Home Artikel Mengapa Harus Banyak Membaca?
Mengapa Harus Banyak Membaca?

Mengapa Harus Banyak Membaca?

by Imam Nawawi

Cukup menarik apa yang Lee Pyeong tulis dalam buku “You Don’t Neeed to be Loved by Everyone.” Ia menulis, “Aku sering dengar bahwa kita harus banyak membaca, tetapi tidak ingat pernah mendengar alasan kenapa kita harus melakukan itu (membaca)?”

Tentu saja Lee tidak sedang bingung. Ia ingin mengajak kita mengaktifkan nalar mengapa harus banyak membaca. Berikut penjelasan versi Lee.

Meningkatkan Daya Saing

Membaca itu penting, supaya kita bisa menilai baik atau buruk dari masalah yang sedang melanda. Kecepatan menyelesaikan masalah akan membuat seseorang lebih cepat dan produktif dalam keberhasilan.

Baca Juga: Sudahkah Tiba Kiamat Membaca Buku?

“Membaca mampu membantu kita untuk menilai masalah tanpa perlu mencicipinya lebih dulu.”

Kalau orang mau tahu apa akibat berbuat buruk, ia tidak perlu mengalaminya. Jika ia cukup cerdas dan gemar membaca (menalar dan memahami) dengan sebaik-baiknya.

Alquran kerap meminta kita bernalar terhadap fakta sejarah, agar kita menjadi hamba yang bersyukur. Dalam kata yang lain, kita bisa katakan, membaca juga awal dari tindakan syukur seseorang, sumber keselamatan dan akar kebahagiaan.

Menumbuhkan Kreativitas

Orang yang banyak membaca punya kemampuan merangkai atau mengkoneksikan satu hal dengan banyak hal lain. Akibatnya ia punya peluang lebih besar dalam menumbuhkan kreativitas.

Dari mana seorang Anies Baswedan bisa membuat program taman Jakarta digemari masyarakat?

Baca Lagi: Membaca Penting Membaca Asing

Menurut Gheiz Chalifah dalam sebuah acara siniar, itu terjadi karena Anies membaca lebih dahulu. Ia melakukan dialog berulang kali dengan warga. Kemudian menghitung berapa jumlah anak usia dini, berapa remaja dan seterusnya.

Dengan cara itu, Anies Baswedan bisa membuat program taman kota yang tak saja jadi atau telah ia lakukan, tapi juga jadi kegemaran sekaligus kebanggaan warga Jakarta.

Kecintaan Membaca

Membaca memang memberi energi berlipat ganda dalam akal dan hati seseorang. Bung Hatta pernah berkata, “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Ungkapan proklamator RI itu menunjukkan bahwa membaca sama dengan membebaskan diri dari segala tafsir buruk terhadap kenyataan yang dialami. Membaca membuat pikiran segar, imajinasi tumbuh dan pengetahuan terus menyebar.

Presiden AS, Abraham Lincoln punya kecintaan membaca yang sama kuat. “Hal-hal yang ingin kutahu ada di dalam buku. Dan, sahabat terbaik adalah orang yang memberikanku sebuah buku yang belum aku ketahui.”

Mengapa Lincoln berkata begitu? Mungkin ia sadar, orang yang datang kepadanya dan tidak membawa isi buku atau membawakan buku hanya akan panjang berkata-kata, tapi itu gosip belaka.

Artinya orang yang membaca itu baik. Dan, sebaliknya orang yang tidak membaca itu buruk, bahkan jahat. Lebih jahat daripada orang yang membakar buku.

Oleh karena itu pernyataan sosok peraih Nobel Sastra (1987) dari Rusia-Amerika, yaitu Joseph Brodsky yang Kang Maman kirim kepada saya, patut jadi renungan kita.

“Ada kejahatan yang lebih kejam daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.”

Banyak Tak Berarti Mak Blek

Banyak membaca tidak sama dengan menuntaskan sebuah buku sekaligus dalam 30 menit. Mungkin itu membaca cepat, tapi apakah ada yang tertangkap dan jadi pemahaman diri?

Dahulu, orang-orang kafir, juga memandang Alquran seperti itu. Kalau memang Alquran itu wahyu, mengapa tidak turun sekaligus.

Namun kita menemukan jawaban Allah langsung, bahwa turun berangsur-angsur itu agar kita mudah membaca sekaligus berdampak menguatkan hati kita dalam iman dan Islam.

“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)” (QS. Al-Furqan: 32).

Alquran mengenalkan kepada kita diksi وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًا. Itu adalah pola membaca secara seksama, perlahan-lahan dengan bacaan yang fasih serta merasakan arti dan maksud dari ayat yang kita baca, sehingga berkesan mendalam ke dalam hati.

Jadi, banyak membaca bukan berarti melahap ratusan halaman dalam waktu cepat (tapi tidak paham apa-apa). Banyak membaca bisa berarti merenungkan banyak hal, merasakan dalam hati sebuah getaran dan pemahaman, lalu membentuk karakter diri untuk berakselerasi dalam ragam kebaikan.

Sekarang tinggal kita pasang niat dan mulailah untuk banyak membaca. Semoga hidup kita Allah limpahi berkah, rahmat dan ma’unah-Nya.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment