Mas Imam Nawawi

- Kisah

Membaca, Berpikir dan Beraksi

Tiga kata itu: membaca, berpikir dan beraksi, merupakan hasil perjalanan saya dari Jakarta ke Surabaya (25 – 29 November 2025). Setiap orang tahu apa itu membaca. Namun selain tidak setiap orang melakukannya, yang mengamalkan pun belum sampai ke tahap lanjutan, bagaimana mengikat bacaannya dalam satu konstruksi makna yang mendorong akal berpikir lebih dalam. Alhasil, tak […]

Membaca, Berpikir dan Beraksi

Tiga kata itu: membaca, berpikir dan beraksi, merupakan hasil perjalanan saya dari Jakarta ke Surabaya (25 – 29 November 2025).

Setiap orang tahu apa itu membaca. Namun selain tidak setiap orang melakukannya, yang mengamalkan pun belum sampai ke tahap lanjutan, bagaimana mengikat bacaannya dalam satu konstruksi makna yang mendorong akal berpikir lebih dalam. Alhasil, tak ada aksi yang benar-benar memberi dampak kemajuan berharga dalam hidup seseorang.

Cara Membaca

Sebagai Muslim tugas yang harus terus melekat dalam keseharian kita adalah membaca. Pertanyaannya bagaimana cara membaca yang tepat?

Saya selalu menghubungkan antara teori, realita dan aksi. Dalam buku “The 12 Week Year” saya menemukan ungkapan ringan namun dalam. Bahwa 1 ons aksi lebih baik daripada 1 ton teori. Ini menandakan bahwa membaca yang baik adalah yang menghasilkan tindakan alias aksi.

Sebagai contoh, kalau saya membaca ayat “Bersama kesulitan ada kemudahan” maka saya beraksi dengan mengarahkan pikiran pada semangat progresif. Realitas kesulitan yang ada tak boleh menjadi legitimasi saya berpikir negatif, memadamkan semangat, apalagi memilih jalan yang salah.

Begitu pun kalau saya membaca buku tentan pentingnya rencana, maka saya coba menerapkan dengan terus membuat rencana, meski untuk hal yang sederhana. Misalnya besok di mobil, saya akan membaca buku atau tidak. Rencana membuat saya mantap membawa buku dan akhirnya membaca buku dalam perjalanan.

Hasilnya saya menambah beberapa pengetahuan. Yang mana pengetahuan itu tak saya hentikan sebagai bahan “riwayat” tetapi amunisi untuk lebih senang membaca dan membuat konsep-konsep rencana untuk aksi selanjutnya.

Saatnya Beraksi

Nah, setelah itu semua, maka tiba saatnya untuk beraksi. Namun, aksi tidak selalu identik dengan film action. Aksi ini juga punya ranah yang luas, mulai dari pemikiran hingga tindakan langsung secara empiris.

Ketika seseorang menyusun perencanaan, sebenarnya ia sedang melakukan aksi dari cara berpikir yang berpadu dengan pengetahuan untuk sebuah skema tindakan. Oleh karena itu orang yang aksinya bagus adalah yang rencananya memang matang dan ia komitmen dengan rencananya.

Dengan demikian, mari isi 24 jam kehidupan ini dengan tiga aktivitas penting itu. Membaca, berpikir dan beraksi. Kita tentu ingat bukan bahwa Islam mendorong kita untuk terus meneguhkan iman dan menguatkan amal saleh. Itulah aksi kebaikan.*

Mas Imam Nawawi