Home Artikel Mengakhiri Sekaligus Memulai
Mengakhiri sekaligus memulai

Mengakhiri Sekaligus Memulai

by Imam Nawawi

Dalam hitungan jam, Ramadhan 1445 H akan segera meninggalkan kita. Satu sisi kita mengakhiri aktivitas puasa. Namun sisi lain sebenarnya kita baru akan memulai kehidupan pasca Ramadhan.

Memulai apa yang telah kita perjuangkan sebagai kebiasaan baik selama puasa ke dalam kehidupan di luar Ramadhan. Apakah semua itu masih menjadi kekuatan sepanjang tahun atau hilang dalam sehari, sepekan atau sebulan. Mengawali apakah kenikmatan ibadah dan berbagi masih terus terawat, meningkat dan menguat.

Baca Juga: Tak Ada Obat Semujarab Doa

Sebab tidak jarang orang yang kala Ramadhan aktif dalam ibadah menjadi begitu mudah lelah dan menyerah menghadapi realitas kehidupan. Amarahnya gampang sekali tersulut. Kepada sesama menjadi kurang peduli dan seterusnya.

Pada saat yang sama, tidak sedikit yang memandang bahwa pasca Ramadhan dirinya bebas berkehendak. Akibatnya kendor spirit ibadahnya, melemah gairah berbaginya dan melempem energi spiritualnya.

Pertahankan

Jika Ramadhan kita anggap sebagai sekolah yang kita berprestasi di dalamnya, maka pantang bagi kita berleha-leha. Harus ada usaha mempertahankan prestasi itu dengan sekuat tenaga. Mungkin tidak bisa se-ideal kala Ramadhan: tarawih, tahajjud, tilawah dan sebagainya. Tetapi setidaknya semua itu tidak kita tinggalkan seluruhnya.

Dan, indikasi dari kualitas ibadah vertikal yang kita jalani terlihat dari sejauh mana amal-amal sosial kita nikmati. Oleh karena itu jangan berhenti melakukan kebaikan. Donasi untuk anak yatim, sedekah untuk orang mudah mendapat Alquran. Aktif mengajak sesama untuk peduli pada program sosial kemasyarakatan, seperti air bersih, pembangunan masjid dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, mengapa semua itu penting kita lakukan? Tidak lain sebagai wujud ingat dan syukur kepada Allah Ta’ala.

“Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Jadi, mempertahankan semangat ibadah, merawat kepedulian sosial adalah bagian dari perintah utama dan kebutuhan mendasar kita untuk tetap semagnat dalam iman dan Islam.

Merenung

Momentum Idul Fitri tentu mengundang rasa bahagia kita semua. Namun, kita tidak boleh terlena, sehingga berlebih-lebihan di dalam merayakan hari kemenangan.

Baca Lagi: Memaknai Idul Fitri

Justru pada momentum penting tersebut, merenung adalah langkah penting. Boleh kita datang ke tempat wisata setelah bertemu sanak saudara. Namun, sekali lagi, jangan lupa untuk terus merenung.

Merenung perihal apa yang telah kita peroleh selama Ramadhan. Kemudian apa roadmap ke depan sampai bertemu Ramadhan 1446 H.

Pada akhirnya, mari bersyukur. Sempurnakan Ramadhan kita dengan membesarkan nama Allah. Dan, semoga kita menjadi insan yang bertakwa, ikhlas dan penuh mnfaat dalam kehidupan ini.

Sebagaimana arti dari “Iedul Fitri.” Ied artinya “berulang”, dan fitrah yang mengacu pada keadaan asli atau kesucian.

Jadi, selepas melewati bulan Ramadhan, kita semua mulai memasuki periode pembinaan spiritual dan fisik yang tak semudah dan seindah Ramadhan. Tetapi inilah kenyataan yang harus kita jawab dengan penuh harap akan pertolongan Allah Ta’ala.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment