Kalau hari ini, kita melihat ada orang selalu bisa berkelit, pandai mengecoh, serta tak tersentuh oleh keadilan, kelak dia akan membacanya. Ya, membaca catatan amalannya sendiri.
Pertanyaannya, siapa yang mencatat amal perbuatan manusia?
“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Qamar: 52-53).
Kalau ayat itu kita baca secara biasa, tak ada yang perlu kita lakukan. Namun, kalau kita baca dengan kesungguhan hingga tergerak akal dan hati memikirkannya, maka akan ada respon memadai dari dalam jiwa seseorang.
Ayat itu mengatakan bahwa akan ada hari yang mana tak satupun orang bisa lolos dari perbuatan jahatnya. Semua telah direkam ada buktinya. Bahkan itu akan dibaca langsung oleh sang pelaku amalan.
Jika seseorang masih punya nurani, hatinya tentu akan gemetar dan jiwanya tersadar. Bahwa tak ada keselamatan bagi siapapun yang melakukan keburukan, kejahatan dan kezaliman. Sebagaimana tak akan ada orang yang panen sedangkan dia tidak menanam.
Beramal
Langkah yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana tekun beramal.
“Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul -Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu”. (QS. At-Taubah: 105).
Terkadang kita lupa pada fokus beramal ini. Melihat ada orang lain berbuat buruk, kita tergoda memberikan komentar. Padahal seharusnya kita fokus beramal. Kecuali kita adalah orang yang punya kewenangan untuk mengendalikan perilakunya.
Seseorang menemuiku dan mengatakan si A telah berbuat buruk kepada dirinya dengan bersikap ini dan itu. Saya katakan, mari berfokus pada amal. Apa yang jadi tugas kita, kerjakan sebaik mungkin.
Soal sikap orang, perkataan orang kepada kita, sejauh tidak baik dan tidak memberi semangat pada kebaikan, abaikan dan lupakan.
Artinya, bangun kesadaran. Melalui kesadaran orang bisa melakukan refleksi dan mengubah haluan hidup. Tak semua amalan harus kita lakukan. Tapi apa yang bisa kita kerjakan secara konsisten dan itu kebaikan, pertahankan sampai kapanpun juga.
Membaca dengan Bahagia
Mungkin orang sekarang masih lupa bahwa akan ada kenyataan hidup setelah dunia.
“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (QS. Al-Isra: 71).
Dalam kata yang lain kita butuh untuk punya catatan dari Allah. Yang semoga kelak Allah berikan kepada kita melalui tangan kanan kita. Jika itu terjadi, maka kita adalah orang yang membaca catatan amal sendiri dengan hati yang bahagia.
Bagaimana supaya itu menjadi kenyataan? Kita butuh untuk terus berada pada jalan yang lurus. Fokus beramal dan jauhi segala khayal. Termasuk berkhayal yang bisa membahagiakan kita adalah segala kenikmatan material.*


