Home Hikmah Mengapa dalam Islam Kebahagiaan Dijamin?
Mengapa dalam Islam Kebahagiaan Dijamin?

Mengapa dalam Islam Kebahagiaan Dijamin?

by Mas Imam

Seperti biasa, usai Shubuh saya membaca dan menulis. Kemudian membuka ayat Alquran. Satu ayat memberikan sebuah penjelasan terang atas pertanyaan, mengapa dalam Islam kebahagiaan itu dijamin.

Ternyata itu karena semua yang terjadi di muka bumi ini telah Allah tetapkan.

“Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Al-Kitab.” (QS. Al-An’am: 38).

Baca Juga: Dakwah Islam di Papua Barat

Al-Kitab yang dimaksud adalah Luh Mahfuzh. Dimana nasib semua makhluk sudah ditulis (ditetapkan) oleh Allah Ta’ala.

Secara logika, ayat itu memberikan kesadaran kepada kita bahwa sebagaimana siang dan malam terus hadir, memberi warna bahkan hikmah dalam kehidupan, maka begitu pun dengan kehidupan ini.

Tidak satu pun hal yang dialami oleh seseorang, melainkan Allah telah menetapkannya. Seperti jodoh, rezeki dan ajal.

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Kesadaran Iman

Manusia hadir di muka bumi ini memang untuk menerima ujian. Jadi, kalau ada manusia hidup ingin semua sesuai keinginannya, maka hal itu bertentangan dengan mengapa manusia Allah hadirkan di muka bumi ini.

Dengan kata lain, dalam hidup ini, kunci bahagia hanya satu, yakni iman. Namun, iman bukan sebatas percaya tanpa kesadaran apalagi tanpa ilmu. Iman di dalam Islam harus diraih dengan kekuatan ilmu.

Ketika seorang Muslim dalam hidupnya mendapatkan nikmat kemudahan, maka in akan bersikap seperti Nabi Sulaiman, menyadari beragam nikmat itu sebagai ujian, apakah akan semakin bersyukur. Atau sebaliknya, kufur.

Ketika seorang Muslim dalam keadaan kekurangan dari sisi materi, maka itu adalah sebuah cara untuk memandang dan menjalani hidup ini seperti Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah merasa bahagia karena stok makanan melimpah di dapurnya.

Artinya, hidup ini bahagia atau tidak, tergantung kadar dari kualitas iman seseorang itu sendiri. Semakin murni iman seseorang semakin bahagia kehidupannya.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).

Anti Frustasi

Mungkin sebagian orang masih beranggapan, orang di negara maju pasti hidup bahagia. Tapi mari kita lihat.

Sebuah berita menyebutkan (14/10/21) bahwa telah terjadi 415 kasus bunuh diri anak di Jepang. Angka itu tertinggi sejak 1974.

Alasannya diduga karena tekanan mental sebagai akibat dari penutupan sekolah selama pandemi. Dan, di Jepang, bunuh diri memang dianggap cara tepat untuk menghindari rasa malu atau aib.

Kemudian kita bergeser ke Inggris. Dalam sebuah berita online disebutkan bahwa sejumlah tentara di Inggris memilih bunuh diri usai pulang dari perang di Afghanistan.

Mereka melakukan itu dikarenakan perasaan gagal menjalankan tugas di Afghanistan, mengingat Taliban telah sukses ambil alih pemerintahan di sana.

Di tahun 2020 tepatnya 19 Desember, dikabarkan bahwa telah tercatat 13 kasus bunuh diri terjadi dari kalangan angkatan bersenjata Inggris. Hal itu karena tekanan mental yang mereka alami.

Dan, tentu saja masih banyak data lain, dan masing-masing kita bisa mengakses langsung di internet.

Jadi, kecerdasan rasio, kelengkapan fasilitas termasuk gaji yang tinggi, tidak menjamin seseorang hidup bahagia.

Orang dengan kekuatan rasio belaka tidak jaminan mampu menghadapi tekanan hidup. Terlebih kalau mental sudah mengatakan bahwa sudah saatnya mengakhiri hidup.

Baca Juga: Bahagia di Cimande Hills

Dan, resiko terberat seorang manusia dalam hidup ini adalah ketika ia tidak memiliki sandaran, tempat mengadu dan kembali. Di sini orang Islam beruntung, karena iman mereka selalu mendorong untuk jiwa tak pernah putus ada dari rahmat Allah.

Jadi, orang beriman itu pasti anti frustasi. Kalau kemudian ada rasa takut, itu wajar. Tapi jangan rasa takut itu mengendalikan iman. Justru iman itulah yang harus mengendalikan rasa takut, termasuk rasa-rasa lainnya di dalam diri ini.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment