Dakwah itu indah, bahkan menjadi pekerjaan paling mulia di sisi Allah SWT. Tapi apakah dengan itu orang akan otomatis mencintai dakwah?
Thohir Luth dalam bukunya “M. Natsir Dakwah dan Pemikirannya” menuliskan bahwa dakwah kita perlukan untuk menegakkan jamaah (masyarakat) yang paham amar ma’ruf dan nahi munkar. Oleh karena itu ia mendorong agar dakwah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim. Bahkan seorang Muslim tak boleh lupa akan tugas mulia ini, berdakwah.
Masih dalam buku itu, Natsir berpandangan bahwa dakwah sangat menentukan jatuh-bangunnya suatu masyarakat dalam suatu bangsa.
Mungkin hal itulah yang bersarang dalam dada sepasang dai dan daiyah Hidayatullah: Usman Asy’ari dan Hasanah Luqman. Mansur Salbu dalam buku “Mencetak Kader” menyajikan isi hati Hasanah Luqman dalam sebuah tulisan yang menggetarkan.
“Mumpung umur masih muda, jiwaku sementara membara. Aku sambut tugas itu (dari Ust. Abdullah Said) dengan suatu tekad. Halangan apapun yang membentang di depan, akan kuterjang. Akan kudaki gunung betapapun tingginya dan akan kuseberangi sungai betapapun lebar dan dalamnya.”
Timbangan Kekinian
Sekarang era digital, semua tampak mudah. Tapi dakwah belum menjadi kekuatan. Kadang saya termenung, mengapa dahulu ada orang yang begitu berani menekuni dakwah. Bukankah mereka juga punya keluarga dan ingin masa depan anaknya baik dan bersinar.
Akan tetapi saat ini, mengapa semangat seperti itu seperti hal yang asing, langka dan tak banyak orang menekuninya.
Tapi saya yakin, dakwah bukan soal zaman, bukan pula dunia, digital atau manual. Dakwah adalah tentang keterpanggilan. Dan, yang terpanggil adalah jiwa yang telah sampai pada kesadaran. Bahwa hidup mereka memang berupaya mewujudkan panduan Allah dalam Alquran dan teladan Rasulullah SAW yang termaktub dalam hadits-haditsnya.
Jadi, cara kita menimbang soal dakwah, bukan pada tantangan atau kemudahannya, tapi sejauh mana hati kita menjadikan dakwah sebagai visi hidup.
Semangat Perubahan
Mereka yang menekuni dakwah sejatinya sangat beruntung. Sebab mereka masuk ke dalam arus semangat perubahan. Dalam Islam sebelum berdakwah yang targetnya mengubah cara hidup orang sesuai dengan kebaikan Islam, dai itu sendiri mesti bisa merasakan keindahan ajaran Islam.
Oleh karena itu Ust. Abdullah Said mendorong kader-kadernya untuk memperhatikan kualitas syahadat dengan mentadabburi Surah Al-Alaq. Kemudian meyakini Alquran sebagai jalan kesuksesan dengan memahami kandungan surah Al-Qolam. Dan, yang tak kalah penting, ia mengajak semua santri dan kadernya untuk mengamalkan kandungan surah Al-Muzammil. Mulai dari bangun Tahajjud, sabar, hijrah dan lain sebagainya.
Setelah pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Qur’an dari 3 surah itu, baru tiba waktunya masuk tahap selanjutnya, yakni turun ke gelanggang untuk dakwah. Dakwah dengan semangat dari kandungan surah Al-Mudatstsir. Niat dakwah harus Allah, bukan pribadi dai itu sendiri.
Kolaborasi
Namun seiring perubahan budaya masyarakat, dakwah tak lagi cukup sebatas semangat pribadi. Kita butuh kolaborasi dengan dakwah yang termanaj secara profesional. Setiap Muslim harus memahami bahwa kewajiban dakwah dalam Islam tak berarti semua harus turun ke medan dakwah menjadi dai dan daiyah.
Peradaban meliputi semua sisi kehidupan yang mana satu dengan yang lain saling terhubung dan menguatkan. Dalam kata yang lain, sebagai apapun kita, dengan profesi dan pekerjaan apapun, jangan meninggalkan semangat kolaborasi. Yaitu dengan mendukung para dai dan daiyah yang berdakwah.
Ketika itu terjadi, maka Allah akan menurunkan cinta-Nya kepada kita. Karena Allah menyukai umat Islam yang bersatu dan berdakwah secara sistematis, kolaboratif dan terstruktur. Laksana bangunan yang kokoh.
Jadi, mari berdakwah, lakukan kebaikan. Dan, pahami posisi kita, lalu bertemulah untuk saling menopang dan meneguhkan. Sebab dakwah adalah penentu maju tidaknya masyarakat Islam.*


