Home Artikel Masalah Bukan Bencana, Tersenyumlah!
Masalah Bukan Bencana, Tersenyumlah!

Masalah Bukan Bencana, Tersenyumlah!

by Imam Nawawi

Setiap kita mungkin pernah bertemu seseorang. Seseorang itu kemudian menuturkan masalah yang sedang atau telah dan tengah dialaminya. Ia mengalami sakit hati, ia kecewa dan ia tak punya daya menatap ke depan. Ia telah memandang masalah laksana bencana. Walau sebenarnya masalah bukanlah bencana. Jadi, tersenyumlah!

Kita tidak akan mengenal sosok Nabi Muhammad SAW sebagai insan paripurna tanpa masalah yang berhasil beliau SAW atasi.

Bangsa ini juga tidak akan mengenal Soekarno jika ia tidak bisa menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia.

Indonesia tidak akan punya narasi “Indonesia Emas” jika tidak menghadapi masalah demi masalah yang seakan menutup pintu harapan akan masa depan. Terutama kalau ingat pemimpin yang bermasalah, mulai dari mental hingga moral.

Bahkan, kita pun tidak akan menjadi apa-apa jika hanya bisa mengeluh lalu lari dari masalah dengan berbagai dalih, walau terkesan sangat ilmiah. Masalah bukan bencana. Masalah adalah jembatan meraih berkah.

Aang

Kaum muda pasti mengenal siapa sosok Aang itu. Anak berusia 12 tahun yang sedang senang bermain tapi harus menyadari tantangan berat berupa masalah kedamaian masyarakat.

Baca Juga: Bersemangatlah dalam Berkarya

Ia pun harus menjadi dewasa dengan sikap mental kudu segera berlatih dan menimba ilmu untuk menghadapi ancaman dari keserakahan kerajaan api. Ini memang fiksi dalam film, tapi substansinya bisa kita tangkap dan kembangkan.

Bahwa jika ada masalah, lihatlah peluang yang bisa menghadapinya. Jika peluang itu ada pada seorang anak, maka didiklah anak itu, persiapkan dan sadarkan.

Dan, bukankah dalam banyak organisasi pergerakan, kader selalu menjadi nadi keberlanjutan yang harus terus diperhatikan. Kader itu tidak lain adalah anak atau anak muda.

Film itu mengingatkan kita, bahwa perjalanan waktu, membuat manusia harus sadar akan usia, kekuatan fisik dan kapasitas dalam menghadapi masalah yang terus datang.

Orang mulai paham dengan ungkapan, “Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya.”

Jangan sok segalanya, sehingga lengah dalam melihat peluang solusi dalam menghadapi masalah.

Sikap bijak kaum tua adalah mendidik anak-anak, membina kaum muda untuk sadar masalah dan mau bertanggung jawab.

Sejarah telah mencatat, orang yang akan berguna adalah yang mau menghadapi masalah dengan ikhlas. Dan, siapa yang hidup hanya untuk kesenangan dirinya, ia telah kehilangan sisi kemanusiaanya. Ia hanya bertubuh manusia dengan karakter kelas hewan: yang tahunya senang-senang dan makan.

Tangguh

Sekarang mari tarik ke dalam nafas kehidupan kita sehari-hari. Sejak bangun tidur sampsai mau tidur, kita selalu berhadapan dengan masalah.

Baca Lagi: Sistem Berpikir Jadi Eror Karena Candu Judi Online

Tapi tenang saja, bukankah orang-orang yang kuliah itu: S1 sampai S3, harus menentukan rumusan masalah dalam setiap upaya menulis tugas akhir?

Ronaldo dalam sebuah video reels di IG bertutur, bahwa semua cara bagaimana ia menjadi pemain bola hebat telah dibagikan. Pertanyaannya, kata Ronaldo, apakah ada dari orang yang melihat mau membangun konsistensi menjadi pemain hebat?

“Saya selalu menantang diri saya konsisten. Apakah ada orang yang mau pergi berolahraga, ke gym, setiap hari. Itu bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tetapi saya melawan semua kemalasan dan melakukan itu setiap hari. Kuncinya tantang diri kita untuk konsisten,” katanya.

Terakhir saya ingat ungkapan Uceng. Sapaan akrab untuk pakar hukum tata negara dari UGM, Zainal Arifin Mochtar. Bahwa kapal diciptakan bukan untuk diam di dermaga, walau indah dengan terpaan sinar keemasan mentari. Kapal dihadirkan untuk menghadapi badai, memecah gelombang.

Dalam kata lain, kalau kita ingin merasakan kebahagiaan dan kemenangan, maka ambil masalah, hadapi, selesaikan. Seperti dahulu Ustadz Chofadz sering mengatakan kepada kami para muridnya, kalau kita telah membuat program maka milikilah mental untuk selalu bekerja dengan prinsip; fokus, tuntas, dan bermartabat.

Seperti tantangan anak-anak muda yang ingin bisa menulis. Masalah utama yang mereka hadapi bukan soal memulai, tetapi mampukah mereka menyudahi dengan penuh perjuangan, sehingga hadir energi yang tak pernah mati. Energi untuk maju terus dalam kebaikan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment