Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Mengapa Orang yang Mensucikan Jiwanya yang Justru Beruntung?

Mungkin sebagian kita tak pernah “meresahkan” mengapa dalam hidup dunia yang fana ini, yang orang butuh uang, tapi Alquran malah menyebut yang beruntung adalah yang mensucikan jiwanya. Pernah bertanya, mengapa. Kalau kita menolak apa yang Alquran terangkan, bukankah setiap manusia bukan makhluk jasad semata. Setiap orang punya jiwa. Kalau orang sudah kehilangan jiwa, apakah dia […]

Mengapa Orang yang Mensucikan Jiwanya yang Justru Beruntung?

Mungkin sebagian kita tak pernah “meresahkan” mengapa dalam hidup dunia yang fana ini, yang orang butuh uang, tapi Alquran malah menyebut yang beruntung adalah yang mensucikan jiwanya. Pernah bertanya, mengapa.

Kalau kita menolak apa yang Alquran terangkan, bukankah setiap manusia bukan makhluk jasad semata. Setiap orang punya jiwa. Kalau orang sudah kehilangan jiwa, apakah dia masih layak kita panggil sebagai manusia.

Kedudukan Jiwa

Jiwa adalah penentu nilai setiap manusia. Adanya jiwa itu bisa membuat manusia mulia layaknya malaikat, bahkan lebih tinggi lagi. Namun karena jiwa juga manusia bisa jatuh ke titik rendah, lebih rendah dari binatang ternak.

Menyadari hal itu maka kita mesti mengikuti petunjuk Alquran, bahwa yang beruntung adalah orang yang mensucikan jiwanya secara berkelanjutan.

Seperti pakaian yang manusia gunakan, ia harus kita cuci, kita jemur dan kita setrika agar enak kita gunakan pada hari-hari mendatang. Begitu pun jiwa, kalau kita biarkan kotor, maka semua anggota tubuh kita sudah tidak punya makna lagi.

Jiwa itu Penentu

Jiwa manusia Allah ciptakan sebagai inti. Orang berperilaku baik atau buruk, merupakan buah dari kondisi jiwanya. Jiwa yang mudah terperosok oleh godaan-godaan setan akan menghasilkan perbuatan buruk. Sebaliknya jiwa yang suci akan membuat perilaku seseorang baik dan benar serta maslahat.

Oleh karena itu Allah mengutus Nabi dan Rasul, tujuannya agar manusia mengerti bagaimana cara mensucikan jiwa.

Jiwa kita adalah penentu maka penyuciannya adalah hal yang nomor satu. Pertama kita harus mensucikan jiwa kita dari kesyirikan. Kedua kita mesti mensucikan jiwa dari hal-hal kotor. Ketiga, kita harus mensucikan jiwa dari mencintai kejahatan.

Menarik ilustrasi dari Al-Ghazali sebagaimana At-Taftazani kutip. Jiwa manusia itu ibarat kaca. Yang menjadikan kaca (jiwa) itu buram adalah syahwat badan. Cara membersihkannya adalah meningkatkan intensitas takwa kepada Allah.

Waspadai Ini Terjadi

Al-Ghazali dalam kitab Bidayat Al-Hidayah meneruskan penjelasannya agar kita menjauhi hal-hal yang merusak jiwa. Pertama, suka memuji diri sendiri. Kemudian stres kalau tidak ada orang lain yang memujinya.

Kedua, berjuanglah mengendalikan hawa nafsu agar tidak menjadi manusia yang brutal layaknya binatang buas. Filsafat saja mengatakan beda manusia sama binatang ada pada kemampuan berpikir. Apa iya ada manusia mau kalah pikirannya dari hawa nafsunya.

Ketiga, membuang sifat-sifat setan dan kita gantikan dengan sifat-sifat ketuhanan. Ini kesannya kita harus berada dalam masjid terus. Iman itu justru membaur dalam masyarakat dan memberikan contoh dan bukti kebaikan dalam interaksi sosial. Bukan menyendiri terus-menerus demi meraih kesalehan.

Dalam pandangan Muhammad Itris dalam Mu’jam Ta’biraat Al-Quraniyah, membersihkan jiwa itu dengan cara menjauhi kekufuran dan kemaksiatan. Kita sibuk fokus melakukan amal-amal saleh. Yakni dengan meningkatkan persiapan kebaikan bagi jiwa sehingga kita bisa mengalahkan seruan untuk berbuat buruk.

Secara prinsip jangan masuk dan memandang indah perilaku yang menimbulkan permusuhan dan keburukan dalam kehidupan sesama. Dan, untuk bisa melakukan itu, syarat nomor satu, jiwa kita harus terus kita sucikan. Alquran menyajikan kata “mensucikan jiwa” (tazkiyatun nafs) sebanyak 12 kali. Ini berarti kita harus benar-benar melakukannya setiap hari.

Tak Perlu Cari Nafkah?

Lalu apakah orang yang mensucikan jiwa artinya tak perlu lagi mencari nafkah?

Berpikir itu harus lengkap. Masalah dalam negeri ini bukan karena APBN kosong, tapi karena sebagian besar orang yang mengelolanya lupa untuk membersihkan jiwanya dengan cara jujur dan tulus mensejahterakan rakyat karena Allah.

Dalam kata yang lain, bangsa ini akan maju kalau umat Islamnya, seluruhnya sudah sampai pada tahap mampu mensucikan jiwanya. Kapan itu terjadi? Ketika umat Islam bisa membuktikan eksistensinya sebagai umat terbaik.

Sebab kalau sudah begitu, harta bukan lagi tujuan mereka. Mereka tetap butuh uang, tapi mereka akan giat mencari nafkah dengan cara halal dan baik. Kemudian kalau terkumpul, mereka berinfak untuk memajukan umat manusia. Bayangkan kalau pemimpin negara yang beragama Islam memahami itu, apakah bangsa ini tidak akan maju!*

Mas Imam Nawawi