Belum lama ini, tiba-tiba saya mendapat permintaan untuk menyampaikan uraian singkat. Perihal bagaimana langkah sebuah organisasi ke depan semakin dekat dengan masyarakat. Sebuah topik yang, tanpa disadari, telah lama berputar dalam benak.
Saya pun teringat akan tiga hal. Pertama, relevansi. Kedua, etos, utamanya dalam keilmuan. Ketiga, mampu memberi respons dengan memadai terhadap apa yang menjadi problem masyarakat.
Tiga pilar ini, saya yakini, adalah kunci fundamental untuk menjembatani jurang antara organisasi dan denyut nadi kehidupan sosial.
Menjawab Kebutuhan Mendesak
Pertanyaan tentang bagaimana sebuah organisasi dapat semakin mendekat dengan masyarakat kini kian relevan. Bukan sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan mendesak di tengah dinamika sosial yang kian kompleks. Tiga pilar utama muncul sebagai fondasi krusial dalam upaya ini.
Pertama, soal relevansi. Sebuah organisasi akan kehilangan pijakan jika ia tak lagi relevan dengan denyut nadi masyarakat.
Ini bukan hanya tentang menawarkan produk atau layanan, melainkan juga tentang memahami aspirasi, kebutuhan, dan bahkan kegelisahan kolektif.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Peter Drucker, bapak manajemen modern. “Tujuan bisnis adalah menciptakan pelanggan.”
Dalam konteks organisasi secara umum, ini berarti menciptakan ‘pemangku kepentingan’ yang merasa terhubung dan terlayani. Lebih tepatnya organisasi kudu bisa menghasilkan nilai bagi seluruh stakeholder.
Relevansi adalah jembatan yang menghubungkan visi organisasi dengan realitas sosial, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil memiliki makna dan dampak nyata.
Sebagai catatan khusus, relevansi bukan saja ke pihak eksternal. Pihak internal pun harus merasa relevan dengan program dan gerak organisasi. Oleh karena itu pesan Drucker, organisasi harus desentralisasi, menerapkan konsep pendelegasian dan kolaborasi.
Etos Keilmuan
Kedua, etos, khususnya dalam keilmuan, memegang peranan sentral. Dalam era banjir informasi ini, kredibilitas dan integritas menjadi mata uang yang tak ternilai.
Organisasi, terutama yang bergerak di bidang riset, pendidikan, atau pelayanan publik, dituntut untuk menjunjung tinggi etos keilmuan: objektivitas, kejujuran, dan kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Teori “Open Innovation” yang dipopulerkan oleh Henry Chesbrough menjadi relevan di sini. Organisasi tidak bisa lagi bekerja dalam menara gading.
Ia mesti membuka diri terhadap gagasan dari luar, berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat, untuk menciptakan solusi yang lebih inovatif dan komprehensif.
Etos keilmuan mendorong organisasi untuk terus menguji asumsi, mengevaluasi metode, dan berani mengakui keterbatasan, sehingga solusi yang ditawarkan benar-benar berbasis data dan bukti.
Responsif
Terakhir, dan tak kalah penting, adalah kemampuan memberi respons yang memadai terhadap problem masyarakat.
Ini adalah manifestasi nyata dari dua pilar sebelumnya. Masyarakat modern membutuhkan respons cepat, akurat, dan solutif. Bukan sekadar janji atau retorika.
Dalam konteks ini, konsep “Design Thinking” yang berpusat pada manusia (human-centered) menjadi pedoman yang kuat.
Pendekatan ini mendorong organisasi dapat memahami masalah dari perspektif pengguna atau masyarakat, berempati dengan pengalaman mereka, dan merancang solusi yang benar-benar menjawab akar permasalahan.
Organisasi tidak hanya berfungsi sebagai penyedia, tetapi juga sebagai fasilitator dan mitra dalam mengatasi tantangan bersama.
Mendekatkan organisasi pada masyarakat adalah sebuah perjalanan berkelanjutan, bukan tujuan akhir.
Ini menuntut komitmen, adaptasi, dan kesediaan untuk terus mendengarkan.
Dengan merangkul relevansi, menjunjung tinggi etos keilmuan, dan responsif terhadap masalah, organisasi tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang dan menjadi pilar penting dalam kemajuan sosial.
Lantas, sudah sejauh mana organisasi kita memahami dan memanifestasikan ketiga pilar ini?*
