• Home  
  • Manusia, Siapa Sesungguhnya?
- Opini

Manusia, Siapa Sesungguhnya?

Apakah ada dari teman-teman yang bertanya, “Siapa sebenarnya manusia itu”. Kalau kita rujuk pemikiran para filosof, manusia itu hewan. Tinggal nanti kemana ia melangkah. Kalau ke ekonomi maka dia hewan ekonomi. Ke politik berarti dia hewan politik dan begitu seterusnya. Tapi apakah benar seperti itu? Dua Kondisi Manusia Manusia adalah makhluk yang secara empiris punya […]

Manusia, Siapa Sesungguhnya?

Apakah ada dari teman-teman yang bertanya, “Siapa sebenarnya manusia itu”.

Kalau kita rujuk pemikiran para filosof, manusia itu hewan. Tinggal nanti kemana ia melangkah. Kalau ke ekonomi maka dia hewan ekonomi. Ke politik berarti dia hewan politik dan begitu seterusnya.

Tapi apakah benar seperti itu?

Dua Kondisi Manusia

Manusia adalah makhluk yang secara empiris punya dua kondisi. Pertama, manusia itu berubah dalam hal teknologi. Kedua, manusia itu tetap dalam hal watak.

Saya sampai pada kesimpulan itu usai membaca buku “A New Stage Civilization Striving for The Great Harmony” karya Guru Besar Sekolah Ekonomi dari Universitas Minzu, China.

Ia mengatakan bahwa dari sejak 7000 tahun lalu, bahkan jauh sebelum itu manusia itu sering masuk dalam tiga kondisi. Pertama saling membenci, mudah konflik dan sangat senang berebut tentang yang namanya kekayaan.

Kata Cao, kalau manusia membenci orang lain, maka memang potensi membenci itu ada. Kerapkali kebencian itu memicu terjadinya berbagai hal yang destruktif.

Kata Jean Paul Sartre, orang bisa benci kepada orang lain karena munculnya rasa takut, sadar akan ada ancaman yang seringkali karena subjektivitas semata.

Sedangkan Freud memahami orang bisa membenci oran g lain karena adanya ego dalam dirinya. Alhasil peradaban manusia tidak pernah sepi dari babak tentang peperangan.

Dalam kata yang lain, kalau Trump nanti memang melangsungkan niatnya melakukan konflik militer, maka watak manusia yang tak berubah itu benar-benar sangat kuat.

Nilai Islam

Oleh karena itu kalau menyadari manusia berdasarkan dua kondisi itu, maka penting kita memahami Al-Qur’an. Ia merupakan jalan terbaik untuk manusia tidak terjebak oleh watak yang buruk

Islam tidak memandang benci itu identik buruk. Kalau orang benci maksiat, itu bagus. Jika orang benci perang, itu juga bagus.

Namun, kalau orang benci Al-Qur’an, masalahnya pada akal manusia itu sendiri yang telah kehilangan kecerdasan prinspi dalam hidupnya.

Jadi, kalau kita hubungkan dengan ayat bahwa manusia itu Allah ciptakan dari segumpal darah, maka kita tahu, yang namanya darah memang butuh konsumsi. Namun demikian secara etis, manusia manapun paham, jangan mudah menjadi naik darah dalam menghadapi kehidupan dunia ini.

Lebih jauh ayat itu mengingatkan kita, bahwa tak perlu ada benci, takut dan takut kehilangan kekayaan dalam urusan dunia. Karena manusia itu telah Allah ciptakan dari segumpal darah menjadi makhluk yang luar biasa.

SBY selaku presiden RI ke-6 telah memberikan prediksi bahwa akan ada 5 milyar manusia terdampak perang kalau AS jadi main militer. Jika tidak ada pihak yang mau berupaya mencegah, maka tidak menutup kemungkinan ada pemimpin negara besar yang naik darah gara-gara cemas, kalau sampai dunia berada dalam satu warna kekuasaan belaka.

Darah yang merupakan basis penciptaan manusia kata Ust. Abdullah Said bermakna bahwa kita tak perlu takut kecuali kepada Allah. Karena manusia itu tidak tahu dan Allah SWT Yang Maha Mengetahui.*

Mas Imam Nawawi