• Home  
  • Mengapa Kita Perlu “Menghitung Kata” di Media Sosial?
- Artikel

Mengapa Kita Perlu “Menghitung Kata” di Media Sosial?

Pernahkah teman-teman terjebak dalam diskusi sengit atau debat kusir di grup WhatsApp? Sebenarnya, perbedaan pendapat bukan masalah besar jika akhirnya memicu kita untuk lebih rajin belajar dan membuka diri. Namun, perdebatan menjadi persoalan serius jika ia mulai menguras emosi dan merampas waktu produktif kita. Lalu, bagaimana agar kita tidak mudah “larut” dalam pusaran tersebut? Salah […]

Mengapa Kita Perlu "Menghitung Kata" di Media Sosial?

Pernahkah teman-teman terjebak dalam diskusi sengit atau debat kusir di grup WhatsApp? Sebenarnya, perbedaan pendapat bukan masalah besar jika akhirnya memicu kita untuk lebih rajin belajar dan membuka diri. Namun, perdebatan menjadi persoalan serius jika ia mulai menguras emosi dan merampas waktu produktif kita. Lalu, bagaimana agar kita tidak mudah “larut” dalam pusaran tersebut? Salah satu caranya adalah dengan mulai menghitung setiap kata yang kita keluarkan di media sosial.

Dalam dunia kepenulisan, sebuah artikel selalu memiliki batasan karakter atau jumlah kata. Nah, dalam kehidupan sehari-hari, idealnya, seseorang yang waspada juga harus mampu memastikan berapa banyak kata yang ia ucapkan atau tuliskan dalam 24 jam.

Langkah itu penting agar kata-kata kita fokus, bermanfaat dan memberi inspirasi bagi orang lain. Bukan semata kata-kata yang tak memberi makna dan hikmah bagi sesama.

Fokus pada Esensi

Sama seperti penulis yang harus disiplin pada batasan kata, seseorang yang menerapkan prinsip ini dalam hidup akan lebih fokus pada hal-hal penting. Ia akan berpikir dua kali: “Apakah opini saya memang diperlukan di sini?”

Dengan menghitung kata, kita tidak lagi merasa wajib mengomentari semua hal atau memaksa otak mencari argumentasi untuk isu yang tidak relevan. Sering kali, debat yang kita paksakan justru tidak membuahkan hasil positif apa pun.

Dalam hal ini, pesan Nabi Muhammad SAW menjadi sangat relevan: “Berkatalah yang baik atau diam.”

Dengan kata lain, hindarilah kata-kata yang tidak perlu, apalagi yang berdampak buruk.

Ketika seseorang mampu disiplin dalam berucap, ia akan selamat dari kesia-siaan waktu dan kesalahan bermedia sosial. Ia akan memiliki fokus yang tajam untuk menentukan mana hal yang perlu direspons dan mana yang patut diabaikan.

Evaluasi Diri

Jika teman-teman termasuk orang yang sangat aktif di media sosial, cobalah lakukan evaluasi sederhana. Timbanglah aktivitas digital teman-teman hari ini. Jika komentar-komentar yang kita kirimkan di berbagai platform memberikan semangat dan manfaat nyata, maka itu adalah tanda aman.

Namun, jika aktivitas tersebut justru membuat kita teradiksi pada ponsel—terus memantau notifikasi dan berkomentar hanya demi memuaskan ego—maka berhati-hatilah. Itu adalah celah di mana waktu terbuang secara mubazir.

Langkah itu penting agar kita tak kehilangan energi dan umur. Tujuannya bukan berarti kita harus meninggalkan dunia maya sepenuhnya, sebab di sanalah kita bisa menebar kebaikan dan dakwah.

Poin utamanya adalah proporsionalitas. Pada prinsipnya, jangan sampai kita menghamburkan energi dan pikiran hanya untuk menyusun kata-kata yang dangkal atau tidak berfaedah bagi kehidupan. Terlebih dalam Al-Qur’an ada penjelasan tentang ucapan-ucapan yang tidak perlu tapi Allah catat, karena itu berdampak buruk bagi kehidupan.*

Mas Imam Nawawi