Home Kisah Masuk Pondok Jadi Senang Baca Buku
Masuk Pondok Jadi Senang Baca Buku

Masuk Pondok Jadi Senang Baca Buku

by Imam Nawawi

Saya mulai tertarik membaca buku ketika masuk ke pondok. Ya, begitulah, masuk pondok saya jadi senang baca buku.

Awalnya karena ada salah satu teman saya yang memberi nasihat kepadaku.

Ia berkata, “Tan, baca buku itu bisa ngelatih kita buat menulis. Lihat aja nih tulisan ana jadi bagus gara gara baca buku. Anti kalau mau tulisannya bagus baca buku aja.”

Baca Juga: Kekuatan Besar dalam Silaturrahmi

Saat dia menyampaikan hal itu, rasa tertarik kepada buku mulai timbul.

Buku yang pertama saya baca di pondok, yang membuat saya kagum adalah buku ‘Tentang Kamu’ Karya Tere Liye.

Buku itu bercerita tentang Zaman Zulkarnaen, seorang pemuda yang bekerja di perusahaan Thompson & Co. Ia mencari ahli waris dari seorang wanita yang bernama Sri Ningsih.

Kisah Menarik

Sri Ningsih sebagai tokoh dalam kisah itu memiliki kisah sangat menarik.

Sifat sabar Sri Ningsih terutama. Ia masih menyayangi ibu tirinya yang selalu memperlakukannya dengan buruk, terutama semenjak sang ayah meninggalkan dunia.

Dia sabar menghadapi omelan ibu tirinya itu. Meski begitu, Sri Ningsih masih menyayangi sang ibu tiri sepenuh hati. Benar-benar sabar luar biasa.

Kesabaran itu menjadikan Sri Ningsih dapat memeluk erat semuanya. Memeluk semua yang telah terjadi dalam hidupnya, suka duka, pahit manis, tangis tawa, dan lain sebagainya.

Singkat cerita, Sri Ningsih mulai menjalani kehidupan barunya di pondok pesantren. Hingga saat dia selesai bersekolah, dia mengajar di pondok itu.

Sampailah suatu saat, dia pergi ke Jakarta. Mulai mencari pekerjaan. Sudah banyak yang Sri Ningsih lakukakan hingga akhirnya ia berada di puncak kejayaannya, yaitu memiliki perusahaan.

Seiring berjalannya waktu, Sri menjual perusahaanya, tetapi ia tetap mendapat 1% saham. Ternyata saham itu bernilai Rp. 19 triliun. Uang itulah yang kemudian jadi perjuangan Zaman untuk menemukan, siapa ahli warisnya.

Asma Nadia

Buku yang saya baca selanjutnya adalah, ‘Rumah Tanpa Jendela’, karya Asma Nadia.

Baca Lagi: Sejarah Tulisan

Dari buku itu, saya dapat memahami bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Seorang anak kecil yang bernama Rara. Dia selalu berdoa meminta pertolongan tanpa henti kepada Tuhan. Dia tidak pernah berperasangka buruk kepada Tuhan. Hingga ketika dia berada di titik terendah, Tuhan menolongnya.

Jadi intinya adalah, membaca buku itu penting. Apa lagi di saat umur muda seperti saya.

Karena dari membaca buku dapat membangun karakter. Apa yang kita baca, itulah kita. Selamat berjuang menjadi generasi yang mengamalkan perintah Allah yang pertama, membaca. Iqra’, ya, Iqra bismirabbik.*

Intan Ilmia (Santri Putri SMP Integral Hidayatullah Depok)

Related Posts

Leave a Comment