Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Memahami Diri sebagai Manusia

Sekalipun manusia itu tahu eksistensinya sebagai manusia, masih banyak yang belum menyadari dirinya sebagai manusia. Karena itu tetaplah penting upaya memahami diri sebagai manusia. Dalam pandangan empiris, manusia itu jasadiyah; butuh makan, minum dan tempat tinggal. Ini tidak ada ruang untuk beda pandangan. Tetapi manusia bukan sebatas empiris, ia punya dimensi inti, yakni batin. Seperti […]

Memahami diri sebagai manusia

Sekalipun manusia itu tahu eksistensinya sebagai manusia, masih banyak yang belum menyadari dirinya sebagai manusia. Karena itu tetaplah penting upaya memahami diri sebagai manusia.

Dalam pandangan empiris, manusia itu jasadiyah; butuh makan, minum dan tempat tinggal. Ini tidak ada ruang untuk beda pandangan.

Tetapi manusia bukan sebatas empiris, ia punya dimensi inti, yakni batin. Seperti jasad juga butuh makan, minum dan tinggal dalam kenyamanan batin. Dari sini banyak manusia tidak memahami.

Baca Juga: Ini Syarat Negeri Makmur

Jadi, manusia bukan sebatas fisik tetapi juga batin. Orang yang memahami diri sebatas fisik, maka ia akan berorientasi hidup tentang bagaimana makan enak, minum nikmat dan tinggal di tempat mewah.

Bagaimana cara memeroleh itu semua, hukum halal-haram tidak akan ia pahami apalagi dijalankan. Kenapa, orientasinya jelas, hanya jasad belaka.

Terhadap orang yang memahami hidup sebatas jasadnya, KH. Abdullah Said menyebut mereka sebagai kelompok orang yang haus dan lapar ruhaninya. Indikasinya jelas, mereka akan melakukan apa saja tanpa kenal etika, moral apalagi akhlak.

Luas dan Utuh

Ketika manusia sadar diri tak sebatas jasad, tetapi juga ruhiyah, maka ia akan punya pandangan yang luas dan utuh.

Schopenhauer dalam buku Kearifan Hidup menuliskan bahwa setiap individu akan terkungkung oleh batasan-batasan pendapatnya sendiri. Yang tentu saja itu terbentuk oleh pemahaman terhadap pribadinya sendiri sebagai manusia.

Ketika orang yang seperti itu tidak membuka diri untuk melihat lebih luas dan utuh, maka segenap sinyal kebesaran Tuhan dan aspirasi nurani terdalam akan dia tenggelamkan.

Bahasa Schopenhauer orang yang seperti itu tidak akan mampu melihat kebenaran di luar dirinya. “Jadi bantuan dari luar tidak banyak guna baginya.”

Jadi, dari sini kita bisa menemukan sistem penjelas paten. Mengapa orang yang ada dalam negara maju, sudah populer, kaya dan jadi kegemaran banyak orang ada yang memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Pandangannya terhadap manusia, kehidupan dan yang lebih inti, seperti Tuhan, tidak pernah masuk dalam kesadaran, sehingga ketika ia merasa bertemu badai, lalu tak ada tanda jalan keluar, ia pun putus asa.

Keputusasaan itu datang saat banyak orang mengidolakan dan menginginkan kehidupan sepertinya. Tetapi, apapun, fakta telah tersaji, bahwa manusia memang tidak bisa survive apalagi bahagia hanya dengan cara mengisi kehidupan tentang bagaimana makan, minum dan tidur enak.

Hamba Allah

Oleh karena itu penting setiap jiwa memahami bahwa sebagai manusia kita butuh Tuhan. Bukan karena Tuhan itu bisa orang ilusikan, tetapi karena memang demikian faktanya. Manusia tidak mungkin hadir tanpa ada yang menghendaki hadir, siapa itu, kalau bukan Tuhan, yakni Allah Ta’ala.

Jadi kita harus menyadari bahwa akal, pikiran, dan naluri dalam mengisi hidup ini semua adalah anugerah dari Allah Ta’ala.

Baca Lagi: Kekuasaan itu Amanah

Dengan memfungsikan itu semua dengan baik atas bimbingan wahyu, maka manusia tidak akan tenggelam di dalam kompetisi semu di dunia. Sebab sebenarnya hati manusia juga sangat butuh terpenuhi kebutuhan pokoknya, dengan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai spiritual.

Sebagaimana Rasulullah SAW pernah hidup, seperti itulah kita harus mengisi kehidupan ini. Tidak mungkin akan sama kualitasnya dengan Nabi, tetapi setidaknya kita satu jalur. Pelan atau cepat tidak soal, yang penting pasti, hidup bahagia dan membahagiakan, baik dunia maupun akhirat.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *