Secara umum, sebagian kita mungkin memiliki pandangan bahwa orang kaya tidak dalam kondisi Allah uji imannya. Padahal orang kaya justru mendapat ujian tidak ringan soal rezeki itu dari Allah. Kasus seorang kepala daerah yang urung mengganti seorang pejabat kesehatan karena memberi “sogokan” bisa menjadi pelajaran. Bahwa orang kaya takut rezekinya berkurang, maka ia berusaha mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara. Sementara sang penguasa melihat kalau bisa dapat uang dengan mudah, keputusan bisa diubah-ubah. Tergantung selera saja. Sekali, dua kali, ia bebas melakukan. Namun apakah itu benar rezeki?
Pada sisi lain kadang saya berpikir, mengapa Allah memanggil orang yang beriman untuk menjalankan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya.
Mengapa Allah tidak memanggil orang yang bergelar, berpangkat atau berkekayaan. Ternyata ini memang karena iman tidak mutlak ada pada dada yang kaya atau pun sebaliknya bercokol dalam dada yang miskin. Iman datangnya dari hidayah Allah.
Yakin kepada Allah memang semata kehendak-Nya. Namun kita bisa belajar bahwa kalau yang Allah panggil adalah hati yang masih ada iman, maka kita harus berupaya untuk bisa memenuhi panggilan itu. Jangan sampai kita menjadi orang yang hatinya justru berpaling dari seruan-Nya.
“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110).
Bahaya Berpaling dari Allah
Ketika hati telah berpaling apalagi Allah palingkan dari kebenaran, maka mata tak akan bisa menangis lagi. Ia tak lagi bisa menyadari dan meneteskan air mata karena kesalahan dan dosa. Orang bahkan akan sulit khusyuk. Tidak lagi merasa bersalah meski melakukan dosa. Bahkan ia tak lagi rindu untuk sujud. Padahal sujud adalah bukti terdalam seorang manusia iman kepada Allah.
Kita berlindung dari hati yang berpaling dan Allah palingkan dari Islam.
Oleh karena itu, kita harus terus berupaya untuk syukur kepada Allah. Jangan takut kepada apapun selain Allah. Begitu pun jangan yakin kecuali kepada Allah.
Sungguh Allah tidak akan memalingkan hati kita, kecuali manusia itu sendiri yang berpaling lebih dahulu. Ia melihat ada yang bisa memberi kebahagiaan selain Allah. Sehari-hari ia sadar jalannya salah, tapi karena dapat uang ia tak lagi peduli kepada kebenaran. Ia terus tenggelam dan hanyut dalam kesalahan.
Kembalilah
Dengan demikian tidak ada jalan, kecuali kembali kepada Allah. Jangan merasa aman dalam melakukan kejahatan. Semua itu soal waktu. Awalnya siapa akan menduga bahwa kepala daerah itu akan terkena OTT KPK. Tapi peristiwa telah terjadi. Dan, semua yang telah terjadi harus kita jadikan pelajaran.
Saatnya kita kembali kepada Allah dengan membaca, memahami dan menghayati kandungan Alquran. Kita perbanyak doa dan ikhtiar dalam kebaikan. Biarkan Allah memberi rezeki kepada kita, yang kita terima dengan ikhlas.
Dunia seperti air laut, semakin kita meminumnya semakin kita tercekik rasa haus. Tidak perlu takut hidup tanpa jabatan, jangan resah kalau tak lagi punya kedudukan. Bukankah kita masih punya Allah? Apakah mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan Allah Maha Kaya, Maha Kuasa?
Sebaliknya, kita bisa melihat, apakah Allah diam saja kepada mereka yang hatinya memandang indah kejahatan?*


