sentuh Melalui Fenomena ‘Puber Aqidah’ 1975

Dalam diskursus sosiologi kontemporer, kita sering berhadapan dengan paradoks kemajuan. Dalam satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses informasi yang nyaris tanpa batas; namun pada sisi lain, kita menyaksikan fenomena fragilitas (kerapuhan) mental yang menjangkiti generasi muda hari ini. Fenomena healing, burnout, hingga krisis eksistensial menjadi kosakata harian anak muda yang bahkan belum sepenuhnya terjun ke […]

Menggugat Rapuhnya 'Mental' Generasi Layar Sentuh Melalui Fenomena 'Puber Aqidah' 1975

Dalam diskursus sosiologi kontemporer, kita sering berhadapan dengan paradoks kemajuan. Dalam satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses informasi yang nyaris tanpa batas; namun pada sisi lain, kita menyaksikan fenomena fragilitas (kerapuhan) mental yang menjangkiti generasi muda hari ini.

Fenomena healing, burnout, hingga krisis eksistensial menjadi kosakata harian anak muda yang bahkan belum sepenuhnya terjun ke dunia nyata. Mereka sudah terbakar oleh bayang-bayang dari pikiran dan imajinasinya sendiri.

Lantas, bagaimana kita membaca fenomena ini? Untuk menjawabnya, saya telah menengok ke belakang (mengamati satu momen sejarah). Yakni pada sebuah catatan historis sosiologis tahun 1975 yang terekam dalam buku “Mencetak Kader” karya Mansur Salbu. Sebuah buku yang mengungkap dengan lengkap bagaimana kisah perjalanan hidup Ust. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah.

Dalam buku itu terdapat anomali sosial yang menarik untuk kita bedah: sebuah generasi yang justru tumbuh subur di tengah keterbatasan, sebuah fenomena yang disebut oleh Ust. Mansur sebagai “Puber Aqidah”.

Puber Aqidah dan Resiliensi Tanpa Syarat (Era 1975)

Data historis menunjukkan fakta yang mencengangkan bagi nalar modern. Pada tahun 1975, Ust. Abdullah Said melepas puluhan kader—sebagian masih berusia belasan tahun—ke gelanggang dakwah yang antah berantah.

Bekal logistik mereka sangatlah minim, hanya uang saku Rp 5.000 dari Walikota Balikpapan (hal. 129). Secara material, ini seakan-akan misi bunuh diri. Namun, secara spiritual dan mental, ini adalah pesta “Puber Aqidah”.

Istilah “Puber Aqidah” di sini merujuk pada lonjakan gairah keyakinan yang meluap-luap, di mana tugas berat bukan dianggap beban, melainkan kanal penyaluran energi (hal. 129).

Dr. Abdul Ghofar Hadi, selaku Kabid Perkaderan DPP Hidayatullah pernah menceritakan pengalamannya. Bahwa kehidupan masyarakat pesantren Hidayatullah Balikpapan sangat “rindu” dengan tugas. “Kalau sampai tidak tugas, rasanya ada yang aneh, menyesakkan dada,” katanya kepadaku dalam satu momen.

Mengapa bisa seperti itu? Lalu apa metodologi mereka?

Sederhana namun filosofis: “Menceritakan apa yang dirasakan selama menempa diri.” Mereka menjual pengalaman batin, bukan retorika kosong (hal. 130).

Ust. Abdullah Said memang berhasil menjadikan suasana keseharian yang meliputi ibadah, berpikir dan bekerja sebagai satu kesatuan. Orang yang menjalani kehidupan itu selam enam bulan saja, sudah bisa membawa “gaya hidup” progresif itu ke tempat lain, hingga berdiri pesantren Hidayatullah yang baru di lokasi yang baru.

Wejangan Etika

Yang paling krusial dari tesis ini adalah etika sosial mereka. Mereka mendapatkan wejangan untuk tidak arogan—karena arogansi adalah musuh langit dan bumi.

Seluruh kader dan santri Hidayatullah penting untuk menggunakan bahasa yang bijak dan bersahabat. Jangan semau gue kata anak sekarang.

Puncak dari ketahanan mental mereka terlihat pada respon terhadap kritik. Ketika ditegur salah baca ayat atau hadits, mereka tidak merasa dipermalukan atau baper (bawa perasaan).

Sebaliknya, mereka mengucapkan terima kasih dan menjadikan pengkritik itu sebagai guru (hal. 130). Ini adalah bentuk humility (kerendahan hati) tingkat tinggi yang menjadi benteng pertahanan mental mereka.

Generasi Kaca dan Hilangnya Fokus (Era Kontemporer)

Kini, mari kita hadapkan cermin sejarah itu pada wajah generasi hari ini. Kita menemukan sebuah antitesis yang tajam.

Anak muda sekarang hidup dalam kelimpahan fasilitas, namun miskin daya juang. Istilah Strawberry Generation mungkin terdengar klise, namun gejalanya nyata: mudah memar hanya karena tekanan sosial yang minimal.

Pertama, soal konsentrasi. Jika kader 1975 fokus pada “apa yang bisa saya beri”, generasi sekarang tersandera oleh “apa yang orang pikirkan tentang saya”.

Algoritma media sosial telah merusak rentang fokus (attention span) mereka, membuat mereka sulit berkonsentrasi pada narasi besar seperti dakwah. Dakwah dianggap berat, kaku, dan tidak relate.

Kedua, soal validasi dan kritik. Jika kader 1975 menjadikan kritik sebagai sarana menjalin persahabatan (“jadikanlah ia sebagai gurumu”), anak muda sekarang cenderung melihat kritik sebagai serangan personal atau toxic.

Ketakutan akan penghakiman membuat mereka menarik diri, cemas berlebihan, dan akhirnya rapuh. Mereka kehilangan “imunitas sosial” karena terlalu sibuk melindungi ego, bukan meleburkannya dalam tugas mulia.

Rekonstruksi Kesadaran Melalui ‘Misi Transenden’

Di persimpangan antara ketangguhan masa lalu dan kerapuhan masa kini, kita memerlukan sintesis baru. Kita tidak bisa memaksa anak muda kembali ke tahun 1975 secara fisik, tetapi kita harus “mengimpor” software mentalitas mereka.

Sintesisnya adalah: Kesehatan mental yang sejati tidak ditemukan dalam pelarian (escapism), melainkan dalam penunaian tugas (mission). Oleh karena itu penugasan kader dalam Hidayatullah adalah tradisi yang terus mendapat perhatian untuk tetap terawat dengan baik.

Anak muda perlu disadarkan bahwa “Puber Aqidah” adalah antitesis dari depresi. Ketika seseorang memiliki misi transenden—dalam hal ini dakwah—fokusnya beralih dari meratapi kekurangan diri sendiri menjadi upaya memberi manfaat bagi orang lain.

Metode Ust. Abdullah Said yang menekankan “kisahkan enaknya hidup tanpa menyombongkan diri” adalah kunci komunikasi terapeutik.

Dakwah harus didefinisikan ulang bagi generasi ini: bukan sekadar ceramah di mimbar, melainkan seni berbagi kebaikan (share values) dengan bahasa yang “bijak dan bersahabat”.

Jika mereka mampu mengadopsi sikap mental kader 1975—yakni melihat kesalahan sebagai ruang belajar, bukan aib—maka gangguan kecemasan akibat tekanan sosial akan mereda dengan sendirinya.

Refleksi Akhir: Sebuah Gugatan Kesadaran

Sebagai penutup, kita harus sampai pada kesimpulan yang mendesak. Data dari Mansur Salbu bukan sekadar nostalgia, melainkan tamparan bagi kemanjaan kita.

Kader belasan tahun di tahun 1975 mampu bertahan dengan Rp 5.000 dan “Puber Aqidah” karena mereka tahu untuk apa mereka hidup.

Kepada anak muda, sadarilah ini: Kerapuhan mental, kesulitan konsentrasi, dan ketidaktertarikan pada dakwah yang mungkin juga kita rasakan hari ini, sejatinya bukan karena beban hidup yang terlalu berat, melainkan karena jiwa kita kekeringan misi.

Sebagian kita kehilangan “Puber Aqidah” itu. Anak-anak muda sebagian besar terlalu sibuk memikirkan diri sendiri sehingga lupa bahwa obat dari kegelisahan adalah bergerak, berkontribusi, dan berdakwah.

Jangan sampai sejarah mencatat generasi ini sebagai generasi yang mati rasa dalam kelimpahan, sementara para pendahulu kita hidup bahagia dalam keterbatasan.

Segera temukan kembali gairah itu, jadikan kritik sebagai guru, dan mulailah “menceritakan kebaikan”—niscaya jiwa kita akan pulih dan kita akan menemukan sahabat di setiap sudut bumi. Karena orang yang jauh dari arogan akan mudah menemukan teman dan kuat dalam persahabatan.*

Mas Imam Nawawi