Home Artikel Masihkah Ada yang Mau Jadi Orang Kaya Hati?
Masihkah Ada yang Mau Jadi Orang Kaya Hati?

Masihkah Ada yang Mau Jadi Orang Kaya Hati?

by Imam Nawawi

Kata kaya, dari zaman dulu sampai sekarang, selalu identik dengan akumulasi harta dalam jumlah jumbo, bahkan super jumbo. Namun, ada juga istilah kaya hati. Tetapi, apakah ada orang yang mau jadi kaya hati?

Kaya hati merujuk pada sifat-sifat batin yang baik dalam pandangan Tuhan. Kekayaan hati tak seperti kekayaan harta yang bisa diukur.

Meski begitu dalam fakta dan sejarah, orang-orang yang kaya hati adalah sosok yang sangat bernilai dalam kebaikan kehidupan umat manusia. Pertanyaannya mengapa begitu?

Sehat

Orang yang kaya hati, kondisi jiwa dan pikirannya terjamin sehat.

Ia tak perlu korupsi untuk kaya. Begitupun ia tak butuh sanjungan manusia dalam melakukan kebaikan. Hatinya hanya ingin sesuai dengan perintah Tuhan.

Oleh karena itu orang yang kaya hati tak pernah kekurangan stok empati dalam hidupnya.

Baca Juga: Maukah Pemerintah Jadikan Pribumi Hidup Kaya?

Ia selalu mampu merasakan dan memahami perasaan, derita, pengalaman dan pandangan orang lain.

Akibatnya ia mampu bergaul dengan siapapun dengan akhlak yang baik.

Kesadaran

Orang yang kaya hati juga punya level kesadaran tinggi dalam memahami diri.

Buah dari hal itu ia tak butuh apresiasi orang atau terganggu oleh cemoohan orang lain.

Hal itu karena ia memahami dirinya dengan baik, apa kelemahan dan kelebihannya. Plus ia sadar bagaimana mesti merespon orang-orang di sekelilingnya secara tepat dan bijaksana.

Anti Keluhan

Orang yang kaya hati akan selamat hidupnya karena ia punya “radar” anti keluhan.

Jangan salah, keluhan bukan hanya milik orang biasa secara ekonomi. Keluhan bisa muncul dari lisan kepala desa hingga kepala negara.

Coba cek baik-baik, mengapa orang yang korupsi itu bukan orang miskin? Karena yang kaya harta miskin hati.

Baca Lagi: Bekal untuk Tak Berhenti Belajar

Hidupnya hanya menimbun aura cemas, takut, dan berpikir curang. Akibatnya biar uangnya banyak, ia tak pernah puas.

Sedangkan orang yang kaya hati, ia tahu uang perlu, harta penting, namun ia sadar bahwa bersyukur jauh lebih utama daripada rakus karena kebodohan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment