Mas Imam Nawawi

- Artikel

Mengapa Indonesia Tak Bicara di Panggung Dunia?

Saya akhirnya punya pertanyaan itu, “Mengapa Indonesia Tak Bicara di Panggung Dunia?” Ya, pertanyaan itu bertunas dari ketuntasan saya membaca berita tentang pidato Anies Baswedan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Gerakan Rakyat, Minggu (13/7/2025). “Bapak ibu sekalian, bertahun-tahun Indonesia absen di pertemuan PBB. Kepala negara tidak muncul. Selalu Menteri Luar Negeri,” kata Anies. Bagi […]

Mengapa Indonesia Tak Bicara di Panggung Dunia?

Saya akhirnya punya pertanyaan itu, “Mengapa Indonesia Tak Bicara di Panggung Dunia?”

Ya, pertanyaan itu bertunas dari ketuntasan saya membaca berita tentang pidato Anies Baswedan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Gerakan Rakyat, Minggu (13/7/2025).

“Bapak ibu sekalian, bertahun-tahun Indonesia absen di pertemuan PBB. Kepala negara tidak muncul. Selalu Menteri Luar Negeri,” kata Anies.

Bagi logika awam, ya, sulit hadir, karena memang sangat sibuk. Meski kesibukan presiden kadang tidak tegak lurus dengan kesejahteraan rakyat. Orang bisa punya pandangan beragam. Tapi itulah fakta, kini bahkan telah menjadi sejarah. Sepanjang periode pertama Jokowi menjadi presiden (2015-2018), selalu JK yang hadir mewakili Indonesia.

Indonesia Berikan Memori Dunia

Padahal kalau kita buka lembaran sejarah. Indonesia pernah memberikan memori bagi dunia. Yakni ketika Bung Karno sebagai Presiden Indonesia berpidato di PBB dengan tema “To Build The World Anew”. Saat itu tepat pada 30 September 1960. Betapa kerennya gagasan Bung Karno itu, UNESCO menetapkan pidato itu sebagai “Memori Dunia”.

Ketika itu Bung Karno menyerukan tentang kemanusiaan untuk perdamaian. Dan, secara langsung, gagasan yang mengajak semua mau membangun dunia kembali menjadi hal yang berharga dan tak terlupakan.

Tapi itu dulu. Lain masa lain fakta, berbeda pula manusianya.

Evaluasi Menyeluruh untuk Indonesia

Mungkin Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bisa kita anggap tidak penting. Apalagi posisi Indonesia tidak sekuat AS. Tapi apa yang bisa kita bantah kalau Bung Karno bisa membuat Indonesia penting dan sangat didengar oleh dunia.

Sidang Umum PBB adalah panggung diplomasi tertinggi di dunia. Setiap tahun, para pemimpin dunia berkumpul untuk menyampaikan sikap, aspirasi, dan pandangan negaranya terhadap isu-isu global. Di panggung ini, bukan hanya kekuatan militer dan ekonomi yang berbicara, tapi juga visi, nilai, dan kepemimpinan moral sebuah bangsa.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia—yang kerap menyebut dirinya sebagai negara besar, pemimpin ASEAN, dan poros maritim dunia—jarang tampil di mimbar itu. Ketidakhadiran Presiden Indonesia di Sidang Umum PBB bukanlah sekadar urusan keprotokoleran. Ini adalah isyarat yang jauh lebih dalam: kita sedang absen dalam diplomasi strategis yang menentukan arah dunia.

Catatan Anies Baswedan

Anies Baswedan, dalam pandangan yang tajam dan relevan, menyebut bahwa absennya pemimpin Indonesia di forum ini telah merugikan bangsa dalam dua hal besar. Keduanya patut kita renungkan bersama sebagai rakyat yang ingin bangsanya tetap dihormati dan diperhitungkan.

Pertama, posisi strategis Indonesia di ASEAN jadi kabur.

Sebagai negara dengan populasi terbesar dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk menjadi jangkar stabilitas kawasan. Ketika pemimpin negara lain hadir dan menyuarakan sikapnya di hadapan dunia, sementara kita tidak, maka pertanyaan besar muncul: apakah Indonesia masih memimpin?

Kedua, hilangnya kesempatan untuk meneduhkan kawasan.

Dunia saat ini berada di titik rapuh. Ketegangan China–Taiwan, meningkatnya eskalasi antara Jepang dan China, serta situasi pelik di Semenanjung Korea, membuat kawasan Asia Timur berada di bawah bayang-bayang konflik terbuka. Indonesia—dengan tradisi diplomasi bebas aktifnya—seharusnya hadir membawa suara penyejuk, menawarkan jalan tengah, menjadi penengah yang dipercaya. Ketika kita diam, ruang itu diisi oleh kekuatan lain, dan kita kehilangan peran strategis yang selama ini kita banggakan.

Pandangan itu bukan untuk mengkritik pemerintah. Tapi mengingatkan seluruh elemen bangsa. Seakan-akan Anies berkata, ayo kembalikan kekuatan Indonesia di forum dunia. Dan, ke depan Indonesia mesti kembali hadir. Tidak hanya secara fisik, tapi secara visi. Kembali menunjukkan bahwa kita bukan sekadar bangsa besar dalam jumlah, tapi juga besar dalam kontribusi dan kepedulian terhadap dunia yang lebih damai dan adil.

Jika Bung Karno telah menjadi pionir dan gagasannya mendapat pengakuan dunia. Kita mestinya sadar bahwa kedepan, kapasitas pemimpin Indonesia benar-benar mampu membawa Indonesia berkibar.

Dan, satu hal besar yang harus kita benahi, masalah-masalah domestik yang sangat fundamental harus segera kita atasi bersama. Mulai dari demokrasi, hukum, ekonomi dan hak asasi manusia. Begitu ini bisa kita jawab, kata Anies, kita akan berwibawa ketika bicara di forum dunia.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *