• Home  
  • Menggugah Dai Muda Agar Tekun Membangun
- Kisah

Menggugah Dai Muda Agar Tekun Membangun

Hal yang sangat saya suka dalam hidup ini adalah ketika duduk bersama anak muda. Lalu saya bisa menggugah kaum muda itu untuk bergairah. Terutama bergairah dalam ilmu, ibadah dan dakwah. Secara bahasa menggugah artinya membangkitkan. Kalau diibaratkan motor, menggugah berarti menyalakan mesin motor, sehingga siap untuk diajak melaju. Menggugah juga berarti menyentuh. Laksana tangan ibu […]

Menggugah

Hal yang sangat saya suka dalam hidup ini adalah ketika duduk bersama anak muda. Lalu saya bisa menggugah kaum muda itu untuk bergairah. Terutama bergairah dalam ilmu, ibadah dan dakwah.

Secara bahasa menggugah artinya membangkitkan. Kalau diibaratkan motor, menggugah berarti menyalakan mesin motor, sehingga siap untuk diajak melaju.

Menggugah juga berarti menyentuh. Laksana tangan ibu yang membelai kepala anaknya yang hendak ke sekolah. Ada restu, ada harapan, nyata terasa menembus hingga jiwa.

Selain itu menggugah juga berarti merangsang perasaan dan kesadaran, bahkan pikiran. Artinya orang menjadi hadir emosinya, mau melakukan refleksi bahkan termotivasi untuk bertindak.

Dalam upgrading dai muda KMH dan Leadership Training Center Pemuda Hidayatullah Jabar di Bandung Barat, sepertinya saya cukup berhasil menggugah kesadaran 25 anak muda yang hadir sebagai peserta.

Tergugah Membaca

Beberapa peserta, sebut saja Fikri, Okta, dan Harun. Ketiganya masih belia, belum menikah. Tapi mereka kini memiliki gairah dalam dakwah.

Artinya mereka mulai memiliki semangat yang menggelora di dalam jiwa. Semua itu muncul karena mereka sadar dakwah alias menyiarkan agama Islam adalah amal terbaik di sisi Allah.

Karena itu bekal utama berdakwah adalah membaca. Membaca tak melulu soal buku, tetapi juga realitas, bahkan pengalaman.

Ali Abdul Halim Mahmud dalam buku “Dakwah Fardiyah: Membentuk Pribadi Muslim” mengatakan bahwa seorang dai harus mencatat (membaca) peristiwa-peristiwa yang dialaminya dalam dakwah.

Bagi seorang dai (mencatat) itu sangatlah bermanfaat. Karena itu akan memudahkan seorang dai melewati rintangan yang terbentang di hadapannya. Selain itu juga dapat menambah jelas arah dakwah ilallah.

Dalam kesempatan itu saya juga mendorong agar para dai muda mencatat pengalamannya, sehingga kalau banyak bisa jadi buku. Manfaat bisa lebih luas, pribadi lebih awas dan jauh dari was-was.

Istimewa

Menjadi dai berbeda dengan bekerja dalam profesi. Dai harus sadar dirinya mesti istimewa. Mungkin itu bisa dengan menghafal Alquran, memahami hadits. Atau bahkan mampu berlogika dengan baik.

Prinsipnya, mana sisi terkuat dalam diri dai, itulah yang harus mereka perkuat.

Eric Barker dalam buku “Mendaki Tangga yang Salah” mengatakan, pribadi sukses adalah yang mengetahui, hal terbaik apa yang bisa Anda lakukan.

Jadilah dai yang dalam berdakwah punya keistimewaan. Bisa dengan kekuatan narasi, kisah, logika, kebijaksanaan atau pun sistem berpikir yang menggugah.

Oleh karena itu dai harus berpacu dengan waktu. Membaca dengan tekun, berlatih terus membangun. Dan, seperti kebun, jadilah dai yang menyuburkan. Bukan yang menggersangkan, hati masyarakat.*

Mas Imam Nawawi

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *