Seorang anak kecil melihat temannya memegang HP dan membuka aplikasi game, seketika ia jadi tahu bahwa HP memiliki aplikasi game. Selanjutnya ia akan menyimpan kenangan itu. Besok setiap memegang HP dia akan membuka game. Begitu yang ia lakukan terus menerus. Akhirnya anak mendapatkan apa yang ia suka dari HP, ia selalu membukanya. Bagaimana kalau anak kecil itu membuka buku?
Fenomena yang sama juga berlaku pada orang dewasa. Semakin seseorang kerap membuka sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi bagian dari pikirannya. Lama-kelamaan membentuk habit, kemudian karakter.
Baca Juga: Pastikan Arah Hidup
Bahkan kini hal ini sudah menjadi pemandangan biasa. Sampai-sampai berakibat pada pola hidup yang kurang sehat. Banyak pakar kesehatan memberikan saran bahwa jika ingin cara hidup sehat pada era digital ini adalah jangan terlalu sering membuka HP. Kalau perlu, utamanya pada malam hari matikan ponsel, laptop, tablet, dan gadget.
Kini, semakin orang tidak bisa meninggalkan handphone semakin tinggi tingkat kecanduan dan ini ketidakwajaran. Fakta ini telah mendunia, penelitian yang Universitas Chicago lakukan menunjukan bahwa, kecanduan media sosial bisa lebih kuat daripada kecanduan rokok dan minuman beralkohol.
Buku
Jika ada yang sering manusia buka dan itu tidak menimbulkan efek negatif, maka hal itu adalah buku. Apalagi kalau buku-buku Islam, mulai dari karya penulis Muslim, ulama hingga buku-buku hadits dan tafsir.
Bisa kita tarik pemahaman, semua orang yang bisa survive dan memberi inspirasi bagi kehidupan adalah orang yang sejak kecil sering membuka buku. Kemudian mendiskusikan dan mengembangkannya menjadi satu praktik tertentu.

Situs ruang guru menuliskan bahwa data Most Littered Nation In the World, studi untuk mencari tahu seberapa tinggi minat baca negara-negara dunia yang Central Connecticut State University (CCSU) lakukan pada Maret 2016 lalu, menempatkan negara kita tercinta ini pada peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Dalam studi tersebut, Indonesia persis berada di bawah Thailand (urutan 59) dan di atas Botswana (61).
Peniliaian itu bersandar pada perpustakaan, peredaran surat kabar, pemerataan pendidikan, dan ketersediaan komputer. Tidak perlu tanya seberapa sering orang Indonesia ke perpustakaan, baca koran saja sudah jarang. Apalagi sekarang, koran sudah mulai hilang daya tariknya. Ini berarti kita bisa analogikan bahwa buku hampir pasti jarang sekali orang yang mau menyentuhnya.
Sekarang tanya saja dalam jiwa apakah dalam sehari ada membaca buku. Atau dalam sepekan, bahkan sebulan?
Manfaat Luas
Membaca buku sepintas tidak mendapatkan apa-apa, malah harus keluar uang untuk membelinya. Tapi, penting dicatat, tidak satu pun manusia yang bisa tampil sebagai sosok yang bisa memberi manfaat melainkan yang gemar membaca buku.
Era digital sejatinya adalah ladang luas bagi orang yang punya gagasan untuk mengisi ruang maya itu dengan beragam ulasan dan pendapat. Tetapi, ketika masyarakat tidak siap, maka kebanyakan akan nyaman menjadi konsumsi gagasan dari orang lain. Akibatnya, kesempatan untuk semakin mengasah kecerdasan berlalu begitu saja.
Nah, satu langkah untuk menjadi cerdas dan bermanfaat itu adalah dengan membaca buku. Membaca buku secara medis memberikan efek positif, seperti meningkatkan daya ingat, meningkatkan kemampuan konsentrasi, menurunkan resiko stres dan depresi, dan meningkatkan kemampuan komunikasi. Dan, tentu saja juga mengasah ketajaman berpikir.
Baca juga: Lulus Ujian dari Penjara
Sebenarnya sederhana, mengapa orang menjadi cerdas dan menarik saat bicara, itu tidak lain karena ia lebih sering membuka buku daripada yang lainnya. Orang yang membaca lebih siap untuk diskusi, lebih terampil menganalisa data dan tentu saja lebih tajam dalam melihat fakta.
Jika membaca buku saja sedemikian banyak manfaat diperloleh, lantas bagaimana kalau membaca Alquran yang disertai oleh penghayatan berupa pendalaman dengan membaca tafsir dan aktif melakukan pemaknaan? Bukankah ayat pertama Alquran bicara tentang perintah membaca, membaca dengan nama Tuhanmu!
Mas Imam Nawawi_Ketua Umum Pemuda Hidayatullah


